
Hendrawan menceritakan tentang perjalanannya selama hampir sembilan tahun menjadi pelatih bulu tangkis di Malaysia
JawaPos.com - Sudah hampir Sembilan tahun Hendrawan menjadi pelatih di Malaysia. Banyak faktor yang membuat juara dunia 2001 itu bertahan di sana. Simak wawancara khususnya bersama wartawan Jawa Pos berikut ini:
---
Sudah hampir sembilan tahun di Malaysia. Mengapa betah sekali?
Saya hamper 9 tahun. Istri dan anak-anak sudah lebih dari 7 tahun. Saya bertahan pertama karena anak-anak (Josephine Sevilla Anggriawan, 17 dan Alexander Thomas Anggriawan,16). Mereka sudah SMA di sini. Sebentar lagi lulus. Ya menunggu mereka selesai dulu. Selain itu saya sudah berjanji dengan Chong Wei (pemain Malaysia Lee Chong Wei, Red) untuk menemani dia sampai retired.
Sampai kapan itu kira-kira?
Dia katanya ingin sampai 2020. Setidaknya sampai Olimpiade di Tokyo. Syukur-syukur bisa masuk final untuk keempat kalinya. Selain itu. Chong Wei banyak membantu saya sampai dapat permanent residency (PR). Jadi saya bisa tinggal sampai kapan pun di Malaysia.
Lee Chong Wei adalah capaian terbesar dalam karir kepelatihan Anda di Malaysia?
Yang paling besar adalah mengantar Chong Wei tiga kali final Olimpiade (Medali Perak Olimpiade 2008, 2012, dan 2016). Memang tidak hanya dengan saya. Ada Misbun Sidek misalnya. Saya mulai 2016. Dulu saya ke Malaysia untuk melatih level pratama. Tapi kemudian ditunjuk untuk melatih Chong Wei agar bisa jadi partner diskusi.
Untuk tahun ini, apa yang dikejar untuk Lee Chong Wei?
Dia target dua gelar. Pertama di Commonwealth (Gold Coast 2018 Commonwealth Games). Itu bergengsi sekali di Malaysia. Kedua di Asian Games 2018. Dia sudah dapat satu di Commonwealth. Tinggal nanti Asian Games. Sama nanti di Olimpiade.
Generasi setelah Chong Wei, siapa yang bisa menggantikan di Malaysia?
Tidak gampang. Itu sama dengan mencari pemain selevel Taufik Hidayat di Indonesia. Tiongkok saja mencari selevel Lin Dan kesulitan. Mungkin setelah Chong Wei retired baru akan start.
Apa kendalanya?
Di Malaysia, Chong Wei terlalu besar. Dia menutupi kekurangan yang lain. JAdi pemain lain bergantung kepada Chong Wei. Mungkin kalau Chong Wei pensiun akan bisa lepas dari zona nyaman. Pemain generasi sekarang rata-rata dari keluarga berkecekupan. Berbeda dengan Chong Wei dari latar belakang yang kurang mampu. Itu mempengaruhi motivasi, semangat, tanggung jawab, dan disiplin.
Bagaiamana pembinaan bulu tangkis di Malaysia?
Di Malaysia sistemnya berbeda. Nilai plusnya pemerintah mendukung soal dana dan teknologi. Terutama sport Science. Kekurangannya, di Malaysia tidak banyak klub bulu tangkis. Jadi hanya mengandalkan pembinaan dari asosiasi di daerah Kalau di Indonesia kan banyak klub besar maupun kecil. Sirnas di Indonesia juga banyak. Di Malaysia yang level senior hanya sekali dalam setahun.
Apa rencana bila nanti pulang ke Indonesia?

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
