Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 2 November 2024 | 18.45 WIB

Mencari Ilmu Nabi

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Ayah Dencor mati jatuh dari pohon enau persis saat Dencor baru bisa merangkak. Ibu Dencor berlari meninggalkan Dencor merangkak-rangkak di halaman begitu mengetahui dari teriakan warga di arah sungai bahwa suaminya telah jatuh dari pohon enau. Sebelumnya, saat ayah Dencor pergi ke sungai memikul sejumlah kekelok, ibu Dencor yang geram ditinggalkan terus setiap hari berteriak penuh amarah, ”Mudahan kamu mati jatuh, remuk kepalamu!” Dan, apa yang ia katakan langsung menjadi kenyataan hanya beberapa saat kemudian.

Dencor tertawa mendengar cerita itu. Ia begitu girang. Cerita itu membuatnya yakin bahwa dirinya memang tak lahir dari perempuan sembarangan. Ia yakin ibunya sakti karena kata-katanya sangat manjur, dan ia yakin kemampuannya mengobati orang-orang sakit yang datang padanya ia terima dari ibunya sendiri. Maka, setelah itu, ia betul-betul bersemangat untuk mencari ilmu Nabi Ibrahim, yang ia percaya berada di suatu tempat dan menunggu kedatangannya.

Ibunya sangat menyesal pada cerita panjang lebarnya malam itu ketika besok paginya dan besoknya lagi Dencor benar-benar tidak dilihat oleh siapa pun di mana pun. Dencor menghilang. Tak seorang pun mengetahui ke mana gerangan ia pergi. Orang-orang bersaksi malam itu mendengar lolongan anjing dan suara langkah kaki. Dencor diyakini berjalan ke selatan, berjalan ke hutan.

Pada malam-malam tertentu, mereka melihat seperti nyala suluh di hutan dan nyala itu berpindah-pindah. Dencor pasti tengah melakukan perjalanan. Gamelan dikerahkan dan dibawa ke arah hutan. Nama Dencor dipanggil-panggil. Anak-anak yang penasaran ikut pula dan nama Dencor yang dilengkingkan oleh mulut mereka terdengar aneh seperti sebuah lelucon. Ibu Dencor ikut pula mencari dan ia menyampaikan kembali kesusahan-kesusahan yang ia alami selama ia mengandung dan melahirkan Dencor. Laki-laki pemabuk yang dibantu Dencor juga ikut melakukan pencarian dan sepanjang jalan ia meratap karena tanpa Dencor ia tidak akan dapat makan gayas lagi.

Memasuki hari ketiga, mereka berhasil menemukan Dencor di tengah hutan, berdiri di bawah sebuah pohon yang sangat besar. Tabuhan gamelan dikeraskan dan teriakan-teriakan juga semakin riuh. Para warga cepat menangkap Dencor yang mereka yakini jika tidak cepat ditangkap Dencor akan dengan mudah terbang, melesat jauh seperti burung.

Dencor diajak pulang, ia melangkah dengan terpincang-pincang, semakin terpincang dibanding sebelumnya. Gamelan tetap ditabuh, kali ini bukan untuk membuat makhluk halus yang memegangi Dencor melepaskan pegangan mereka dan menari—seperti yang mereka yakini—tetapi untuk melepas lelah mereka. Dencor berjalan di tengah, dikerumuni anak-anak. Ia seperti seorang pengantin.

”Ke mana epe pergi?” tanya salah seorang anak padanya.

Dencor melihat anak itu, dan anak-anak di sekitarnya adalah anak-anak yang telah secara kebetulan menceritakan kisah nabi di dekat rumahnya.

”Saya cari ilmu Nabi Ibrahim,” jawab Dencor, jujur.

Para warga merasa yakin Dencor masih setengah linglung karena baru saja berpindah dari dunia jin. Namun, anak-anak tetap menanyai Dencor tanpa peduli larangan para orang tua mereka.

”Epe berhasil temukan?” tanya anak yang lain.

Dencor terdiam sebentar sebelum mengangguk. Dan ia menambahkan, ”Nanti kalau ada kebakaran besar saya buktikan!”

Anak-anak itu menjadi kegirangan. Terang-terangan salah seorang dari mereka bertanya, ”Kapan? Kapan ada kebakaran besar?”

Dencor tidak menjawab, tetapi dari raut wajahnya ia seperti mengharapkan akan ada kebakaran tak lama lagi. (*)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore