
ILUSTRASI
Di bawah langit magrib yang coreng-moreng, ia membuat bulan dari tanah liat. Dicampurnya bingkah-bingkah tanah hitam itu dengan kotoran sapi yang masih muda agar bulannya berwarna kuning emas seperti warna anak sapinya yang hilang di malam keramat.
SUTO membayangkan, setelah bulannya itu jadi nanti, akan diletakkannya di bawah pohon jati di pundukan ladang yang paling tinggi untuk menerangi kampungnya yang gelap gulita. Diterangi suluh cahaya bulan, Suto akan duduk di atas batu di depan rumahnya untuk membaca buku cerita yang belum sempat dibacanya di siang hari karena matahari keburu surup di balik bukit.
Untuk meminjam buku-buku cerita itu, Suto akan menyisihkan uang hasil berjualan kue cucur. Pagi-pagi sebelum berangkat ke sekolah, Mak Kayo akan menitipkan kue cucur bikinannya sendiri pada Suto untuk dijualkan di sekolah. Dari situ Suto akan memperoleh upah seribu rupiah bila kuenya habis terjual. Oleh karena itu, begitu lonceng istirahat berdentang, Suto akan buru-buru memasukkan buku dan pensilnya ke dalam laci, lalu bergegas menjunjung nampan ke halaman sekolah untuk menawarkan kue cucur pada teman-temannya, sebelum bocah-bocah itu menyerbu tukang es cendol di pintu gerbang.
Entah karena memang suka pada kue cucur atau merasa tidak enak pada Suto, bocah-bocah itu pun akan merubungi nampan kayu berisi kue cucur berwarna cokelat tua itu, lalu mengunyah sambil bercanda dan mengusili temannya. Air liur Suto meleleh keluar melihat teman-temannya makan kue rasa gula aren itu. Ingin memakannya sebuah, tapi ragu-ragu. Karena takut upahnya dipotong sehingga tak bisa menyewa buku cerita. Bahkan, jika bersisa pun, kue itu akan dibawanya pulang untuk ditunjukkan pada Mak Kayo. Setelah diberikan, sebagai upah tambahan, baru dimakannya.
Pernah suatu kali, Suto pulang sekolah sambil berlinang air mata karena kuenya tidak laku terjual. Rupanya dalam perjalanan ke sekolah, di jalan turun hujan deras. Payung daun pisang yang dipetiknya di sawah tidak mampu melindungi kuenya. Angin kencang mengoyak-ngoyak pelepah pisang yang menudungi baki di kepalanya, hingga kuenya terendam air dan melar. Suto pun pulang dengan hati masygul.
Dengan uang hasil berjualan kue itulah, Suto akan menyewa komik dan buku-buku cerita anak lainnya di taman bacaan di belakang sekolah. Tetapi, karena di rumahnya tidak ada lampu, Suto tidak bisa membaca cerita di malam hari. Rumah-rumah di kampungnya tidak memakai lampu. Kehidupan mereka terlalu papa untuk menyalakan lampu, yang berarti harus membeli minyak tanah. Sementara untuk makan sehari-hari saja susah. Sinar lampu hanya akan bersinar di malam keramat, menjelang upacara korban penyembelihan anak sapi untuk roh leluhurnya.
Oleh karena itu, di tengah hasratnya yang begitu kuat untuk membaca buku-buku cerita, Suto membayangkan dirinya membuat sebidang bulan dari tanah liat campur tai sapi untuk menerangi kampungnya yang gelap gulita. Lalu duduk membaca buku di atas batu di laman rumahnya: mengembara di lorong-lorong kota bersama si gila, Qais, yang mencari Layla, kekasihnya, atau menertawai si sinting Don Quixote yang bertempur heroik melawan domba dan kincir angin.
Cahaya bulan yang berpendar di tengah ladang malam itu membuat Suto disanjung setinggi langit oleh warga, sampai ke desa-desa sebelah. Dan, Suto benar-benar menikmati pujian itu, sampai mabuk. Warga yang tinggal di seberang sungai terheran-heran melihat purnama terbit di akhir pekan itu, padahal bulan sedang tilem. Sisanya yang berbentuk goresan kapur di langit telah tertelan punuk bukit kemarin malam. Mereka berkumpul di padang terbuka untuk menyaksikan cahaya keemasan yang menebarkan bau rumput busuk kotoran sapi itu.
Seraya menabuh rebana dari kulit kambing, orang-orang mengusung Suto dengan kuda kayu dari tengah ladang ke gubuknya yang kini tampak seperti bongkahan emas di antara pohon-pohon meranggas di lereng bukit. Mereka begitu mengagumi kepandaian Suto, tanpa menyadari bocah itu sedang menahan lapar, sehingga hanya bisa tertunduk lesu dengan dagu menyentuh surai kuda kayu bermata kaca yang memantulkan sinar zig-zag ke wajah semringah orang-orang.
Gidok buru-buru melubangi dinding dan atap rumahnya agar cahaya bulan lempung itu masuk ke dalam biliknya yang gelap. Tindakan Gidok itu segera diikuti oleh yang lain, termasuk mereka yang tinggal di seberang sungai, sehingga hampir seluruh rumah di desa itu memiliki atap dan dinding yang bolong, mirip rumah kosong, dan dari situ kelak tumbuh semak-semak.
Setelah diarak keliling kampung seperti pahlawan kesiangan, mereka membawa Suto mendaki bukit untuk diantar pulang. Setiba di gubuk tanpa pagar itu, mereka berteriak-teriak memanggil Wak Bokot. Tetapi, ayah Suto tidak terlihat di depan rumah untuk menyambut warga yang kini mengantar anaknya. Kedua orang tua itu juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan membuka pintu. Daun pintu dari gedek itu masih tertutup rapat, diikat sepotong tali rafia.
Sikap dingin tuan rumah itu mengundang rasa curiga karena tak lazim orang desa tidur di saat senja kala. Kendati mereka tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi di dalam. Kecuali Suto. Mengapa kedua orang tuanya tidak keluar menemui mereka. Saat Suto keluar rumah menuju pinggir sungai tadi sore, ayahnya tengah terbaring lemah menahan lapar di biliknya yang pengap. Sementara ibunya sedang merebus daun singkong tua yang sebagian sudah menguning. Suto tahu, kedua orang tuanya tidak keluar rumah bukan karena tidur, tapi tak punya tenaga untuk melangkah di ambang pintu. Kelaparan telah membuat persendian mereka lemas seperti sulur kangkung. Sehingga, saat orang-orang berteriak memanggil nama Wak Bokot sambil menceritakan kehebatan Suto dengan kata-kata berbusa, ayahnya cuma terdiam seperti bantal kumal. Hanya terdengar suara erangan parau ibunya yang sedang mengunyah daun singkong di depan tungku. Sementara warga terus memanggil-manggil dari halaman.
”Wak Bokot, buka pintu!” teriak Samun sambil menahan beban di pundaknya.
”Bokot, kamu kasih makan apa anakmu, kok pintar sekali!”
”Mimpi apa waktu melahirkan Suto, Mak Joli?”

Resmi! Daftar Line Up Skuad Clash of Legends 2026 Barcelona Legends vs DRX World Legends di GBK
Resmi! Link Live Streaming Clash of Legends 2026 Barcelona Legends vs DRX World Legends di Gelora Bung Karno
Jadwal Clash of Legends Barcelona Legends vs DRX World Legends: Siaran Langsung, Live Streaming dan Daftar Skuad Kedua Tim!
Disiarkan di Televisi? Informasi Lengkap Clash of Legends Jakarta 2026! Patrick Kluivert Siap Comeback di GBK
Jadwal Clash of Legends Jakarta 2026! Duel Epik Barcelona Legends vs DRX World Legends di Gelora Bung Karno
Kick-off Sempat Dimajukan! Ini Jadwal Resmi Persib Bandung vs Arema FC di GBLA
Harga LPG Non Subsidi Naik per 18 April 2026, Cek Daftar Harga Terbarunya!
Kecewa Berat! Francisco Rivera Ungkap Kondisi Ruang Ganti Persebaya Surabaya Usai Kalah dari Madura United
15 Tempat Kuliner di Jogja untuk Sarapan Pagi Paling Murah Meriah tapi Rasa Tetap Istimewa
Heboh Isu Perselingkuhan Istri Ahmad Sahroni dengan Seorang Duda Drummer Band Tahun 90-an, Netizen: Ketahuan Mulu Mesra-mesraan di Publik
