Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 Februari 2024 | 16.56 WIB

Tony Gunawan, Pebulu Tangkis yang Pernah Bela Dua Negara Berbeda di Olimpiade

Tony Gunawan kini memiliki akademi di Amerika Serikat bernama Global Badminton Academy. - Image

Tony Gunawan kini memiliki akademi di Amerika Serikat bernama Global Badminton Academy.

Tony Gunawan termasuk spesial di pentas olahraga dunia. Bagaimana tidak, dia mampu membela dua negara yang berbeda dalam ajang sebesar Olimpiade.

---

SAAT menghubungi, Tony Gunawan tidak bisa diajak wawancara. Ketika itu, Rabu (31/1/2023), dia tengah sibuk melatih bulu tangkis di Amerika Serikat (AS).

"Rabu malam atau Kamis siang waktu Indonesia ya. Saya masih sibuk melatih,'' kata Tony saat dihubungi melalui aplikasi media sosial, whatsapp.

Baca Juga: Bingung Imlek Masak Apa? Yuk Cobain Resep Membuat Mie Panjang Umur Chinese Ala Ade Koerniawan

Iya, sejak 2004, Tony memang memilih tinggal di Negeri Paman Sam, julukan AS. Keputusan yang sangat mengejutkan karena ketika itu, laki-laki kelahiran 9 Apri 195 tersebut masih menjadi andalan Indonesia di cabang bulu tangkis.

Apalagi, dia sudah lengkap memberikan gelar dan kebanggaan bagi Indonesia. Yakni juara Piala Thomas 1998 di Hongkong dan 2000 di Kuala Lumpur, Malaysia. Selain itu, Tony yang berpasangan dengan Halim Haryanto menjadi juara dunia 2001 di Seville, Spanyol, dengan mengalahkan ganda Korea Selatan Ha Tae-kwon/Kim Dong-moon dengan 15-0 15-13.

Tapi yang akan selalu dikenang publik bulu tangkis Indonesia dan dunia adalah ketika Tony meraih emas ganda putra Olimpiade Sydney 2000. Di partai final, keduanya menang tiga set, ketika itu penyebutan masih set bukan game, 15-10, 9-15, 15-7.

Namun, saat usianya masih di usia puncak prestasi atau tepatnya setahun setelah juara dunia, Tony memutuskan pindah ke Amerika Serikat. ''Ya saya pindah ke Amerika pada 2002,'' ungkap Tony pada Sabtu siang WIB (3/2/2024).

Baca Juga: Sajak: Ziarah Palestina

Pertimbangannya, dia ingin memikirkan masa depannya. Apalagi, semua gelar juara sudah diraihnya. ''Sesudah juara Olimpiade 2000 sama All England, dan World Champion 2001 kan gak ada lagi yang lebih tinggi dari itu. Nah setelah selesai sebagai pemain kan mesti mikir ke depannya apa nih,'' ujar Tony.

Pendidikan menjadi tujuan berikut. Selain itu, Tony juga mengaku kurang tahu kehidupan di luar Pelatnas Cipayung seperti apa. ''Saya tinggal di pelatnas sejak 1993 hingga 2001. Saya memutuskan sendiri untuk keluar karena mengundurkan diri,'' paparnya.

Dia kemudian memutuskan melanjutkan sekolah di Amerika. Apalagi, istrinya juga kuliah di negara tersebut. ''Saya kuliah di DeVry University dua tahun ambil jurusan Computer Engineering. Tapi nggak selesai tahun 2002-2004,'' kata Tony.

Itu karena pada 2005 ada kejuaraan dunia di AS, dan dia menunda kuliah selama dua semester. Namun, lanjutnya, dia tidak menyangka malah juara.

''Habis itu masuk kuliah lagi sebentar pada 2006 dan si Candra (Wijaya) keluar dari pelatnas. Kami iseng-iseng maen lagi malah jadi No 6 Dunia dengan menjadi juara Indonesia Open, Japan dan Korea Open 2006,'' kenang Tony.

Baca Juga: Dulu, Amazon Mini di Ekowisata Silowo Digratiskan pun Tak Ada Yang Datang


Imbasnya, dia pun tidak bisa keluar dari bulu tangkis. Bahkan, sekarang hidup Tony tetap didedikasikan untuk melatih bulu tangkis.

''Sejak 2010, saya punya akademi bulu tangkis, namanya Global Badminton Academy. Kami sewa lapangan di klub Arena Badminton Club di Pomona, California,'' tandas suami Eti Tantti, yang juga pebulu tangkis Indonesia itu.

Meski sejak keluar dari Pelatnas Cipayung, tapi Tony baru mendapat status kewarganegaraan AS pada 2011. Itulah yang membuat dia bisa berlaga di Olimpiade London 2012. Hanya tak seperti di Sydney 2000, Tony yang berpasangan dengan rekannya saat juara dunia 2005, Howard Bach, keduanya terhenti di babak penyisihan. Menghuni Grup D, keduanya tiga kali kalah dalam tiga kali pertandingan.

Meski begitu, untuk negara barunya, AS, Tony dan Bach, sebelum Olimpiade 2012 tepatnya 2011, mereka menjadi juara ganda putra Pan American Games, pesta olahraga negara-negara Amerika Utara, di Meksiko. Di final, Tony/Bach menang 21-10, 21-14 atas sesama pasangan AS, Halim Haryanto/Sattawat Pongnairat. Menariknya, Halim merupakan pasangannya saat masih sama sama membela Indonesia dan pernah menjadi juara dunia 2001.

Meski sudah lama di AS, Tony tetap tak melupakan kampung halaman. Diakuinya, setiap tahun, dia bersama istri serta kedua putranya pergi ke Indonesia, khususnya Surabaya. (*)

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore