
Satoria Pharma melakukan ekspor perdana produk infus ke Taiwan dan Kamboja. (Billy/Jawa Pos)
JawaPos.com - Industri farmasi dan alat kesehatan tanah air terus melangkah maju. Salah satu pelaku industri asal Jawa Timur, PT Satoria Aneka Industri (Satoria Pharma), berhasil mencetak sejarah dengan melakukan ekspor perdana produk infus ke Taiwan dan Kamboja.
Presiden Direktur Satoria Pharma, Alim Satria, mengungkapkan bahwa ekspor perdana ini mencakup 20 kontainer berukuran 40 kaki. Produk tersebut telah memenuhi standar ketat FDA Taiwan, membuktikan bahwa kualitas produk farmasi Indonesia mampu bersaing di pasar global.
“Keberhasilan ini menunjukkan pengakuan pasar internasional terhadap produk kami. Namun, ini bukan berarti kami meninggalkan pasar domestik, karena peluang pengembangan pasar infus di Indonesia masih sangat besar,” ujar Alim, Kamis (5/12).
Menurutnya, tingkat penggunaan infus di Indonesia masih rendah, dengan rasio 1:1 terhadap jumlah penduduk, jauh di bawah negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina (1:3) serta Cina (1:8).
Selama tiga tahun terakhir, Satoria Pharma mencatat pertumbuhan lebih dari 50 persen per tahun dan melayani 2.400 dari total 3.200 rumah sakit di Indonesia. Dengan kapasitas produksi 160 juta produk infus per tahun, perusahaan ini menguasai 45 persen pangsa pasar infus nasional, menjadikannya produsen terbesar di Indonesia.
Selain produk infus, anak perusahaan Satoria Pharma, PT Satoria Medika Industri, tengah mengembangkan produk medis sekali pakai seperti IV set, IV catheter, jarum suntik, dan vacuum blood tube. Langkah ini bertujuan memperluas kontribusi dalam memenuhi kebutuhan fasilitas kesehatan, baik di dalam maupun luar negeri.
Meski demikian, tantangan tetap ada, khususnya dalam pasokan bahan baku seperti garam farmasi untuk infus dan hemodialisis.
“Kebijakan pemerintah untuk mendorong penggunaan bahan baku lokal belum sepenuhnya terwujud karena ketersediaannya masih menjadi kendala. Kolaborasi sangat diperlukan untuk memastikan keberlanjutan produksi vital bagi masyarakat,” ungkap Alim.
Managing Director Satoria Pharma, Adi Pranoto Alim, menambahkan bahwa perusahaan sedang mempersiapkan dua lini produksi tambahan yang akan beroperasi pada 2026 dan 2028. Nantinya, kapasitas produksi akan meningkat menjadi 320 juta produk per tahun, mampu memenuhi kebutuhan nasional sekaligus ekspansi internasional.
“Kami memiliki rencana ekspansi ke Filipina, Myanmar, Malaysia, Yaman, dan Irak. Ini menjadi langkah penting untuk memperluas jejak kami di pasar global,” ujar Adi.
Dengan langkah-langkah strategis ini, Satoria Pharma terus berupaya meningkatkan kontribusinya terhadap industri kesehatan tanah air dan memperkuat posisi Indonesia di kancah global.

5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
11 Tempat Berburu Sarapan Bubur Ayam Paling Enak di Bandung, Layak Masuk Daftar Wisata Kuliner!
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Kuliner Nasi Goreng Paling Enak di Bandung, Tiap Hari Pelanggan Rela Antre Demi Menikmati Kelezatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
