
Ilustrasi berbagai produk Tupperware. (CNA)
JawaPos.com - Tupperware, salah satu jenama peralatan makan dan minum berbahan plastik yang terkenal di dunia selama beberapa tahun ini memang sedang menghadapi badai. Tren yang bergeser, kebiasaan masyarakat yang berubah sementara produk Tupperware begitu-begitu saja membuat mereka tak mampu bertahan.
Kabar terbaru mengenai Tupperware, dilansir dari Guardian, Tupperware telah mengajukan kebangkrutan di kantor pusat mereka di Amerika Serikat (AS) dan sedang berupaya mencari pemilik baru.
Kebangkrutan Tupperware sendiri sudah diwanti-wanti sejak beberapa waktu lalu. Perusahaan tersebut memperingatkan tahun lalu bahwa mereka berisiko bangkrut kecuali mereka mengumpulkan dana darurat.
Para petinggi mengatakan mereka mencari pembeli potensial yang dapat “melindungi merek ikoniknya dan memajukan transformasi Tupperware menjadi perusahaan yang mengutamakan teknologi digital”.
Presiden dan kepala eksekutif Tupperware, Laurie Ann Goldman, mengatakan, selama beberapa tahun terakhir, posisi keuangan perusahaan sangat terdampak oleh lingkungan ekonomi makro yang menantang.
"Akibatnya, kami menjajaki berbagai opsi strategis dan memutuskan bahwa ini adalah jalan terbaik ke depan. Proses ini dimaksudkan untuk memberi kami fleksibilitas penting saat kami mencari alternatif strategis untuk mendukung transformasi kami menjadi perusahaan yang mengutamakan teknologi digital dan lebih siap melayani para pemangku kepentingan kami," kata Laurie Ann.
Sebagai informasi, perusahaan tersebut, yang didirikan oleh ahli kimia Earl Tupper pada tahun 1946 dan dikenal karena fitur isolasi yang dipatenkannya, telah memulai proses kebangkrutan bab 11 AS karena para bosnya mengatakan bahwa keuangannya telah "sangat terdampak" oleh lingkungan ekonomi.
Tupperware menjadi terkenal pada tahun 1950-an dan 1960-an ketika para tenaga penjual, yang sebagian besar adalah perempuan, mengadakan pesta Tupperware untuk menjual berbagai wadah plastiknya.
Tupperware bahkan sempat menjadi tren bisnis tersendiri dengan metode pemasarannya yang unik, kesempatan untuk mendapatkan penghasilan tambahan bagi rumah tangga pemasarnya dengan jadwal yang fleksibel dan tidak mengharuskan mereka bekerja penuh waktu di luar rumah. Tren tersebut juga merambah ke Indonesia, di mana kaum perempuan yang menjadi sasaran pasarnya.
Perusahaan yang berkantor pusat di Massachusetts ini akhirnya menjadi identik dengan tempat penyimpanan makanan rumahan dan mengalami kebangkitan selama pandemi virus corona ketika pelanggan yang terkurung menghabiskan lebih banyak waktu untuk memasak di rumah. Namun, sejak saat itu penjualannya menurun karena perusahaan ini kesulitan menyamai pesaing yang mempromosikan produk mereka kepada kaum muda di TikTok dan Instagram. (*)

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
