Logo JawaPos
Author avatar - Image
30 Juni 2024, 20.17 WIB

Euroforia

ILUSTRASI. (BAGUS/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BAGUS/JAWA POS)

Pesta bola Euro 2024 telah bergulir di Jerman sejak 15 Juni lalu. Saya yang sedang merantau di Jerman merasakan betul ”stimmung” atau atmosfer demam bola ini.

DI banyak toko, terutama jejaring toserba Lidl yang menjadi salah satu sponsor resmi, dijual pernak-pernik merchandise Euro 2024 seperti kaus, mug, bendera, dan stiker. Di berbagai tempat keramaian digelar acara nobar lewat layar besar, antara lain di Universitas Heidelberg dan kafe-kafe di pusat kota.

”Di kantor saya para karyawan biasa nonton bola bareng saat jam kerja, apalagi kalau timnas Jerman bermain,” kata Irma, warga Indonesia yang menetap di Heidelberg dan bekerja di SAP, salah satu perusahaan perangkat lunak komputer terbesar di dunia.

Sebagai tuan rumah, Jerman berambisi meraih sukses di depan publik sendiri. Harapan masyarakat Jerman pun sangat tinggi. Telah lama mereka tak berjaya di pentas sepak bola dunia.

Sejak menggondol Piala Dunia untuk kali keempat di Brasil 10 tahun lalu, penampilan tim nasional Jerman yang berjuluk Die Mannschaft itu memang tak kunjung meyakinkan. Mereka gagal dalam berbagai turnamen besar: Euro 2016, Piala Dunia 2018, Euro 2020 (yang baru berlangsung pada 2021 akibat pandemi global), dan Piala Dunia 2022. Jerman bahkan tersingkir secara memalukan pada Piala Dunia 2018 di Rusia setelah ditundukkan anak asuh Shin Tae-yong 0-2 di babak grup. Pada Piala Dunia dua tahun lalu, mereka juga dibungkam tim Asia lainnya, Jepang.

Maka, ketika Jerman berhasil memastikan diri sebagai tim pertama yang lolos ke babak gugur setelah menang 2-0 atas Hungaria 19 Juni lalu, euforia merebak di seluruh negeri. Setiap kali Jamal Musiala dkk mencetak gol, para pendukung timnas Jerman berteriak heboh, ”Deutschland vor, noch ein Tor!” (Jerman unggul, satu gol lagi!).

Mereka seakan ingin meraih kembali kejayaan sepak bola pada 1990-an saat Jerman yang digdaya menjuarai Piala Dunia 1990 dan Piala Eropa 1996 –kali terakhir mereka berjaya di Eropa. Pada era itu, bahkan legenda sepak bola Inggris yang menjadi pencetak gol terbanyak Piala Dunia Meksiko 1986, Gary Lineker, sampai berkata begini, ”Sepak bola itu permainan sederhana. Dua puluh dua orang mengejar bola selama 90 menit dan pada akhirnya Jerman selalu menang.”

Namun, kini situasinya berbeda. Sebelum perhelatan Euro digelar, Jerman bagaikan pesakitan. Mereka mengalami kekalahan beruntun, bahkan sempat dibantai Jepang 1-4 di kandang sendiri, sehingga pelatih muda Julian Nagelsmann ”terpaksa” memanggil kembali gelandang veteran berusia 34 tahun yang baru pensiun dari Real Madrid, Toni Kroos. Kehadiran Toni di lapangan tengah memang mengubah permainan Jerman menjadi lebih dinamis dan atraktif. Hasilnya, dalam lima pertandingan pertama bersama Toni, Jerman selalu menang, termasuk dalam dua pertandingan awal di Euro kali ini. Jerman pun melangkah mulus ke babak 16 besar untuk menghadapi Denmark.

Kemenangan timnas Jerman dan euforia para pendukungnya ini terjadi dalam suasana pasca-pemilu raya di Jerman untuk memilih wakil di parlemen Eropa. Partai penguasa CDU (Christlich Demokratische Union) masih unggul dengan 30 persen suara. Namun, partai nasionalis sayap kanan AfD (Alternative fur Deutschland) menyodok ke peringkat kedua dengan 15 persen suara.

”Saya khawatir dengan hasil pemilu ini,” kata Lea Holland, mahasiswi Sastra Inggris Universitas Heidelberg yang magang sebagai jurnalis Rhein-Neckar Zeitung, saat bertandang ke apartemen saya di Dilsberg pada satu siang yang gerimis seminggu lalu. Lea yang berpandangan politik kiri mengaku memilih Partai Hijau yang progresif dan peduli lingkungan dalam pemilu. Menurut Lea, ”kemenangan” AfD menandai menguatnya sentimen ultranasionalis dan konservatisme yang menghambat demokrasi dan integrasi plural. AfD, misalnya, bersikap keras terhadap imigran yang membanjiri Jerman serta cenderung berpandangan rasis dan diskriminatif terhadap mereka. Ini menyedihkan, apalagi mengingat belakangan fenomena semacam ini merebak di berbagai belahan bumi.

”Sepak bola itu metafora kehidupan,” kata filsuf cum sastrawan Jean-Paul Sartre.

Sepak bola adalah permainan yang kompleks dengan banyak aspek, mirip dengan yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, dalam sepak bola ada aturan tertulis dan tak tertulis yang harus dipatuhi. Begitu pula dalam kehidupan. Dan siapa pun yang melanggar ”aturan main” akan mendapatkan hukuman, baik langsung maupun tak langsung.

Masyarakat Jerman memiliki trauma historis akibat kiprah kelam Nazi dalam Perang Dunia Kedua. Trauma itu masih terus membayangi mereka. Di satu sisi, mereka membutuhkan kebanggaan nasional, antara lain melalui prestasi sepak bola. Di sisi lain, mereka khawatir akan bahaya chauvinisme yang pernah membuat mereka ”dihukum” oleh masyarakat internasional.

Salah satu dampak negatif yang ditakutkan dari arus ”nasionalisme” akibat ”euroforia” (kegembiraan atau euforia yang dibangkitkan oleh Piala Eropa) ini adalah kerusuhan antar pendukung sepak bola. Polisi Jerman sampai memberikan imbauan kepada para suporter agar mengurangi konsumsi bir (yang ditengarai menyebabkan agresivitas; ”fury”) dan menggantinya dengan ganja (yang memberi efek gembira; ”euphoria”). Ganja memang sudah legal dikonsumsi di Jerman sejak 1 April lalu.

Di tengah situasi itu, Sabtu (29/6) malam ini pasukan Jerman akan menghadapi tim kuda hitam Denmark yang pernah menundukkan mereka di final Euro 1992. Siapakah yang akan menjadi pemenang dan melaju ke perempat final?

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore