
Cover Buku
Buku ini bisa pula dianggap karya jurnalistik yang menyajikan ”keberimbangan”. Bukan netralitas yang mustahil, melainkan panggung cerita bagi sisi ”anti-Munir” dalam cerita. Seperti ketika Pollycarpus, kopilot tervonis peracun Munir, yang nyaris gila karena terus berbohong. Selain keberimbangan, Easton juga menawarkan kualitas sebuah karya jurnalistik: detail.
Bagaimana Pembunuhan dan Pengadilan Kasus Munir?
Terbit kali pertama dalam bahasa Inggris di AS, Easton mulanya menyasar warga dunia. Untuk itu, detail jadi penting agar negeri yang kompleks ini bisa dipahami secara utuh oleh mereka yang bahkan sulit membedakan Indonesia dengan Bali sekalipun.
Sejarah kekerasan di Indonesia, oleh Easton, dinarasikan dengan efektif lewat hidup-mati Munir (38 tahun) dan serangkaian proses pengadilannya (20 tahun), yang hanya sejentik jari dari hayat masyarakat Nusantara. Pencuplikan itu dilakukan dengan stamina kuda penulisnya yang mampu mendaras data dan menjalin gambar-gambar terpisah untuk menguatkan cerita.
Lihat saja betapa geniusnya Easton membuka cerita terbunuhnya pejuang kemanusiaan lewat momen pamitan sekaligus perjumpaan terakhirnya sebagai manusia dengan keluarga kecilnya, yang dipeluk dan dibisikkan kepada mereka olehnya, ”Saya sudah menemukan surgaku”.
Detail-detail sentimental begini terserak di sekujur buku berbobot nyaris setengah kilogram ini. Dilengkapi dengan runtutan perkembangan kasus, yang bagi orang –baik awam maupun yang sudah kepalang tahu banyak soal kasusnya– akan terasa melelahkan sebab saking terperincinya sehingga menggoda untuk dibaca cepat, Easton menciptakan kisah yang tidak mungkin diabaikan.
Bukan hanya paham dan terlena dengan kisahnya, pembaca akan digiring Easton untuk menyadari betapa di tengah puing-puing hukum yang ambrol, selalu ada cahaya. Dan bukan kebetulan, seperti yang ditulis Easton, bahwa ”Munir, dari bahasa Arab, artinya cahaya”.
Sampul bukunya, topeng Munir teracung menutupi wajah massa aksi, adalah perlambang bahwa Munir hidup dan berlipat. Bahwa bila memang kebenaran atas pembunuhan Munir adalah obat bagi kekerasan tiada akhir di negeri ini, obat itu akan terus diupayakan, bahkan setelah 20 tahun Munir mengangkasa dan tidak pernah mendarat hidup-hidup. (*)
---
*) ARDHIAS NAUVALY AZZUHRY, Anggota Komunitas Radiobuku

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
