Logo JawaPos
Author avatar - Image
10 Desember 2023, 15.01 WIB

Monopoli Amal

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Persis dugaanku, kamu kalah telak dalam pemilihan kepala desa. Meski terisolasi dari kampung lain, warga Kampung Bulak Bali tak akan goyah hanya pada selembar amplop berisi uang merah yang kamu hamburkan kepada mereka. Berkali-kali kukatakan padamu agar segera mengganti strategi untuk menarik perhatian mereka.

KISAH Marzuki dan anak gadisnya yang buta, yang mengalami pengusiran beberapa tahun lalu, telah berkali-kali pula kusampaikan. Akan tetapi, dengan pongah kamu berkata, uang adalah kawan karib siapa saja. Tidak ada seorang pun yang akan menolaknya.

Andai kekalahan itu tak menjadikanmu gila, semestinya tulisan ini sampai kepadamu untuk dibaca. Mungkin kamu masih ingat bagaimana kisah ini bermula. Adalah dua orang, bapak dan anak, Marzuki dan Marlina, yang mengalami pengusiran dari kampung yang terletak di bawah gunung itu. Lelaki tambun dan anak perempuannya yang buta digelandang keluar kampung. Mereka dipaksa menandatangani sepucuk surat pernyataan untuk tidak akan pernah datang lagi sampai kapan pun.

Marzuki bukan pengidap penyakit menular, bukan pelaku kejahatan, bukan pula pengganggu ketertiban. Apalagi anaknya, gadis yang buta sejak dilahirkan itu terlalu lugu, tak suka bergaul, lebih banyak di kamar, belajar mengaji, atau membantu bapaknya memasak dan membereskan rumah. Akan tetapi, nyaris sepertiga warga sepakat untuk tidak mau lagi bertetangga dengan mereka.

Marzuki datang ke Kampung Bulak Bali itu dua puluh tahun lalu bersama sang istri yang tengah hamil tua. Dia tiba saat matahari baru merekah sempurna. Dia tak punya sanak kerabat di sana. Kedatangannya hanya menuruti berita yang didapatnya. Kampung yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan itu dikenal aman, tenteram, dan agamais. Sebagian besar warganya adalah petani dan peternak, yang selalu rela meninggalkan sawah dan ternaknya ketika terdengar suara azan tiba untuk melaksanakan salat berjemaah.

Marzuki, yang sudah lelah dengan kehidupan kota yang selalu memacunya untuk bekerja, merasa Kampung Bulak Bali akan menjadi pilihan yang tepat. Ditambah lagi, istrinya segera melahirkan. Keduanya ingin hidup menepi, berfokus pada anak mereka yang sudah belasan tahun ditunggu kehadirannya. Marzuki rela menjual semua asetnya di kota, meninggalkan pekerjaannya yang mapan, dan membeli beberapa petak sawah dan tanah di Kampung Bulak Bali.

Marzuki dan istrinya tinggal di sebuah rumah kayu sederhana, tidak jauh dari pekuburan warga, di dekat rumpun-rumpun bambu, di sebelah kanan aliran sungai kecil yang airnya jernih. Keduanya dapat membaur dengan baik: mengikuti norma masyarakat dan bersosialisasi. Bahkan saat diketahui bayi yang dilahirkan istrinya tak sempurna kelopak matanya, tidak ada yang merendahkan atau mengucilkan mereka. Kampung Bulak Bali seolah tak pernah menganggap kebutaan sebagai sesuatu yang salah.

Kehidupan tenteram itu berlangsung hingga sepuluh tahun sesudahnya, hingga istri Marzuki meninggal akibat kanker rahim, hingga Marlina tumbuh sebagai gadis kecil yang baik dan manis. Perubahan terjadi setelah istrinya meninggal. Jika lelaki lain terburu-buru mencari pengganti setelah ditinggal mati sang istri, tidak demikian dengan Marzuki. Kesedihan itu, kehilangan itu, kesepian itu, dia luapkan dengan bersedekah.

Marzuki mendanai semua pembangunan masjid, surau, bahkan jembatan di kampungnya. Setiap kali ada masjid yang butuh perbaikan, Marzuki sigap mengantarkan uang kepada panitianya. Dia tak bisa mendengar ada keluhan warga terkait jembatan, kamar mandi, atau fasilitas umum lain yang rusak. Dengan segera Marzuki akan membeli bahan, mengundang tukang, dan menyuruh mereka memperbaikinya.

Warga merasa senang karena mereka tidak perlu repot lagi mengedarkan kotak amal di masjid untuk mencari dana, atau mendatangi warga dari rumah ke rumah untuk meminta sumbangan seikhlasnya, atau menunggu anggaran dari pemerintah. Masalah terpecahkan dengan mudah. Marzuki menjadi penyedia dana.

Akan tetapi, yang akhirnya membuat warga Kampung Bulak Bali itu resah adalah saat mereka mulai kesulitan untuk bersedekah. Mereka tidak lagi bisa menyumbang ke masjid karena panitia masjid sudah memiliki donatur tetap dan tunggal. Warga miskin di kampung itu pun sudah rutin mendapat jatah beras dari Marzuki. Pemberian warga lain yang lebih sedikit tidak berarti apa-apa. Marzuki memonopoli amal, sumbangan, dan bantuan.

”Bapak-Ibu tak perlu risau. Urusan masjid atau apa pun biar saya yang tangani. Fakir miskin dan anak telantar biar saya yang ayomi. Saya hidup hanya berdua dengan Marlina, tak butuh banyak biaya. Untuk apa kami menimbun harta.”

Perkataan Marzuki itu diucapkan saat Pak RT dan beberapa perangkat kampung mendatangi rumahnya dan menceritakan keresahan warga.

”Tapi, mereka juga pengen ikut mendapat pahala dari pembangun masjid, Pak. Bagaimana kalau jatah donasi Bapak dikurangi separonya supaya warga masih bisa ikut menyumbang?” tanya Pak RT ragu-ragu. Secara pribadi, Pak RT senang tidak perlu lagi minta sumbangan ke warga jika akan ada kegiatan. Semua ditangani Marzuki, si kaya raya.

”Wah, bagaimana, ya. Kenapa warga tidak mempergunakan uangnya untuk keperluan pribadinya saja. Menyekolahkan anak, membangun rumah, atau membeli apa saja yang mereka inginkan?” Marzuki tetap menolak. Dia sudah berjanji pada diri sendiri untuk menyumbang lebih banyak setiap tahun.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore