Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 31 Maret 2024 | 01.25 WIB

Pertanian Ramah Lingkungan Tingkatkan Produktivitas Petani Milenial di Kediri

Kementan terus menerus melakukan berbagai terobosan melalui program-program andalan, salah satunya Pertanian Ramah Lingkungan. - Image

Kementan terus menerus melakukan berbagai terobosan melalui program-program andalan, salah satunya Pertanian Ramah Lingkungan.

JawaPos.com - Kementerian Pertanian (Kementan) terus menerus melakukan berbagai terobosan melalui program-program andalan. Salah satunya dengan menerapkan pertanian ramah lingkungan seperti yang dilakukan para petani di Kabupaten Kediri, Jawa Timur (Jatim).

Kabupaten Kediri merupakan salah satu wilayah penghasil beras terbesar di Jawa Timur. Tanah yang subur membuat hasil produk pertanian Kabupaten Kediri tak hanya untuk mencukupi kebutuhan lokal, melainkan juga jadi penopang lumbung pangan Jatim hingga nasional.

Salah satu produsen beras di kediri adalah Kelompok Tani "Tani Makmur Tosaren". Dengan mengembangkan varietas Sertani 13A dengan umur tanaman sekitar 100 hari, hasil ubinan Kelompok Tani Makmur Tosaren mampu mencapai 4,94 kg setara 7,9 ton per hektare (Ha). Dari hasil ubinan tersebut berarti produktivitas padi di Kediri tersebut masuk dalam kategori bagus.

Menurut Ketua Kelompok Tani Makmur Tosaren, Yohan Pramuda Arifianto, hasil panen yang didapat dapat ditingkatkan lagi. "Saat ini kami mengejar potensi beras sehat, bukan kuantitasnya," ujar Ketua KTNA Kabupaten Kediri ini dalam keterangannya, Sabtu (30/3).

Ketika ditanyakan terkait penggunaan pupuk, Agus Fatoni selaku penyuluh yang mendampingi Yohan mengatakan bahwa rata-rata petani di Kediri telah memanfaatkan pupuk kalium humat serta pupuk organik. "Kami berupaya untuk menjaga kualitas tanah dengan menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan seperti pupuk," jelas Fatoni.

Selain memproduksi panen, para petani juga terus berupaya memperbaiki tanah. Karena makanan yang sehat berasal dari budidaya yang sehat. Ini sebagai upaya mendukung pola hidup sehat bagi kita dan generasi selanjutya.

"Untuk itu saya memberi keyakinan kepada petani bahwa membudidayakan tanaman yang ramah lingkungan tanpa bahan kimia bisa diterapkan dan hasilnya sangat memuaskan, seperti diterapkan Yohan," jelas Fatoni lagi.

Rata-rata pH tanah mengalami kenaikan dari sebelumnya. Jika semula pH 4–5, kini menjadi pH 5,5–6, kandungan bahan organik didalam tanah juga meningkat, penggunaan pupuk dan pestisida kimia sangat minim, serta hasil panen rata-rata menunjukkan peningkatan antara 10-20 persen.

Tak hanya pupuk, Yohan juga menggunakan asap cair serta bahan formulasi dari limbah rumah tangga. Bahan-bahan tersebut menjadi andalannya untuk meningkatkan hasil produksi dan penanganan hama penyakit.

Yohan beserta anggota kelompoknya memanfaatkan penggunaan mekanisasi pertanian, seperti rice transplanter di awal tanam dan combine harvester di waktu panen. Dengan demikian, sangat memengaruhi efisiensi biaya dan efektivitas waktu serta tenaga kerja yang digunakan.

"Karena dengan memanfaatkan alat dan mekanisasi pertanian, bibit dan pupuk dengan kualitas baik maka akan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi padi kita," urai Fatoni.

Terakhir, Fatoni mengajak para petani untuk menghasilkan beras terbaik agar kualitas pangan yang tersaji di meja makan pun terjaga.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore