Cover Buku. (Istimewa)
Oleh: Wina Bojonegoro
Artie Ahmad memainkan para karakter dengan terampil, baik melalui narasi maupun dialog. Tapi, minim sekali tokoh perempuan.
TEH adalah komoditas yang memiliki sejarah panjang dalam budaya dan tradisi di dunia. Di Jepang, budaya minum teh menjadi ritual penting yang dihormati. Di Tiongkok dan Korea, teh adalah minuman resmi yang disuguhkan untuk tamu, tanpa gula.
Di Turki, India, dan Thailand, teh sering disajikan dengan susu. Orang Inggris memiliki budaya minum teh di sore hari, afternoon tea, yang kemudian diadopsi oleh beberapa hotel berbintang sebagai salah satu layanan. Hingga jenis teh masyarakat Inggris pun mendunia, seperti English breakfast atau earl grey.
Di Indonesia, sejarah teh diawali masuknya benih teh dari Jepang pada tahun 1600-an. Akhirnya di masa pemerintahan Hindia Belanda dibangunlah kebun-kebun teh yang masif di era 1800-an. Hingga kini teh menjadi minuman rakyat maupun kalangan atas bergantung pada jenis dan kemasan.
Pengetahuan dan Cermin
Teh menjadi tema sentral dalam novel karya Artie Ahmad yang berjudul Risalah Teh & Tiga Keluaga. Cerpenis yang karyanya sudah melanglang buana di berbagai media tanah air itu menampilkan perkebunan teh sebagai sebuah simbol kehidupan. Meliputi intrik, politik, dan hal-hal lainnya.
Teh bukan hanya menghasilkan komoditas, melainkan juga status sosial. Tokoh dari tiga keluarga, Samhadi, Burnomo, dan Raslan, masing-masing memiliki perjuangannya sendiri berkaitan dengan kebun teh.
Mereka bertiga mewakili karakter manusia. Samhadi yang rakus dan manipulatif. Burnomo yang ambisius dan lupa diri dari mana dia berasal. Raslan sebagai buruh yang pasrah dan nerima ing pandum, namun akhirnya menjadi penjahat juga.
Ada juga tokoh kepala desa bernama Pambudi. Dia mewakili kondisi para petinggi publik atau anggota dewan yang suka bermain judi online, korupsi, dan akhirnya berbuat kejahatan juga.
Para karakter dimainkan dengan terampil oleh sang penulis, baik melalui narasi maupun dialog. Karakter kuat pada masing-masing tokoh membuat pembaca dengan gamblang membayangkan bagaimana rupa mereka jika suatu saat novel ini dialihwahanakan menjadi film, misalnya.
Keseluruhan cerita dipaparkan dengan bahasa yang lugas mengingatkan pada gaya bertutur para penulis era Pramoedya. Tak ada istilah yang ndakik-ndakik, kecuali soal teh pu-er yang memaksa pembaca harus Googling. Riset pastilah sangat dibutuhkan dalam menyusun novel ini, hingga pembaca paham ternyata proses membuat teh adalah digoreng dengan wajan tanah.
Pengetahuan jenis-jenis teh dan dari kebun mana saja berasal juga ditemukan dalam novel ini. Jika selama ini kita hanya mengenal kebun teh di Jawa Barat dan Jawa Tengah, di buku ini orang jadi tahu bahwa di Sumatera juga ada kebun teh. Meski kebun teh di Wonosari, Kabupaten Malang, lupa disebutkan, setidaknya kita menambah khazanah bacaan teh melalui buku ini.
Plot dalam novel ini menarik. Keadaan kekinian dikembangkan melalui flashback yang dimainkan di berbagai bab hingga pembaca memahami landasan perilaku dan peristiwa para tokohnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Levante vs Real Betis di Liga Spanyol 2026/2027: Tim Tamu Bisa Curi 3 Poin!
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Newcastle di Liga Inggris 2026/2027: Sengit, Berpotensi Imbang!
Prediksi Skor Coventry City vs Hull City di Liga Inggris 2026/2027: Bisa Berakhir Imbang!
Prediksi Susunan Pemain Sevilla vs Atletico Madrid di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Go Ahead Eagles di Liga Belanda 2026/2027: Kans Tuan Rumah Pesta Gol!
Prediksi Skor Monaco vs Marseille di Liga Prancis: Les Phoceens Tak Ingin Malu di Stade Louis II
Prediksi Skor Bournemouth vs Everton di Liga Inggris 2026/2027: Berpotensi Imbang!
Prediksi Skor Real Sociedad vs Espanyol: Los Periquitos Bisa Curi Poin di Anoeta?
Prediksi Skor Leeds United vs Brentford: The Bees Siap Sengat Tuan Rumah di Elland Road!
