Logo JawaPos
Author avatar - Image
13 Juli 2024, 16.30 WIB

Paman Ali Buta

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Oleh: Bayu Pratama

Sopir taksi baru saja bertanya saya hendak diantar ke mana saat istri saya melalui sambungan telepon memberi tahu, di rumah sedang ada Paman Ali. Mendengar informasi itu, hati saya secara otomatis menyarankan agar saya lebih baik tidak pulang. ”Jalan saja dulu,” kata saya kepada sopir taksi.

Istri saya yang mendengar percakapan itu langsung menyahut di sambungan telepon agar saya segera pulang. Karena enggan berbantahan, saya mengiyakan.

Sebagai sesama makhluk hidup, sebenarnyalah saya tidak memiliki masalah apa pun dengan Paman Ali. Namun, sebagai manusia yang memiliki karakternya sendiri, sudah lama saya berkesimpulan bahwa saya lebih baik tidak berada di sekitarnya, dan dia lebih baik tidak ada di sekitar saya.

Paman Ali sebenarnya bukanlah benar-benar keluarga saya ataupun istri saya. Namun, orang tua dari istri sayalah yang memandangnya sebagai seorang alim yang dekat dengan Tuhan dan penuh dengan karamah sehingga keberadaannya di dunia ini seolah-olah jadi lebih istimewa. Begitulah, Paman Ali menjadi guru spiritual keluarga istri saya, dan begitulah juga, saya yang tidak terlalu menikmati kedekatan-kedekatan karena ikatan spiritual seperti itu sering dibuat tidak nyaman dengan sosok Paman Ali yang memang terkadang suka melontarkan petuah-petuah. Belakangan ketidaksukaan yang saya rasakan semakin bertambah setelah Paman Ali mendadak buta dan jatuh miskin. Memang kami sama-sama makhluk hidup, tapi orang buta miskin yang meyakini dirinya suci sungguh bukan sirkel saya.

”Kenapakah Paman Ali jadi buta?” tanya si sopir taksi.

Saya sedikit terkejut sopir taksi itu melontarkan pertanyaan balik. Saya bercerita hanya untuk menyalurkan kegundahan saya tanpa berpikir dia akan tertarik menanggapi, tapi rupanya dugaan saya salah.

”Setelah jatuh miskin, rumahnya pun sepertinya segera menunjukkan gejala-gejala kemiskinan itu. Genting-genting rumahnya retak dan pecah di beberapa tempat, dan salah satunya jatuh menimpa Paman Ali tepat di bagian matanya. Begitulah dia menjadi buta,” ujar saya, memuaskan rasa ingin tahu si sopir taksi.

”Sepertinya saya punya kenalan dengan cerita yang sama. Jangan-jangan Paman Ali yang Mas ceritakan sama dengan kenalan saya...” tanyanya lagi.

”Saya tidak tahu. Lihat saja sendiri nanti kalau kita sudah sampai,” balas saya.

”Kenalan saya itu, pernah ada cerita-cerita soal dia, katanya karena kedekatannya dengan Tuhan dia bisa melayang sedikit di atas tanah. Orang-orang yang hatinya putih bisa melihat itu...”

”Sepertinya orang yang berbeda,” balas saya tanpa pikir panjang. Setelah saya perhatikan, sopir taksi itu mungkin saja seumuran dengan Paman Ali: raut wajah mereka sedikit tidak menyiratkan tahun lahir yang sama.

Baca Juga: Euroforia

Setelah sampai di tujuan, saya menawarkan si sopir taksi melihat bagaimana sosok Paman Ali yang saya ceritakan sepanjang perjalanan, tapi dia kemudian menolak dengan gaya, yang menurut saya, agak berlebihan. ”Saya sungkan,” katanya kepada saya sambil menangkupkan tangan dan sedikit membungkuk-bungkukkan diri, seolah-olah tawaran saya agar dirinya bertemu dan melihat Paman Ali punya makna yang lebih besar dari yang saya maksudkan. Sopir itu pun pamit pergi.

Taksi berlalu. Saya menutup gerbang, kemudian berjalan ke pintu masuk. Saya tidak ingat kapan kali terakhir langkah kaki saya terasa begitu berat untuk masuk ke rumah sendiri: barangkali perasaan ini bakal jadi kenangan yang diam cukup lama, sampai kedatangan Paman Ali selanjutnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore