Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 25 Februari 2024 | 13.00 WIB

Menonton Bapak Memancing di Laut

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Oleh DEWANTO AMIN SADONO

Tersebutlah keluarga Wayan yang ingin mengisi liburan. Reza ingin melihat Candi Borobudur gara-gara waktu ditanya gurunya letaknya di mana, dijawabnya: Amerika Serikat. Afgan pengin ke Bromo yang disebut-sebut sebagai taman terindah ketiga di dunia justru setelah terbakar.

COBA terbakar dua kali lagi. Pasti nomor satu,” katanya.

Zaenab menuntut Wayan memenuhi janjinya waktu pacaran. Serta-merta Wayan melebarkan bibir tanpa merasa berdosa. ”Liburan ke Bali butuh uang segini,” tangannya memperagakan sedang memegang tumpukan uang. ”Kita ke laut saja. Mancing!”

Reza berteriak gembira. Ia sering berharap suatu ketika bisa bertemu presiden, lalu ditanya nama-nama ikan, lalu diberi hadiah sepeda. Afgan bersikap biasa saja meskipun suka menonton acara Tualang Si Boling. Ia mencurigai ikan yang dipancing para bocil itu hanya rekayasa. Mana ada ikan yang baru kena pancing langsung mati, tak bergerak-gerak sama sekali.

Sedang Zaenab cemberut dan pilih tidak ikut. Meskipun begitu, ia memberikan beberapa pesan kepada Wayan, dan ada satu pesan yang ditekankannya kuat-kuat. Sebab kejadiannya belum lama. Ceritanya Zaenab, Reza, dan Afgan ditinggal Wayan waktu menonton pasar malam di alun-alun. Wayan pamit beli rokok dan tak kembali lagi. Ditelepon berkali-kali tidak diangkat. Terpaksa Zaenab dan kedua anaknya itu pulang jalan kaki.

”Kalau besok Reza dan Afgan sampai kamu tinggal di laut...” Zaenab tidak melanjutkan ucapannya. Ia lantas memilin-milin handuk, menjatuhkan ke lantai, lalu diinjak-injaknya.

Pagi itu langit cerah dan penjual tahu bulat sedang tidak lewat. Wayan, Reza, dan Afgan bersiap-siap. Tas berdesain khusus berisi perlengkapan memancing itu diletakkan Wayan di bagian depan motor, dijepit di antara dua paha. Dipakainya helm, dirapatkannya jaket, lalu menyilakan Reza dan Afgan naik motor matik yang sudah uzur itu. Namun, belum juga Wayan sempat menstarter motor, Zaenab sudah berteriak dari dalam rumah.

”Aku tidak masak! Nunggu hasil tangkapan ikan dari laut!”

Nama asli Wayan, Bambang Santoso. Gara-gara waktu kecil pernah menderita epilepsi, teman-temannya SD memanggilnya Bambang Ayan. Sebab kadang-kadang masih suka bertingkah seperti ayam kena tetelo, ketika di depan bapaknya yang terkenal galak, para tetangga memanggilnya Wa Ayan. Namun menghilangkan Wa-nya waktu bapaknya tidak ada.

Bambang sendiri, karena menganggap namanya terlalu pasaran, mengaku bernama Wayan waktu berkenalan dengan para perempuan. Pun demikian dengan perempuan yang sekarang menjadi istrinya itu. Zaenab yang mengira Wayan orang Bali berharap suatu saat diajak pulang kampung Wayan agar bisa mandi telanjang di Pantai Kuta.

Wayan kuliah di fakultas keguruan di perguruan tinggi swasta dan lulus enam tahun dengan predikat susah payah. Hal itu lebih susah dan payah dibandingkan upaya kedua orang tuanya untuk membiayainya. Selepas wisuda, Wayan menjadi guru honorer di SMP negeri di pinggiran ibu kota kabupaten, dan terperangkap di situ seperti katak tercebur ke lubang paralon.

Mula-mula Wayan mengira honor guru honorer besar, jauh melebihi UMR. Untuk satu jam pelajaran berdurasi yang 40 menit, honornya Rp 50 ribu. Jika mengajar 24 jam seminggu, honornya sebulan adalah Rp 50 ribu x 24 jam x 4 minggu. Lima juta kurang dua ratus ribu! Cukup banyak walaupun tidak fantastis.

Namun, Wayan hanya bisa meringis ketika tahu bahwa 24 jam yang dimaksud itu berlaku untuk penghonoran selama satu bulan! Entah manusia goblok mana yang telah menentukan perhitungan yang mahaidiot itu.

Untungnya Zaenab tak tinggal diam. Berbekal wajahnya yang cukup cantik, Zaenab menjadi supplier produk-produk kosmetik. Menawarkan skin care dan lain-lain lewat aplikasi Toksik. Dirinya sendiri sebagai modelnya. Pernah beberapa kali ditawar laki-laki; dikira sedang open BO. Namun, sampai sekarang Zaenab belum teperdaya meskipun sering kali godaan ekonomi itu begitu besarnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore