
Cover Buku. (Ilham Safutra/JawaPos.com)
PADA Pemilu 2019 masyarakat Indonesia kerap terbelah karena pilihan politik. Perbedaan politik itu disinyalir karena politik identitas yang diciptakan para politisi, sehingga publik ikut berada di setiap kubu.
Dampaknya, sepanjang proses Pemilu masyarakat hingar bingar dengan perbedaan itu. Terutama pada Pemilu 2014 dan 2019. Masyarakat yang larut dalam politik identitas mengalami persekusi dari kelompok masyarakat lainnya. Pihak yang terkena persekusi itu dianggap bukan dari bagian kelompok tertentu. Perbedaan tidak bisa diterima dalam sebuah kelompok masyarakat.
Masyarakat yang berbeda pilihan dianggap lawan. Padahal, dalam demokrasi perbedaan adalah keniscayaan. Suatu yang lumrah. Perbedaan itu disebut-sebut "dalangnya" adalah politik identitas.
Sejatinya, tidak ada yang salah dengan politik identitas. Hanya saja penerapannya belum sesuai. Abdul Malik Gismar mengupas soal politik identitas ini di ujung pembahasan bukunya yang berjudul Homo Indonesiaensis, Sebuah Megaproyek Psikologis (2024).
Mengutip Amy Gutmann (2004), Abdul Malik Gismar dalam bab "Politik Identitas dalam Masyarakat Majemuk" menyatakan, "dalam rezim demokrasi, politik identitas bukanah suatu kejanggalan, melainkan sesuatu yang tak bisa dihindarkan." (hal. 155)
Jika bicara identitas, dalam politik didasari dari identitas sosial. Abdul Malik Gismar mengungapkan, identitas sosial adalah simpul psikologis melalui apa individu dengan masyarakat atau kelompoknya terhubung. Identitas sosial membantu seseorang mengenali diri dalam hubungan dengan orang lain dan dapat menumbuhkan rasa bahwa dia menjadi bagian dari, dan memiliki, sesuatu komunitas.
Sementara, identitas sosial yang bisa didasarkan pada etnisitas, agama, daerah, dan berbagai pengelompokan sosial lainnya dapat memengaruhi perilaku, pikiran, dan emosi. (hal. 152).
Kehadiran banyak partai politik adalah kelompok-kelompok identitas yang mengajak dan menumbuhkan identitas bersama bersama ideologi, kelas sosial, agama, dan etnisitas. Keberadaan politik identitas itu berdampak dengan tumbuhkan kelompok antipati politik atau kelompok apatis terhadap politik. Padahal muncul kelompok-kelompok apatis ini tidak terlepas dari peran lembaga survei-survei politik yang secara dikotomis memasukkan pemilih ke dalam kategori-kategori pemilih partisan vs pemilih independen.
Sebagaimana dikatakan Abdul Malik Gismar sebagaimana mengutip pernyataan Amy Gutmann. "...Pemilih independen adalah warga negara yang "lebih baik" karena mengambil keputusan tidak berdasarkan afiliasi-afiliasi kelompok, tetapi berdasarkan pertimbangan independen pula." (hal. 155). Pemilih independen dalam artian menjadi pemilih yang kurang informasi dan kurang bergairah.
Cara masyarakat memahami identitasnya dalam berpolitik tetap mengedepankan rasionalnya. Sejatinya perbedaan identitas jika dipersatukan secara rasional, maka tujuan dari masyarakat itu dapat dicapai.
"Hanya dengan rasionalitas, konsesus di antara orang-orang yang berbeda kepentingan dapat dicapai. Karena manusia adalah makhluk yang rasional, maka dengan sistem, prosedur, dan proses politik yang baik, konflik-konflik politik serumit apa pun akan dapat diselesaikan." (hal. 149)
Buktinya kemerdekaan Indonesia dicapai atas dasar banyaknya perbedaan yang dasari dengan tujuan yang sama, yakni kemerdekaan dan lepas dari belenggu penjajah. Hal itu juga bentuk dari politik identitas. Namun itu terjadi pada persiapan atau masa merebut kemerdekaan.
Homo Indonesiaensis, Sebuah Megaproyek Psikologis (2024) karya Abdul Malik Gismar. Dari judulnya terlihat bahwa buku ini bagian dari proyek yang dikerjakan banyak orang, meskipun nama yang dikedepankan hanya Abdul Malik Gismar.
Banyaknya pihak yang terlibat dalam buku ini, maka rasa dan gaya bahasanya tidak seragam. Membaca buku ini dapat dari mana saja. Tidak mesti runut seperti membaca novel. Apalagi daftar pustaka yang dijadikan dalam sumber atau literaturnya tidak sedikit. Ada sekitar 80 literatur yang terdapat di dalam daftar pustaka.
Homo Indonesiaensis, Sebuah Megaproyek Psikologis (2024) adalah buku menarik yang membahas karakteristik masyarakat Indonesia secara psikologi, pola perpolitikan di Indonesia yang dipengaruhi sejarah masa lalu.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
