Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 22 Desember 2024 | 19.27 WIB

Selama Ibu Masih Bersenandung

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Ibu mengusap pelipismu lembut, mulutnya terus bersenandung. Jadwal tidur siangmu tak boleh terlewatkan. Kau tak kuasa menahan kantuk. Suara ramai di luar makin sayup-sayup kau dengar. Dalam sesaat, pejam matamu kian gelap.

**

Ibu mengajakmu pergi menemui Bapak yang sudah lama tak ditemui. Di sampingmu, Ibu duduk memegangi nisan kayu bertulisan nama Bapak. Tempat ini sunyi dan dingin, tapi kau mengenalinya –tempat di mana Bapak tertidur dan tak pernah bangun lagi.

”Kami baik-baik saja, Pak. Kami bertahan meskipun sulit,” suara Ibu pelan dan berat. Tangannya mengusap nisan dengan kelembutan yang sama seperti ketika ia mengusap pipimu. ’’Anakmu pintar, Pak. Usianya dua tahun kini. Dia sudah pandai berlari, banyak mengoceh, dan bernyanyi.”

Kau hanya bisa memandangi Ibu yang terus berbicara.

”Aku rindu, Pak,” suaranya sesak, sudut matanya basah. ”Andai kamu masih ada, melindungi kami...” Pada kata melindungi, suaranya patah. Air matanya jatuh satu-satu.

’’Aku takut, Pak,” ucap Ibu. Pandangannya beralih padamu. ’’Aku takut tak bisa menjaganya. Dunia ini terlalu keras untuknya.”

Wajahnya dipenuhi kekhawatiran. ’’Sungguh aku sangat takut menghadapi hari ini.” Lalu, tangisnya pecah. Ia terisak. Kau tak pernah melihat Ibu menangis seperti itu.

’’Pak, apa boleh aku menyerah?” bisiknya, menusuk keheningan. Kau ingin mendekat memeluk Ibu, tapi tubuhmu terasa beku. Tangis Ibu menggema, membelah ruang mimpi menjadi serpihan kecil.

Tiba-tiba, cahaya putih menarik paksa tubuhmu. Kau tersentak bangun, tubuh kecilmu berkeringat. Begitu membuka mata, suara senandung Ibu masih terdengar lirih, hampir tenggelam di antara keriuhan.

Kau teringat mimpimu, lalu jemarimu berusaha meraih pipinya yang ternyata basah. Mata sembapnya menatapmu, seperti sedang mengunci semua ketakutan jauh di dalam dirinya.

’’DARRR!” bunyi ledakan mendadak menggetarkan dinding. Suaranya meninju udara, terlalu keras, terlalu nyata. Mengacaukan jadwal tidur siangmu.

’’DARRR! DARRR!” Ledakan bertubi-tubi datang, mengguncang tubuh kecilmu. Kau menangis ketakutan. Rasa lapar turut menggerogotimu. Susu di botolmu habis.

’’DARRR! DARRR! DARRR!”

Bunyinya menjalar seperti gelombang, berpadu dengan suara teriakan, derit roda kendaraan, dan benda-benda yang dilemparkan. Tak ada pertunjukan kembang api seperti dugaanmu.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore