
EKSPLORASI SETAHUN: Rafida Nur Aini, owner Mevidini, menunjukkan beberapa produk perhiasan dalam acara Wirausaha Muda Mandiri di Surabaya beberapa waktu lalu.
Bisnis perhiasan memang bukan bidang yang ditekuni sembarang orang. Harus terampil dan tahu desain yang bisa menarik konsumen. Jika prasyarat itu terpenuhi, margin yang bisa didapat sangat menggiurkan.
RAFIDA Nur Aini merupakan salah seorang pengusaha yang beruntung. Bekal pendidikannya masih ada hubungan dengan bisnis yang digeluti saat ini. Dia lulusan program studi desain produk dari Institut Teknologi Bandung (ITB). ”Masalahnya, saya ini orangnya suka keterampilan kasar. Bukan menggambar di tablet,” jelasnya.
Karena itu, saat harus mengerjakan tugas akhir kuliah, dia memutuskan untuk membuat perhiasan. Sayang, jenjang perkuliahannya juga tak membekalinya dengan ilmu membuat perhiasan. Untuk itu, dia harus mendatangi perajin perhiasan di Bandung.
Selama sebulan penuh, dia terus datang ke tempat perajin untuk melihatnya bekerja. Perlahan, Rafida belajar cara membuat perhiasan. ”Meski tak secara langsung mengajari, saya diperbolehkan lihat sambil tanya-tanya. Dari sana saya akhirnya melakukan tugas akhir dan memulai usaha,” ungkapnya.
Keputusannya bisa dibilang cukup nekat. Pada puncak pandemi, persisnya 2020, dia mengumpulkan uang Rp 4,7 juta setelah setahun penuh eksplorasi. Modal tersebut digunakan untuk membeli alat-alat produksi. Mulai bor, alat pembakaran, sampai alat pengemas.
Di dunia perhiasan, kompetitor pasti ada. Namun, kompetisinya tak seketat makanan dan minuman. Karena itu, dia mengatakan, kesempatan di dunia tersebut cukup besar. ”Yang paling penting, desainnya harus menarik. Kita harus terus berinovasi mengikuti tren yang ada,” bebernya.
Soal produksi, keberhasilannya memang tidak bisa 100 persen. Dari 20 perhiasan yang dibuat, biasanya ada satu yang gagal. Namun, itu sebenarnya tak masalah mengingat perhiasan bisa didaur ulang.
Apalagi, margin yang ditawarkan dalam produk perhiasan cukup besar. Keuntungannya bisa mencapai 50–70 persen. Karena itu, produk gagal dinilai cukup kecil. ”Apalagi, di awal saya memproduksi kuningan. Harganya cuma Rp 15 ribu per gram,” ungkapnya.
Beruntung, nilai estetika yang dimiliki Rafida cocok dengan selera masyarakat. Usahanya pun dapat tumbuh secara pesat. Dalam waktu tiga tahun, dia bisa memperluas jangkauannya ke level nasional.
Sekali produksi, timnya yang berada di Bandung bisa membuat ratusan perhiasan. Rekanannya di Bali bahkan sanggup memproduksi ribuan perhiasan dalam satu kali produksi. ”Tapi, memang kami tak buat banyak untuk satu jenis produk. Karena perhiasan kan bukan kebutuhan primer yang setiap hari dibeli,” jelasnya.
Tipsnya adalah terus memproduksi model perhiasan yang baru. Saat produk yang lama menipis, barulah dia melakukan restock. Namun, dia tak bakal menghapus model-model lama tersebut. Pasalnya, kekuatan paling utama dalam bisnis perhiasan merupakan portofolio. Semakin beragam model yang disediakan, penjualan bakal terus tumbuh. ”Yang paling penting, kita harus terus mencari ide untuk produk yang berbeda, namun tetap indah. Sehingga semua selera bakal terpenuhi,” tuturnya.
Produksi perhiasan memang punya beberapa segmen berbeda. Misalnya, produksi perhiasan custom yang biasanya menunggu pesanan. Usaha itu punya risiko paling tinggi karena biasanya dibuat menggunakan logam mulia. Saat produksinya gagal, biaya mendaur ulang cukup tinggi.
Kedua, produksi reguler yang biasanya mengandalkan ide-ide dari desainer. ”Terakhir, saya akhirnya juga menyediakan layanan manufakturing. Supaya calon-calon pengusaha bisa lebih mudah memulai dengan bekal desain mereka sendiri,” jelasnya. (bil/c19/fal)
---
TIPS MEMULAI USAHA PERHIASAN

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Harga Pasaran 4 Pemain Lokal Ini Bikin Kaget! Meroket usai Bawa Persebaya Surabaya Finis Papan Atas
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Ramadhan Sananta, Mesin Gol Baru Era Bernardo Tavares
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
