
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
Ibu mengusap pelipismu lembut, mulutnya terus bersenandung. Jadwal tidur siangmu tak boleh terlewatkan. Kau tak kuasa menahan kantuk. Suara ramai di luar makin sayup-sayup kau dengar. Dalam sesaat, pejam matamu kian gelap.
**
Ibu mengajakmu pergi menemui Bapak yang sudah lama tak ditemui. Di sampingmu, Ibu duduk memegangi nisan kayu bertulisan nama Bapak. Tempat ini sunyi dan dingin, tapi kau mengenalinya –tempat di mana Bapak tertidur dan tak pernah bangun lagi.
”Kami baik-baik saja, Pak. Kami bertahan meskipun sulit,” suara Ibu pelan dan berat. Tangannya mengusap nisan dengan kelembutan yang sama seperti ketika ia mengusap pipimu. ’’Anakmu pintar, Pak. Usianya dua tahun kini. Dia sudah pandai berlari, banyak mengoceh, dan bernyanyi.”
Kau hanya bisa memandangi Ibu yang terus berbicara.
”Aku rindu, Pak,” suaranya sesak, sudut matanya basah. ”Andai kamu masih ada, melindungi kami...” Pada kata melindungi, suaranya patah. Air matanya jatuh satu-satu.
’’Aku takut, Pak,” ucap Ibu. Pandangannya beralih padamu. ’’Aku takut tak bisa menjaganya. Dunia ini terlalu keras untuknya.”
Wajahnya dipenuhi kekhawatiran. ’’Sungguh aku sangat takut menghadapi hari ini.” Lalu, tangisnya pecah. Ia terisak. Kau tak pernah melihat Ibu menangis seperti itu.
’’Pak, apa boleh aku menyerah?” bisiknya, menusuk keheningan. Kau ingin mendekat memeluk Ibu, tapi tubuhmu terasa beku. Tangis Ibu menggema, membelah ruang mimpi menjadi serpihan kecil.
Tiba-tiba, cahaya putih menarik paksa tubuhmu. Kau tersentak bangun, tubuh kecilmu berkeringat. Begitu membuka mata, suara senandung Ibu masih terdengar lirih, hampir tenggelam di antara keriuhan.
Kau teringat mimpimu, lalu jemarimu berusaha meraih pipinya yang ternyata basah. Mata sembapnya menatapmu, seperti sedang mengunci semua ketakutan jauh di dalam dirinya.
’’DARRR!” bunyi ledakan mendadak menggetarkan dinding. Suaranya meninju udara, terlalu keras, terlalu nyata. Mengacaukan jadwal tidur siangmu.
’’DARRR! DARRR!” Ledakan bertubi-tubi datang, mengguncang tubuh kecilmu. Kau menangis ketakutan. Rasa lapar turut menggerogotimu. Susu di botolmu habis.
’’DARRR! DARRR! DARRR!”
Bunyinya menjalar seperti gelombang, berpadu dengan suara teriakan, derit roda kendaraan, dan benda-benda yang dilemparkan. Tak ada pertunjukan kembang api seperti dugaanmu.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
