
Banyak orang mengeluhkan lemahnya nilai Rupiah di mata Dolar AS. Namun, ada pula pihak yang meraup cuan banyak. (ANTARA)
JawaPos.com - Banyak orang mengeluhkan lemahnya nilai Rupiah di mata Dolar AS. Nilai tukar Rupiah merosot bahkan tembus Rp 17.800 per Dolar AS mengerek harga banyak kebutuhan pokok, dari pangan hingga energi yang masih bergantung pada impor. Namun di sisi lain, ada pula yang meraup cuan, tersenyum saat Rupiah ambruk.
Pengusaha mebel dan ukir di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, salah satunya, yang menikmati keuntungan di tengah menguatnya nilai tukar Dolar AS terhadap Rupiah, meskipun harga bahan pendukung produksi mebel juga mengalami kenaikan.
"Dengan adanya dolar naik tentu saja keuntungan meningkat. Eksportir sangat tertolong karena pembayaran menggunakan dolar, sementara sebagian besar bahan baku menggunakan mata uang lokal," kata Sekjen DPP Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Maskur Zaenuri.
Menurut dia, kondisi penguatan dolar saat ini berbeda dibanding krisis tahun 1998 karena faktor ekonomi global lebih kompleks. Meski begitu, sektor ekspor mebel Jepara masih cukup diuntungkan selama permintaan dari pembeli luar negeri tetap stabil.
Secara umum, kata dia, kondisi industri mebel ekspor Jepara masih cukup aman di tengah penguatan USD. Keuntungan eksportir diperkirakan meningkat seiring kenaikan kurs Dolar AS dari kisaran Rp 16 ribu menjadi Rp 17.781 per USD.
Meski, ia mengungkapkan kenaikan harga juga terjadi pada bahan penolong dan bahan pendukung produksi, terutama yang berbasis plastik seperti foam sheet, styrofoam, dan material kemasan lainnya. Bahkan, beberapa komponen mengalami kenaikan harga sampai 100 persen.
"Hanya saja bahan penolong ini tidak terlalu mendominasi biaya produksi, sehingga kenaikan keuntungan dari kurs dolar masih bisa menutup kenaikan biaya tersebut," ujarnya dikutip dari Antara, Kamis (28/5).
Maskur menilai penjualan produk mebel Jepara secara umum masih relatif stabil. Namun, untuk produk garden furniture atau furnitur luar ruang mulai mengalami penurunan permintaan akibat faktor cuaca di negara tujuan ekspor seperti Eropa dan Amerika.
Menurut dia, musim panas di sejumlah negara tujuan ekspor saat ini tidak berlangsung optimal karena cuaca masih sering hujan dan suhu relatif rendah. Kondisi itu membuat permintaan produk garden furniture menurun.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
Prediksi Skor Rennes vs Olympiakos: Tuan Rumah Andalkan Kekuatan Bermain di Roazhon Park
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Club Brugge di Liga Champions: Blauw-Zwart Bidik Kemenangan Tandang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Bonek Murka! Persebaya Dibantai Kendal Tornado, Uston Nawawi Gantikan Tavares?
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
8 Hal yang Dianggap Membosankan oleh Ekstrovert, tetapi Justru Menjadi Kebahagiaan bagi Introvert

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022