
COVER BUKU
Buku Kisah Kita: Dari ”Sah” ke ”Selamanya” memang tidak mendakwahkan agar seseorang menikah. Tapi sangat relevan dibaca oleh mereka yang sedang merencanakan atau telah menikah. Sebab, di dalamnya terkandung nilai-nilai filosofis atau lebih tepatnya falsafah pernikahan.
---
SAYA membayangkan buku Kisah Kita: Dari ”Sah” ke ”Selamanya” ini dibaca oleh Socrates dengan raut wajah yang semringah dan berkata dalam ungkapan bahasa Jawa populer, kandani kok! (dibilangin kok!). Apa sebab? Karena Socrates pernah bilang, ”Bagaimanapun, menikahlah. Jika mendapatkan pasangan yang baik, engkau akan bahagia. Namun jika mendapatkan pasangan yang tidak baik, engkau akan menjadi filsuf.”
Ungkapan Socrates di atas ada yang menyebutnya sebagai satire. Tapi, sebenarnya dapat dirasionalisasi bahwa dengan berkeluarga, punya pasangan hidup yang diikat dalam tali pernikahan, akan terjadi interaksi yang tidak selalu linear ”damai”. Tapi penuh dinamika sebagai konsekuensi hidup bersama orang lain.
Maka, hal wajar jika kemudian muncul ”konflik”, riak-riak kecil percekcokan dalam keluarga. Dan, inilah seni pernikahan yang memantik seseorang untuk selalu berpikir tiada henti, layaknya seorang filsuf.
Mencoba bersetuju dengan Socrates, muncul pertanyaan, apakah tidak mungkin seseorang hidup bahagia bersama keluarganya sekaligus dia sebagai seorang filsuf?
Haidar Bagir, penulis buku Kisah Kita: Dari ”Sah” ke ”Selamanya”, dapat melampaui pendapat Socrates. Dia tampak bahagia bersama keluarganya dan dalam arti yang sangat lentur layak disebut sebagai seorang filsuf atau setidaknya pemikir dan pengkaji filsafat, yang selalu berupaya mencari makna terdalam pada setiap objek realitas.
Buku Kisah Kita: Dari ”Sah” ke ”Selamanya” memang tidak mendakwahkan agar seseorang menikah atau ”mati” saja. Tetapi sangat relevan dibaca oleh mereka yang sedang merencanakan atau telah menikah. Sebab, di dalamnya terkandung nilai-nilai filosofis atau lebih tepatnya falsafah pernikahan.
Di sini, saya lebih suka menyebut ”pernikahan” daripada diksi yang dipakai oleh Haidar Bagir, yaitu ”perkawinan”. Istilah ”kawin” atau ”perkawinan” di Indonesia kadang memiliki konotasi negatif. Orang kawin belum tentu menikah, tetapi orang yang menikah kemungkinan besar sudah menjalankan ”perkawinan”.
Haidar Bagir membagikan pengalaman hidupnya dalam membangun keluarga yang harmonis dan penuh bahagia. Tidak hanya suka, tapi juga duka. Tidak hanya sukses, tapi juga kegagalan-kegagalannya, yang dibingkai dalam spektrum setidaknya empat perspektif: tasawuf, tafsir, psikologi, dan sedikit filsafat.
Sikap rendah hati Haidar Bagir patut dicontoh. Ketidaksempurnaannya sebagai kepala rumah tangga justru diakui sebagai bagian dari bumbu penyedap dalam mahligai rumah tangga.
”Buku yang berisi kiat-kiat praktis merawat kehidupan perkawinan ini sejatinya adalah kisah pembelajaran penulis, tentu termasuk di dalamnya kegagalan-kegagalan yang terjadi. Jadi, ketika pembaca membaca bagian tentang pentingnya bersikap ihsan (indah/sempurna) terhadap pasangan hidup, ada saat-saat penulis justru gagal bersikap demikian kepada istri penulis. Demikian pula saat pembaca membaca kiat tentang pentingnya kesetaraan dalam kehidupan suami istri, itu sesungguhnya secara implisit mengandung pernyataan kegagalan penulis. Yakni, bahwa pada saat-saat tertentu, penulis tidak memperlakukan istri penulis dengan setara” (hal 23), tulis Haidar Bagir.
Haidar Bagir boleh dibilang ”paket komplet”. Dia sukses sebagai pengusaha, bos Mizan Group, intelektual publik, penulis prolifik, dan melalui buku ini, menahbiskan dirinya sebagai seorang kepala rumah tangga yang tidak hanya berhasil mendidik anak-anaknya. Tapi juga hendak menularkan aura positif kepada semua orang.
Haidar Bagir berupaya lebih mendekatkan diri kepada pembaca dengan menyebut ”anakku” di setiap penggalan paragraf. Sebuah gaya tulisan yang mengingatkan pada buku Ayyuhal Walad (Wahai Anak) karya Imam Al Ghazali.
Di antara tema menarik yang dibahas oleh Haidar Bagir dalam buku setebal 226 halaman ini tentang terminologi sakinah, mawadah, warahmah, yang sering disingkat samara atau samawa. Sakinah artinya bahagia. Mawadah berarti cinta kasih. Dan rahmah, oleh Haidar Bagir, diterjemahkan menjadi welas asih.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Nathalie Holscher-Aripat Menikah, Sule Titip Pesan untuk Adzam, Balasan Nathalie Jadi Sorotan
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Analis Ungkap Strategi Iran Pilih Sasar Negara Teluk Tanpa Serang Kapal Induk AS
