Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 6 Maret 2025 | 21.12 WIB

Ribuan Karya Terbaik Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia Mejeng di IFEX 2025

Booth salah satu peserta  Pameran Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 202  yang berlangsung  6 - 9 Maret 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. (Foto: Dimas Choirul/JawaPos.com) - Image

Booth salah satu peserta Pameran Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 202 yang berlangsung 6 - 9 Maret 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. (Foto: Dimas Choirul/JawaPos.com)

JawaPos.com - Pameran furnitur terbesar di Indonesia, Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2025, resmi dibuka hari ini di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Acara yang berlangsung 6- 9 Maret 2025 ini menampilkan karya-karya terbaik dari para pengrajin lokal dan industri mebel Indonesia, dengan partisipasi lebih dari 500 peserta pameran dan 3.000 produk unggulan.

Presiden Direktur Dyandra Promosindo, Daswar Marpaung, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya acara ini. "Sebagai pameran mebel dan kerajinan unggulan di Indonesia, IFEX 2025 hadir dengan skala yang lebih besar, menempati area seluas 65.000 meter persegi, termasuk penambahan area di Grand Hall,” ujarnya.

Daswar menambahkan bahwa IFEX 2025 tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga wadah untuk memperluas pasar global bagi para pengrajin lokal. Tahun ini, IFEX merayakan 10 tahun komitmen dalam mendorong pertumbuhan industri mebel dan kerajinan Indonesia di kancah internasional.

"Kami berharap IFEX 2025 tidak hanya menjadi momentum penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga menjadi wadah efektif bagi para pengrajin lokal untuk meningkatkan daya saing di pasar global,” tambah Daswar.

Sementara itu, Ketua Himpunan Mebel Industri dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, menyoroti potensi ekspor industri mebel Indonesia yang masih memiliki ruang untuk tumbuh. “Transaksi kami di pameran ini biasanya mencapai sekitar 300 ribu USD, dan setelah pameran bisa mencapai 1 miliar USD," kata dia.

Meski demikian, kata Sobur capaian ekspor Indonesia masih jauh dibandingkan dengan China yang sudah mengekspor hampir 80 miliar USD dan Vietnam yang mendekati 20 miliar USD. "Indonesia baru mencapai 2,5 miliar USD, jadi masih ada banyak ruang untuk kita kejar,” jelasnya.

Ia juga meminta dukungan pemerintah dalam hal regulasi. Misalnya, terkait STLK (Sertifikat Legalitas Kayu). "Kami berharap regulasi ini bisa direduksi karena cukup dilakukan di hulu saja. Ini akan sangat membantu industri kami,” tambah Sobur.

Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, dalam kesempatan yang sama, menyampaikan apresiasinya terhadap industri mebel Indonesia yang terus menunjukkan kinerja positif.

Industri furnitur, kata dia, terus berkontribusi bagi perekonomian nasional, terutama dengan tren furnitur ramah lingkungan, terintegrasi dengan teknologi, dan desain yang multifungsi, modular, serta customized.

Faiso juga berkomitmen untuk membantu para pengusaha mebel dan kerajinan di Indonesia dalam hal regulasi untuk terus tumbuh. " Untuk tumbuhnya industri, dukungan Regulasi akan sangat menentukan kekuatan dan pertumbuhan dari industri tersebut termasuk di dalamnya industri furniture kerajinan mabel," pungkasnya.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore