Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 2 Juli 2026 | 00.41 WIB

Daya Tahan Ekonomi Sektor Perkebunan Sangat Kuat, Kementan Janjikan Pemberdayaan Petani

Ilustrasi perkebunan. (Istimewa) - Image

Ilustrasi perkebunan. (Istimewa)

JawaPos.com – Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan sektor perkebunan memiliki daya tahan ekonomi yang sangat kuat sekaligus menjadi penopang perekonomian nasional. Karena itu, pemerintah berkomitmen memperkuat pemberdayaan, perlindungan, dan pendampingan bagi jutaan petani.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Dirjenbun Kementan) Ali Jamil mengatakan, sektor perkebunan telah terbukti mampu bertahan menghadapi berbagai tekanan ekonomi, termasuk saat krisis 1998.

"Jangan menganggap perkebunan sebagai sektor yang rendah. Saat krisis 1998, masyarakat yang memiliki tanaman perkebunan masih bisa bertahan. Artinya, sektor ini memiliki daya tahan ekonomi yang sangat kuat," ujar Ali Jamil dalam Focus Group Discussion (FGD) Perkebunan: Kondisi Sosial Ekonomi Pekebun dan Hilirisasi Perkebunan Rakyat yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) bersama Pemuda Tani HKTI, Rabu (1/7).

Pernyataan tersebut sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Juni 2026 yang mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) subsektor tanaman perkebunan rakyat mencapai 164,24 atau menjadi yang tertinggi dibandingkan subsektor pertanian lainnya.

Ali mengungkapkan, berdasarkan data BPS, subsektor perkebunan dijalankan oleh sekitar 10,87 juta rumah tangga usaha pertanian. Menurutnya, besarnya jumlah petani tersebut menjadi alasan penting bagi pemerintah untuk terus memperkuat sektor perkebunan.

"Maka, penting memberdayakan, melindungi dan membimbing petani. Butuh kerja keras karena memang lebih dari 90 persen pelaku usaha perkebunan adalah petani rakyat sehingga perlu penguatan. Komoditas perkebunan kita potensinya sangat besar, luasannya, hasil produktivitasnya bagus. Permasalahan krusialnya adalah hasilnya masih didominasi raw material, rantai pasok belum terintegrasi dengan baik," tegasnya.

Dalam diskusi yang sama, Sekretaris Jenderal DPN Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Mudi meminta pemerintah memberikan perlindungan terhadap komoditas tembakau yang dinilai menghadapi berbagai tantangan regulasi.

Menurutnya, tembakau merupakan sumber penghidupan sekitar 2,5 juta petani yang tersebar di 14 provinsi dan menjadi komoditas utama saat musim kemarau.

"Tapi, bertubi-tubi ancaman aturan di tingkat nasional yang mau mematikan sumber penghidupan petani, mulai dari penyeragaman kemasan rokok, pembatasan kadar nikotin dan tar, sampai pelarangan bahan tambahan. Bagaimana bisa hilirisasi tembakau terwujud kalau tidak ada perlindungan?" katanya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore