Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 3 Desember 2023 | 12.26 WIB

Merayakan Kritisisme Bulgakov di Hadapan Stalin

COVER BUKU - Image

COVER BUKU

Mengombinasikan neo-imajinasi, surealisme magis, dan kecaman-kecaman pada situasi politik, The Master and Margarita adalah dua kisah yang berkelindan di waktu yang beririsan, di momen yang tumpang-tindih.

---

BAGAIMANA meneroka satirisme Soviet lewat karya sastra? Tak lain tak bukan, The Master and Margarita adalah jawabannya. Diterbitkan Mizan edisi bahasa Indonesia-nya Oktober tahun ini, novel setebal 578 halaman ini menampilkan Master atawa sang Guru, seorang pasien sebuah rumah sakit yang frustrasi karena karyanya yang bercerita tentang Yesus dikritik habis-habisan sebagai kisah utamanya, sebagai pusara cerita.

Dalam keputusasaan yang akut, seorang perempuan bersuami insinyur militer, Margarita, hadir. Ia bukan hanya menawarkan cinta, tapi juga pengakuan yang, bagi penulis dan dokter seperti sang Guru, adalah sebuah keniscayaan yang jarang ditangkap publik.

Margarita menganggap sang Guru sebagai seorang genius. Mereka pun terlibat hubungan serius. Margarita bahkan rela meninggalkan suaminya dan hidup miskin dengan sang Guru.

Namun, perempuan itu lupa, sang Guru adalah seniman yang tak bisa dikurung, oleh cinta dan kekaguman seorang perempuan sekalipun. Sang Guru memilih raib dari Moskow yang seperti tak henti bergejolak.

Kisah menjadi makin kompleks ketika Margarita kembali kepada suaminya dengan hati yang memendam rasa cinta yang tak pernah padam kepada sang Guru.

Dua Kisah, Sepasang Kritik

Mengombinasikan neo-imajinasi, surealisme magis, dan kecaman-kecaman pada situasi politik, The Master and Margarita adalah dua kisah yang berkelindan di waktu yang beririsan, di momen yang tumpang-tindih.

Cerita pertama adalah tentang sang Guru dan Margarita yang mengambil bulan Mei di Moskow, di bawah pemerintahan komunis sebagai latarnya. Kisah itu membingkai –atau dalam beberapa situasi justru dibingkai oleh– cerita kedua: sebuah novel karya sang Guru yang bercerita tentang Pontius Pilatus, gubernur Romawi Yudea, yang diamanahi untuk mengadili Yesus, di Jerusalem berlatar dua ribu tahun sebelumnya.

Dibuka dengan skena turunnya seorang Iblis yang menyamar sebagai profesor ilmu hitam di Moskow pada sebuah musim semi tahun 1930-an, kita dibuat terenyak dengan hadirnya dua orang penulis –yang tak percaya Tuhan dan segala jenis kegaiban– yang menjadi manusia-manusia pertama yang Iblis temui di bumi.

Perkenalan yang kurang mengesankan itu membawa kabar buruk: kedua ateis itu memiliki nasib yang mengenaskan. Yang satu meregang nyawa oleh trem, yang satu lagi menjadi penghuni rumah sakit jiwa!

Kengerian-kengerian pun beranak pinak. Pemerintah? Mereka tahu, namun pihak berwenang hanya bertaji atas nama hukum. Di hadapan sihir, mereka adalah manekin berjalan.

Banyak kalangan menganggap ini sebagai ejekan atas pemerintahan Stalin yang masa itu gencar melakukan opresi terhadap gereja ortodoks dan organisasi-organisasi agama. ”Iblis mungkin satusatunya yang bisa meruntuhkan kedigdayaan kekuasaan masa itu,” tulis BBC ketika memasukkan novel ini dalam 100 Novel Terbaik Sepanjang Masa.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore