
Cover Buku
Karya Multatuli berjudul Volledige Werken, yang diterjemahkan oleh Asrul Sani menjadi Buah Renungan, terbit 1974, menulis sejarah kekuasaan berdasar dongeng bernada satire yang diorientasikan untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan.
Ada delapan kibul, dalam istilah SGA. Tiga di antaranya adalah, pertama, kibul kesempurnaan. Seorang adik minta kakaknya mengambil buah karena badannya lebih besar dan jangkauannya lebih panjang atau tinggi. Lantas, kakaknya melihat kambing gunung minta tolong kepada singa untuk mencari anaknya, karena tubuh singa lebih sempurna di dataran rendah. Singa itu memakan si kambing. ”Mengapa?” tanya sang kakak. ”Adil ia aku makan. Cakar dan gigiku memenuhi syarat,” jawab singa. Ketika adiknya minta diambilkan buah lagi, kakaknya berkata, ”Jadilah abdiku, supaya engkau tidak aku makan.” Adiknya mengabdi dengan sedih karena kakaknya mendengar gagasan ini dari singa.
Kedua, kibul penghukuman. Ada anak bertanya kepada bapaknya, kenapa matahari tidak jatuh? Alih-alih menjawab, si bapak justru menghukum si anak, yang lantas membuatnya tidak pernah bertanya lagi tentang apa pun. Anak itu hidup 6.000 tahun, bahkan lebih, dengan tetap dungu dan bodoh.
Ketiga, kibul kemabukan. Philoinos mabuk, tapi ia mau minum tiga guci lagi. Hudoor berkata jangan, tetapi kata Philoinos, gurunya yang menyuruh minum. Hudoor berkata, gurunya tidak akan menyuruh seperti itu. Philoinos hanya berkata, ”Tiga… tiga… tiga!”. Maka untuk kali ketiga ia tersungkur di jalan dan tidak bangkit lagi sampai sekarang.
Dari cerita tentang orang makan orang dan fenomena kibul yang telah disinggung di atas, tampak relevan dengan apa yang kita alami sehari-hari. Tidak selalu berurusan dengan peristiwa politik, tetapi dalam proses interaksi keseharian, jika terdapat seorang menyakiti dan mengambil hak orang lain, sesungguhnya ia seperti (hendak) memakan manusia.
Begitu pula cara kita memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Lazim terjadi, upaya untuk memperoleh kekuasaan ditempuh dengan segala cara. Janji manis ditebar, memanfaatkan relasi kuasa dari dirinya maupun melalui orang lain, mencitrakan diri suci sementara orang lain kotor, dan seterusnya.
Namun, begitu kekuasaan itu berhasil diraih, tampaklah wujud aslinya, yang berbanding terbalik dengan kesan positif. Inilah fenomena budaya kibul. Juga orang makan orang. Waspadalah! (*)
---
---
*) ALI USMAN, Peneliti Institute of Southeast Asian Islam (ISAIs) UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
