
Sekretaris Jenderal PBSI Achmad Budiharto
JawaPos.com - PBSI memutuskan tidak mengikuti bidding alias penawaran menjadi penyelenggara major events Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) hingga tahun 2025. Langkah ini diambil karena PBSI merasa ada kebijakan BWF yang merugikan negara penyelenggara.
Untuk diketahui, ada enam turnamen perorangan maupun beregu yang masuk dalam kategori major events, yakni Kejuaraan Dunia, Kejuaraan Dunia Veteran, Kejuaraan Dunia Junior, Kejuaraan Dunia Junior Beregu, Piala Thomas dan Uber, dan Piala Sudirman.
Sekretaris Jenderal PBSI Achmad Budiharto pada Kamis (29/11) menjelaskan, kebijakan yang dinilai merugikan dalam penyelenggaraan major events adalah pembagian komisi sebesar 80-20, di mana 80 persen pendapatan dari sponsor dikendalikan penuh oleh BWF, sedangkan negara penyelenggara hanya dapat sisanya. Pembagian komisi 80-20 tersebut misalnya dalam pemasangan logo sponsor di pinggir lapangan, backdrop media zone, dan segala bentuk promosi lainnya.
Budiharto menjelaskan, persentase tersebut tentunya sangat berat sebelah dan merugikan negara penyelenggara. Apalagi, kebutuhan dana untuk penyelenggaraan major events sangat besar dan terus bertambah tiap tahun.
Selain Indonesia, Tiongkok dan Malaysia juga dilaporkan sudah mengambil sikap yang sama. Mereka menilai BWF tidak fair dalam hal ini.
Karenanya, Budiharto menilai, ada baiknya jika aturan tersebut diubah dan lebih menguntungkan negara penyelenggara.
"PBSI memang mengajukan keberatan kepada BWF tentang hal ini. Ini memang memberatkan kami sebagai negara penyelenggara. Kami berharap BWF bisa mengubah konsep pembagian komersial ini menjadi 60-40, dan 60 persen itu untuk negara penyelenggara," kata Budiharto.
Indonesia sendiri pernah beberapa kali menjadi penyelenggara major events. Tiga major event terakhir yang diselenggarakan di Tanah Air adalah Kejuaraan Dunia 2015 di Jakarta, serta Kejuaraan Dunia Junior 2017 dan Kejuaraan Dunia Junior Beregu 2017 di Jogjakarta.
Kasubid Hubungan International PBSI Bambang Roedyanto menambahkan, PBSI pernah merugi saat menyelenggarakan Kejuaraan Dunia 2015 karena aturan tersebut. Hal ini juga yang membuat PBSI semakin mantap emoh mengikuti bidding.
"Saat itu kami sebagai tuan rumah mengalami kerugian karena aturan ini (pembagian komisi 80-20, Red). Belum lagi makin ke sini makin banyak extra cost yang terus meningkat dan dibebankan kepada negara penyelenggara, termasuk akomodasi, transportasi dan berbagai biaya lainnya. Kalau bisa ya jangan berat sebelah seperti ini," ujar Rudy.
Dengan keputusan tersebut, maka Indonesia sementara hanya akan menjadi tuan rumah tiga turnamen BWF World Tour, yakni Indonesia Terbuka, Indonesia Masters, dan Indonesia International Badminton Championships hingga tahun 2021.
Proses bidding tuan rumah penyelenggara major events BWF 2019 - 2025 sendiri saat ini tengah berlangsung di kantor pusat BWF di Kuala Lumpur, Malaysia. Beberapa negara yang mengikuti bidding adalah Jepang, Korea, Makau, India, Rusia dan Thailand.
Hasil bidding akan dimumkan hari ini sekitar pukul 17.00.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
