Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 19 Mei 2024 | 15.18 WIB

Waspada Orang Makan Orang

Cover Buku - Image

Cover Buku

Karya Multatuli berjudul Volledige Werken, yang diterjemahkan oleh Asrul Sani menjadi Buah Renungan, terbit 1974, menulis sejarah kekuasaan berdasar dongeng bernada satire yang diorientasikan untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan.

Ada delapan kibul, dalam istilah SGA. Tiga di antaranya adalah, pertama, kibul kesempurnaan. Seorang adik minta kakaknya mengambil buah karena badannya lebih besar dan jangkauannya lebih panjang atau tinggi. Lantas, kakaknya melihat kambing gunung minta tolong kepada singa untuk mencari anaknya, karena tubuh singa lebih sempurna di dataran rendah. Singa itu memakan si kambing. ”Mengapa?” tanya sang kakak. ”Adil ia aku makan. Cakar dan gigiku memenuhi syarat,” jawab singa. Ketika adiknya minta diambilkan buah lagi, kakaknya berkata, ”Jadilah abdiku, supaya engkau tidak aku makan.” Adiknya mengabdi dengan sedih karena kakaknya mendengar gagasan ini dari singa.

Kedua, kibul penghukuman. Ada anak bertanya kepada bapaknya, kenapa matahari tidak jatuh? Alih-alih menjawab, si bapak justru menghukum si anak, yang lantas membuatnya tidak pernah bertanya lagi tentang apa pun. Anak itu hidup 6.000 tahun, bahkan lebih, dengan tetap dungu dan bodoh.

Ketiga, kibul kemabukan. Philoinos mabuk, tapi ia mau minum tiga guci lagi. Hudoor berkata jangan, tetapi kata Philoinos, gurunya yang menyuruh minum. Hudoor berkata, gurunya tidak akan menyuruh seperti itu. Philoinos hanya berkata, ”Tiga… tiga… tiga!”. Maka untuk kali ketiga ia tersungkur di jalan dan tidak bangkit lagi sampai sekarang.

Dari cerita tentang orang makan orang dan fenomena kibul yang telah disinggung di atas, tampak relevan dengan apa yang kita alami sehari-hari. Tidak selalu berurusan dengan peristiwa politik, tetapi dalam proses interaksi keseharian, jika terdapat seorang menyakiti dan mengambil hak orang lain, sesungguhnya ia seperti (hendak) memakan manusia.

Begitu pula cara kita memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Lazim terjadi, upaya untuk memperoleh kekuasaan ditempuh dengan segala cara. Janji manis ditebar, memanfaatkan relasi kuasa dari dirinya maupun melalui orang lain, mencitrakan diri suci sementara orang lain kotor, dan seterusnya.

Namun, begitu kekuasaan itu berhasil diraih, tampaklah wujud aslinya, yang berbanding terbalik dengan kesan positif. Inilah fenomena budaya kibul. Juga orang makan orang. Waspadalah! (*)

---

  • Judul: Orang Makan Orang: Kibul-Kibul Budaya Politik
  • Penulis: Seno Gumira Ajidarma
  • Penerbit: Mizan
  • Cetakan: I, Januari 2024
  • Tebal: 277 halaman

---

*) ALI USMAN, Peneliti Institute of Southeast Asian Islam (ISAIs) UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore