Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 Agustus 2020 | 20.07 WIB

Legenda Malaysia Kenang Kemenangan Tak Terduga atas Alan Budi Kusuma

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Piala Thomas 1992 menjadi salah satu momen yang sangat dibanggakan tim bulu tangkis Malaysia, khususnya pemain tunggal putra Foo Kok Keong. Menundukkan Indonesia di partai final dengan skor 3-2, Foo ikut sumbangsih poin dengan menumbangkan pemain andalan Indonesia, Alan Budi Kusuma.

Foo turun di partai ketiga dengan status pemain tunggal putra unggulan kedua. Pemain unggulan pertama Malaysia, Rashid Sidek sudah lebih dulu mengumpulkan poin usai menundukkan Ardy Wiranata di laga pertama. Indonesia menyamakan kedudukan menjadi 1-1 setelah pasangan ganda putra Rudy Gunawan/Eddy Hartono memecundangi Razif Sidek/Jalani Sidek di partai kedua.

Foo menceritakan bahwa kemenangannya atas Alan sebetulnya sangat tidak diduga olehnya. Pasalnya, walaupun berstatus pemain unggulan kedua, performa Alan sedang ciamik. Terbukti, Alan sukses menyumbang medali emas Olimpiade Barcelona 1992 beberapa bulan setelah Piala Thomas dan Uber dihelat.

"Buat saya, kemenangan ini jelas di luar dugaan. Alan saat itu adalah pemain muda yang penampilannya sedang sangat bagus. Terbukti, dia berhasil menjadi juara Olimpiade. Dia lebih dijagokan menang," ujar Foo seperti dilansir dari laman resmi BWF.

Meski demikian, Foo menceritakan, ia tidak mau pasrah begitu saja. Pasalnya, Piala Thomas dan Uber tahun itu diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia. Kalah di hadapan pendukung sendiri di partai final jelas bukan opsi.

Bermain di hadapan publik sendiri ternyata memberikan Foo kepercayaan diri lebih. "Saya bisa bermain bagus dan menang atas Alan di Stadium Negara," ujar Foo.

Legenda bulu tangkis Malaysia berusia 57 tahun itu memaparkan, Stadium Negara merupakan salah satu arena yang cukup sulit mengingat ada pengaruh angin yang sangat kuat di salah satu sisinya.

Namun, hal ini bisa dimanfaatkan dengan baik oleh Foo.

"Saya lebih suka main di lapangan yang berlawanan dengan arah angin, karena saya bisa lebih mudah mengontrol shuttlecock. Sementara, pemain Indonesia lebih suka bermain di lapangan yang satu arah dengan angin karena mereka punya smes yang sangat kuat. Kemenangan itu sangat manis dan bersejarah untuk kami," kata Foo yang menang dengan skor 15-6 dan 15-12.

Unggul 1 poin atas Indonesia membuat Malaysia percaya diri. Mereka merebut partai keempat dan memastikan kemenangan usai Cheah Soon Kit/Soo Beng Kiang memetik poin ketiga setelah mempermalukan calon peraih medali emas Olimpiade Atlanta 1996 Rexy Mainaky/Ricky Subagja.

Indonesia memetik kemenangan hiburan di partai puncak lewat Joko Suprianto yang menundukkan Kwan Yoke Meng. Malaysia keluar sebagai juara dengan skor 3-2.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore