
Warga mengisi daya kendaraan listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) PLN di Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) baru-baru ini dinilai menjadi momentum bagi pemerintah untuk mempercepat transisi menuju kendaraan listrik. Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) menilai langkah tersebut dapat membantu masyarakat menekan biaya transportasi sekaligus mengurangi beban subsidi energi dalam jangka panjang.
Data Institute for Transportation and Development Polic (ITDP) yang dipaparkan pada AISMOLI Annual Meeting 2026 menunjukkan biaya operasional motor listrik 74–83 persen lebih murah dibanding motor bukan listrik.
Meski demikian, persepsi masyarakat terhadap penghematan ini belum sepenuhnya terbentuk karena minimnya pengalaman langsung, menjadikan perluasan akses dan edukasi sebagai agenda yang sama pentingnya dengan keterjangkauan harga.
Temuan tersebut juga mengungkapkan bahwa masyarakat tidak sekadar mendukung secara pasif. Sebanyak 89,2 persen berharap Pemerintah mewajibkan harga kendaraan listrik rendah emisi menjadi lebih terjangkau, dan 95,8 persen mendukung Pemerintah mendorong produksi kendaraan rendah emisi yang lebih masif. Lebih dari tiga perempat responden, sekitar 73,5 persen, percaya bahwa aspirasi masyarakat dapat mendorong Pemerintah bergerak lebih cepat dalam menerbitkan regulasi.
"Hasil survei ini menunjukkan bahwa Masyarakat Indonesia sudah siap, memahami manfaatnya, dan menantikan percepatan transisi energi di bidang transportasi. Bagi Pemerintah, ini jangan diposisikan sebagai beban, melainkan peluang untuk memimpin perubahan yang didukung dan diharapkan oleh mayoritas masyarakat. Efek jangka panjangnya kita akan mengurangi subsidi BBM yang tinggi," kata Ketua Umum AISMOLI, Budi Setiyadi di Jakarta, dikutip Kamis (18/6).
Menurut Budi, sejumlah pasar menunggu sinyal bahwa berbagai program dan instrumen kebijakan pemerintah yang pro adopsi kendaraan listrik di Indonesia akan hadir secara nyata dan berkelanjutan.
Namun lebih dari sekadar insentif jangka pendek, yang dibutuhkan industri kendaraan listrik adalah ekosistem kebijakan yang stabil dan dapat diprediksi.
"Kepastian arah kebijakan fiskal dan regulasi dalam jangka menengah dan panjang, mulai dari skema dukungan pembelian, kebijakan perpajakan kendaraan, hingga standar produksi, akan menentukan sejauh mana investasi industri dapat tumbuh secara berkelanjutan," ungkap Budi.
Karena itu, lanjut dia, tanpa konsistensi kebijakan, setiap gelombang adopsi yang terbentuk berisiko terhenti ketika program berakhir atau berganti. Sebagaimana pengalaman negara-negara yang berhasil mempercepat adopsi kendaraan listrik.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Kecelakaan Maut! BYD M6 Diduga Error hingga Tak Bisa Direm dan Tabrak Trotoar di Jakbar
Prediksi Skor Espanyol vs Sevilla di Liga Spanyol: Kans Los Nervionenses Curi Poin di RCDE Stadium
Kronologi Kecelakaan Maut BYD M6 di Kembangan Jakbar, Ibu dan Anak Meninggal di TKP
Prediksi Skor Marseille vs Paris FC di Liga Prancis: Kans Les Phocéens Pesta Gol di Stade Velodrome
Prediksi Skor Cagliari vs Lecce di Liga Italia: Duel Ketat di Sardinia Bisa Berakhir Imbang
Prediksi Skor Bournemouth vs Lincoln City di Carabao Cup: The Cherries Menang Lewat Adu Penalti
Kasus Keracunan MBG Berastagi Sisakan Masalah Serius, Siswa Alami Gangguan Saraf hingga Jantung
Viral Pernyataan Pribadi Deputi Bakom soal Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung Api di Indonesia
Prediksi Skor AEK Athens vs LASK Linz di Liga Champions: Tuan Rumah Pesta Gol!
Raditya Dika Gagal Pulang ke Indonesia, Pesawat dari Doha Putar Balik Usai 4 Jam di Udara
