Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 4 Juli 2025 | 21.18 WIB

Raup Belasan Juta Rupiah per Bulan dari Sulap Limbah Karung Goni jadi Produk Fashion

Produk berbasis eco-fashion Tatik Nurhayati kini tak hanya dipasarkan di Surabaya, tapi juga menembus Jakarta, Bali, Balikpapan, Tasikmalaya, hingga Ambon. (istimewa) - Image

Produk berbasis eco-fashion Tatik Nurhayati kini tak hanya dipasarkan di Surabaya, tapi juga menembus Jakarta, Bali, Balikpapan, Tasikmalaya, hingga Ambon. (istimewa)

JawaPos.com – Di tangan Tatik Nurhayati, karung goni tak sekadar limbah. Lewat workshop Namine Goni di Jalan Wonosari Kidul 2 No 21, Wonokromo, bahan bekas itu disulap menjadi tas, dompet, runner meja, hingga sarung bantal yang bernilai jual tinggi. Produk berbasis eco-fashion itu kini tak hanya dipasarkan di Surabaya, tapi juga menembus Jakarta, Bali, Balikpapan, Tasikmalaya, hingga Ambon.

Usaha itu dirintis empat tahun lalu. Awalnya Tatik memproduksi dekorasi rumah. Namun karena banyaknya pesaing, ia beralih ke produk fashion. Goni dipilih karena kuat, unik, dan ramah lingkungan.

"Saya kombinasikan dengan tenun, denim, dan katun supaya lebih menarik," ujarnya, Jumat (4/7).

Tatik menggunakan tiga jenis goni. Yakni goni meteran, goni bekas kopi dari Kapal Api, dan goni pembungkus cengkeh yang warnanya lebih gelap. Goni baru langsung dipola, sedangkan goni bekas harus dicuci dan dijemur sebelum dijahit. Dalam sebulan, omzetnya rata-rata Rp 10–12 juta. Jika sedang ramai pameran, bisa tembus Rp 15 juta.

Penjualannya banyak didukung pameran dan platform digital seperti Instagram. Tatik juga menjalin kerja sama dengan perusahaan untuk suplai karung bekas dan penjualan. Produknya sempat dipesan Bank Indonesia dalam jumlah besar sebagai suvenir. Dia dibantu enam pegawai tetap dan belasan mitra pengrajin untuk memenuhi pesanan.

Setiap produk dibuat tematik dan menyesuaikan tren. Tas body bag, dompet koin, hingga sarung bantal untuk kursi kayu jadi andalan. Banyak juga pembeli yang request dengan tema unik. Harga dibanderol dari Rp 15 ribu hingga Rp 450 ribu.

"Kalau produksi massal, sehari bisa selesai 10–15 item," katanya.

Kendala utama ada pada pemasaran. Tatik mengandalkan pameran dan menitipkan produknya di galeri Pemkot serta lewat Instagram. Penjualan paling besar dari pameran. Menurutnya, tantangan utama adalah saat tidak ada pameran. Sehingga hanya mengandalkan dari galeri dan Instagram.

"Saya manfaatkan momen pameran juga untuk belajar dan memantau tren," pungkasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore