Penampakam jalur kereta api di Sumatera Barat. (PT KAI)
JawaPos.com - PT KAI (Persero) mulai mengembangkan jalur kereta api di Sumatera yang direncanakan membentang dari Aceh hingga Lampung. Dalam proyek ini, KAI menilai jalur di Sumatera memiliki sejarah panjang dalam sistem transportasi Indonesia.
Jalur di Sumbar bahkan menyimpan jejak tambang batu bara Ombilin, Pelabuhan Emmahaven atau Teluk Bayur, Sawahlunto, Lembah Anai, Pariaman, serta perubahan cara masyarakat bergerak dari masa ke masa.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, rel di kawasan ini lahir dari pembangunan sistem untuk menghubungkan tambang, pelabuhan, kota, dan masyarakat. Seiring berjalannya waktu bahkan mendukung akses wisata hingga distribusi barang.
“Sumatera Barat menunjukkan bagaimana kereta api sejak awal menjadi penghubung ekonomi, kota, pelabuhan, dan masyarakat. Jejak itu tetap relevan untuk membaca kebutuhan konektivitas Sumatra hari ini,” ujar Anne dalam keterangan tertulis, Jumat (19/6).
Jalur rel di Sumbar bermula pada akhir abad ke-19. Jalur pertama dibangun untuk menghubungkan kawasan tambang batu bara Ombilin di Sawahlunto dengan pelabuhan di Padang. Stasiun Padang mulai dibangun pada 6 Juli 1889 untuk memperlancar transportasi batu bara menuju Pelabuhan Emmahaven atau Teluk Bayur.
Lalu Stasiun Pulau Air dibangun pada 1891 oleh Staatsspoorwegen ter Sumatras Westkust dan diresmikan pada 1 Oktober 1892. Dari Padang, jaringan rel kemudian berkembang menuju Kayu Tanam, Padang Panjang, Solok, Muaro Kalaban, Sawahlunto, Pariaman, hingga Naras.
Pada masa itu, jalur kereta api Sumatera Barat menghadapi bentang alam yang berat. Rel melewati perbukitan, lembah, dan jalur menanjak. Di kawasan ini masyarakat kemudian mengenal lokomotif uap bergerigi seperti Mak Itam, ikon perkeretaapian Sawahlunto yang lekat dengan sejarah tambang Ombilin.
Berdasarkan data prasarana Divre II Sumatera Barat, total panjang jalur kereta api di wilayah tersebut mencapai 312,2 kilometer jalur rel. Saat ini, 110,9 kilometer merupakan jalur aktif, sedangkan 201,3 kilometer merupakan jalur nonaktif. Wilayah ini juga memiliki 20 stasiun dan shelter angkutan penumpang, serta 4 stasiun angkutan barang.
Pada masa sekarang kereta api di Sumbar melayani penumpang di Sumatera Barat mencakup KA Pariaman Ekspres relasi Pauh Lima–Padang–Naras, KA Minangkabau Ekspres relasi Pulau Air–Padang–Bandara Internasional Minangkabau, KA Lembah Anai relasi Kayu Tanam–Duku–Padang, serta KA wisata Mak Itam relasi Muarokalaban–Sawahlunto yang beroperasi menyesuaikan kebutuhan layanan wisata sejarah. Untuk layanan barang, KAI melayani relasi Indarung–Bukit Putus guna mendukung distribusi semen curah dan klinker.
Pada Januari–Mei 2026, layanan kereta api penumpang di Sumatera Barat melayani 913.674 pelanggan. Dengan rincian 172.548 pada Januari, 151.768 pada Februari, 188.425 pada Maret, 202.282 pada April, dan 198.651 pada Mei.
Di sisi barang, KAI di wilayah Divisi Regional II Sumatra Barat melayani 492.220 ton angkutan pada Januari–Mei 2026. Jumlah tersebut terdiri dari 299.070 ton semen dan 193.150 ton klinker.
KAI mencatat, volume pelanggan Divre II Sumatera Barat meningkat dari sekitar 1,09 juta pelanggan pada 2021 menjadi 1.978.241 pelanggan pada 2025, artinya terjadi pertumbuhan pelanggan mencapai sekitar 81 persen, dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 16 persen per tahun.
“Kereta api di Sumatera Barat dekat dengan kehidupan masyarakat. Ia melayani perjalanan harian, akses bandara, wisata, sekaligus mendukung distribusi barang,” imbuh Anne.
Potensi Sumatera Barat juga terlihat dari sektor pariwisata. Data BPS Sumatera Barat yang diolah dalam kajian reaktivasi menunjukkan perjalanan wisatawan nusantara meningkat dari 8,4 juta perjalanan pada 2021 menjadi 20,7 juta perjalanan pada 2025. Sejumlah destinasi unggulan seperti Jam Gadang, Danau Singkarak, Sawahlunto, Padang Panjang, dan Bukittinggi berada pada ruang yang dapat diperkuat melalui konektivitas kereta api.
Sedangkan potensi Sumatera Barat untuk jalur reaktivasi antara lain Naras–Sungai Limau, Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi–Limbanang, Muarokalaban–Sawahlunto, Padang Panjang–Batubual, Batubual–Solok, serta Solok–Muarokalaban. Apabila dikembangkan bertahap, jalur-jalur tersebut dapat memperluas akses ke kawasan wisata, pusat pendidikan, sentra ekonomi, dan simpul logistik di wilayah Minangkabau.
“Sejarah rel Sumatera Barat memberi pelajaran penting bahwa konektivitas selain sebagai jalur, juga menjadi akses, pertumbuhan wilayah, dan kesempatan yang lebih merata bagi masyarakat,” tutup Anne.