
COVER BUKU
Buku ini mengisi ruang kosong penelitian sejarah yang berfokus pada relasi antara manusia dan alam.
Oleh PURNAWAN ANDRA, Bekerja di Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek
---
ERUPSI Gunung Semeru mengingatkan kita yang hidup di negeri cincin api ini untuk lebih menyatu dengan sesama dan alam ciptaan-Nya. Alam punya mekanisme sendiri, namun manusia kerap alpa memahaminya.
Kita seharusnya berdialog dengan lingkungan karena alam adalah sumber kehidupan bagi manusia, hewan, dan makhluk lainnya. Hubungan makhluk hidup dengan alam tersebut telah tercatat dan termanifestasikan dalam berbagai wujud hasil ekspresi kebudayaan.
Citra bentang alam menjadi sumber ide penciptaan, bukan hanya sebagai presentasi wujud, tapi juga menjadi representasi nilai dan makna. Itulah kesan yang muncul setelah membaca buku Benantara: Bentang Alam dalam Gelombang Sejarah Nusantara ini.
Dari sumber-sumber sejarah masa lalu terlukis suasana sejuk dikelilingi hutan. Para raja membangun taman untuk memaknai hubungan dengan alam, di antaranya Taman Gua Sunyaragi di Cirebon dan Taman Sari di Jogjakarta yang dibangun sekitar abad ke-18 (halaman 91).
Alam memengaruhi kehidupan manusia. Ketika Gunung Tambora meletus, di Eropa, komoditas pertanian mengalami gagal panen. Tahun 1816 pun tercatat sebagai year without summer (halaman 94).
Pada kepercayaan awal Nusantara atau setelah masuknya Hindu-Buddha, bentang alam seperti gunung dan dataran tinggi dianggap sakral. Terbukti banyak peninggalan arkeologis seperti punden berundak, candi, dan pertapaan di beberapa gunung di Jawa. Ini menjadi wujud penghormatan manusia dengan alam.
Dari bentang alam kita bisa mendapat pemahaman yang lebih baik tentang sejarah dan kebudayaan manusia di suatu tempat. Konsep ini menggambarkan bagaimana kita membentuk dunia dan bagaimana dunia membentuk kita (Jensen, 2011).
Hal ini didasari kesadaran pemaknaan bahwa manusia bukan sebagai pusat kehidupan, melainkan harmoni kebersamaan. Dengannya, bentang alam tidak hanya mencakup lingkungan fisik dengan sumber daya yang layak dieksploitasi, tetapi juga ”lanskap kognitif”, sumber kebaikan yang bisa jadi refleksi.
Kitab klasik Tantu Pagelaran, misalnya. Karya sastra berbahasa Kawi yang berasal dari masa Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-15 ini menceritakan upaya para dewa untuk memindahkan Gunung Mahameru di India ke Djawadwipa.
Dalam perjalanan, gunung tersebut jatuh berceceran dan menjelma gunung-gunung yang kita kenal sekarang sebagai Lawu, Wilis, Kelud, Kawi, Arjuna, dan Kemukus. Mahameru menjadi Semeru dan puncaknya menjadi Pawitra (Penanggungan), tempat bersemayamnya Sang Jagatnatha pengatur jagat.
Pada delapan mata anginnya tinggal dewa-dewa yang menjaganya, sebagai perlambang pusat alam semesta sekaligus poros penghubung mikrokosmos dan makrokosmos. Itulah kenapa banyak peninggalan situs purbakala pemujaan, pemandian, pertapaan, dan patirtan yang dianggap suci di sana (halaman 125-6, 130).
Pun demikian, pada pertengahan abad ke-19 juga terjadi eksploitasi masif atas hutan, satwa, dan lingkungan di Hindia Belanda. Burung cenderawasih ditangkap sebagai bahan baku produksi yang diolah menjadi komoditas bernilai ekonomis dan estetis (halaman 102). Hal ini memunculkan ide konservasi alam dengan dibentuknya suaka margasatwa Baluran, Gunung Leuser, Way Kambas, Kutai, dan Kotawaringin pada dekade 1930-an.
Meski demikian, penggunaan tanah konservasi tetap menjadi masalah ketika kebijakannya menjauhkan penduduk lokal dari suaka sehingga melahirkan gesekan antarkelompok dalam pemanfaatan ruang (halaman 103-5). Permasalahan eksploitasi alam ternyata sudah klasik, tapi kontekstual dan masih terjadi hingga kini.
Esai-esai dari para sejarawan dan pemerhati sejarah ini patut diapresiasi karena kaya oleh lapisan pengetahuan yang membuat kita tertegun, berpikir untuk memaknai apa yang selama ini luput tak tertandai. Ia membicarakan bentang alam sebagai masalah zaman melalui data yang tidak hanya berhenti pada fakta lama, tapi menyelami suatu pemahaman tentang realitas sosial dan kearifan lokal, antara problematika dan kekayaan budaya.
Buku ini mengisi ruang kosong penelitian sejarah yang berfokus pada relasi antara manusia dan alam. Sejarah mampu membicarakan histori ekologi, sejarah dan antropologi lingkungan dengan jelas dan lugas, dengan basis logika yang kontekstual.
Dengan kondisi kini di mana terjadi kerusakan lingkungan karena interaksi eksploitatif manusia dan alam yang mengakibatkan berbagai masalah sosial, ekonomi, kesehatan, hingga kebudayaan, pembacaan atas esai-esai ini menawarkan sudut pandang dalam melihat masa kini dan masa depan: mengkritisi pemikiran antroposentris yang mengutamakan kepentingan manusia.
Ia juga menjadi semacam tamasya ruang dan waktu untuk membahas isu global dalam perspektif reflektif yang otentik. Ini menjadikannya tetap kontekstual dalam waktu mendatang. (*)

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
