Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 Juli 2025 | 00.14 WIB

Air Bersih Masih jadi Barang Mewah di NTT, Apa Solusinya?

Ilustrasi krisis air (Dok. Wateroam) - Image

Ilustrasi krisis air (Dok. Wateroam)

JawaPos.com - Ketika sebagian kota besar sibuk bicara air mineral berlabel premium, di banyak pelosok Indonesia, air bersih masih menjadi barang langka. Di Nusa Tenggara Timur (NTT), kenyataan ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bahkan di sejumlah desa, air layak minum lebih sulit didapat dibandingkan sinyal ponsel.

Situasi itulah yang menjadi latar belakang peresmian sarana air bersih dan air minum aman di SD GMIT Oenaek, Kupang, Selasa (15/7). Fasilitas ini merupakan hasil kolaborasi antara pihak swasta dalam hal ini Danone, pemerintah daerah, dan sejumlah organisasi masyarakat sipil. 

Namun, momen ini juga menyentil realitas yang lebih besar: akses air bersih di Indonesia masih jauh dari merata. "Data PBB menunjukkan satu dari empat orang di dunia tidak memiliki akses terhadap air bersih. Dan setiap hari, seribu anak balita meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan air kotor," kata Retno Marsudi selaku Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Urusan Air, yang hadir dalam peresmian tersebut Selasa (15/7).

Indonesia tidak terkecuali. Meski pemerintah mencanangkan air minum dan sanitasi sebagai prioritas pembangunan berkelanjutan, faktanya jutaan warga masih bergantung pada sumber air tak layak konsumsi. 

Di NTT, hal ini bahkan berkelindan langsung dengan persoalan gizi dan stunting. Angka stunting di NTT masih yang tertinggi secara nasional, mencapai 35,3 persen menurut data SSGI 2022. Dan salah satu penyebab utamanya adalah buruknya sanitasi dan minimnya akses air bersih yang menghambat penyerapan gizi.

Di tengah situasi ini, program pembangunan sarana air bersih dan distribusi saringan air oleh sejumlah lembaga memang menjadi solusi sementara, namun belum menjawab persoalan struktural. 

Sebanyak 1.500 unit filter air dibagikan ke warga, sebagian lewat skema subsidi. Namun pertanyaannya: mengapa solusi seperti ini masih dibutuhkan di negara yang mengklaim diri sebagai ekonomi besar di Asia Tenggara?

"Sudah lebih dari dua dekade, akses air bersih masih menjadi mimpi di banyak desa kami," ujar drg. Iin Anggraeni, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT. 

Ia juga menyebut, kolaborasi lintas sektor memang penting, tapi tidak cukup jika negara tidak mempercepat investasi air bersih secara menyeluruh. Selain membangun fasilitas air bersih di lima desa, program ini juga menyasar penurunan angka stunting melalui edukasi gizi dan sanitasi. 

Namun perlu dicatat, inisiatif semacam ini lahir karena ada kekosongan layanan publik. Tanpa intervensi sistemik dari negara, infrastruktur dasar seperti air bersih akan terus menjadi ruang kosong yang diisi oleh pihak luar, sesekali, bukan secara berkelanjutan.

"Kami meyakini ketersediaan akses air bersih maupun air minum aman berkaitan erat dengan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat. Kami berharap dengan diresmikannya sarana air bersih dan diserahterimakannya sarana air minum aman berupa water filter ini maka dapat mendorong penurunan angka stunting, dan meningkatkan kesehatan masyarakat NTT," tegas Vera Galuh Sugijanto, VP General Secretary Danone Indonesia.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore