Logo JawaPos
Author avatar - Image
09 Juni 2025, 03.16 WIB

Sapi Sebesar Gajah

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Nyapnyup mendadak populer setelah bocah lima tahun itu sukses membongkar keberadaan kawanan pembegal yang sering beraksi di jalan utama yang menghubungkan Lubuklinggau-Curup.

KISAH berawal ketika Mar­pi­se­lo­pah mem­ba­wa putranya ke kantor polisi dan tak ada yang memercayai mereka hanya karena pe­rem­puan tiga puluh tahun itu menjadikan igauan anaknya tentang keberadaan para pembunuh suaminya itu se­bagai dasar laporan. Ibu-anak itu disuruh pulang. Yang lebih menyakitkan lagi adalah, polisi mengimbuhi ”pengusiran itu” dengan kata-kata, ”Bujuklah putranya agar mengikhlaskan kepergian ayahnya, Bu. Jangan malah terus Ibu ingatkan dia dengan pembegalan yang ia saksikan itu. Begini jadinya. Kasihan dia sampai terus terbawa tidur.”

Ketua pengajian ibu-ibu mas­jid kompleks itu mau me­ledak. Tapi, ingatannya tentang omongan orang-orang yang bilang percuma lapor polisi! tiba-tiba mengiang dan seka­rang ia menyesal sudah mengabaikan mereka.

Sampai kemudian Suklikulisu dan istrinya memenuhi un­dang­an membaca Yasin di hari ketujuh berpulangnya ayah Nyapnyup –yang tak lain tak bukan adalah imam rutin salat Magrib di masjid kompleks. Melihat kesedihan yang masih bergelayut di wajah tetangga­nya, Nyonya Suk yang juga anggota di pengajiannya pun menawarkan diri menjadi tempat bercerita.

”Papa bisa ke belakang seben­tar?” kata Nyonya Suk, sekeluar dari ruang tengah tempat ibu-ibu berkumpul, beberapa saat setelah yasinan selesai.

”Kalau bukan karena ayahnya Nyapnyup yang jadi korban, aku takkan nelangsa begini, Pak Suk,” Marpiselopah lang­sung mengadu. ”Aku sungguh meragukan kerja polisi yang, hingga hari ketujuh kematian suamiku, tak kunjung memberi tahu kami perkembangan pe­nangkapan kawanan begal itu.”

”Polisi memang nggak bisa diandalkan,” timpal Nyonya Suk.

Suklikulisu melirik istrinya. Ia tak menyangka perempuan yang dikenal kalem itu berani mengatakan itu, meskipun kemudian ingatannya berlabuh pada trauma perempuan itu terhadap aparat berpistol. ”Aku bisa lupa diri kalau mendengar kata polisi, Kak,” katanya tiga belas tahun lalu, beberapa hari sebelum mereka menikah. ”Mamaku depresi setelah adikku tidak lulus pantohir bintara, padahal ia sudah men­jual satu-satunya kebun karet yang jadi andalan kami buat makan sejak ayah meninggal demi menyetor ratusan juta kepada oknum yang katanya berpengaruh dalam lingkaran tes itu,” kata-katanya mengan­dung api dan pisau.

Tentu saja penulis tak perlu meminta gadis itu bercerita lebih jauh sebab berita ke­ma­tian adik dari gadis ber­na­ma Rubilahrubi karena gantung diri mengisi halaman utama koran lokal dan regional hingga lebih dari satu pekan. Meskipun begitu, ia ingat, ke­gagalannya dalam tes bin­tara tak pernah mengemuka sebagai sebab tragedi itu.

”Kalian tentu tahu, bukan, bagaimana keluarga kami? Bagaimana kami hidup? Bagai­mana kami memandang aga­ma sebagai prioritas? Ba­gai­mana Nyap­nyup, Ramadan kemarin, juara membaca surah Annaba meskipun anak lima tahun itu belum bisa membaca?”

”Tidakkah me­mercayai hal-hal di luar norma aga­ma ada­lah …” Suklikulisu ragu.

”Aku mengerti maksud­mu, Suk,” Marpiselopah menyeka matanya yang mulai berair. ”Ta­pi, ini adalah gaib. Percaya pada yang gaib adalah sesuatu yang harus ada dalam diri se­orang muslim yang baik, bukan?”

Masalahnya, batin Sukli­ku­lisu, aku bukan muslim yang baik itu, Mar. Aku hanya orang biasa. Salat karena kewajiban. Ngaji nggak rutin. Dan masih suka berprasangka buruk, boros, dan sesekali congkak ka­lau royalti dari rumah pro­duksi yang memfilmkan novel-novelku cair sehingga kami bisa pelesiran atau … berkurban sapi babon seperti tahun ini.

”Paling tidak,” Marpiselopah mulai habis akal, ”temanilah kami ke Marilang, desa di Cu­rup yang sering Nyapnyup sebut dalam igauannya.”

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore