
Ilustrasi pabrik obat P Indofarma Tbk di Cikarang, Jawa Barat.
JawaPos.com - PT Indofarma (Persero) Tbk menargetkan bisa merampungkan enam proyek pengembangan produk dengan investasi sekitar Rp 200 miliar pada akhir tahun ini, sehingga proyek-proyek tersebut akan beroperasi pada awal tahun depan.
Direktur Utama INAF, Arief Pramuhanto usai pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Kamis (20/5) mengatakan perseroan terus berupaya menangkap peluang bisnis demi mencapai pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan," katanya.
Sepanjang kuartal I 2021, Indofarma mampu membukukan kenaikan penjualan yang siginifikan menyusul strategi perusahaan menggenjot penjualan Obat Ethical dan Alat Kesehatan terkait Covid-19. Sepanjang tiga bulan pertama 2021, perusahaan farmasi milik BUMN ini membukukan penjualan bersih Rp 373,20 miliar, naik 152 persen dibandinhg periode yang sama tahun 2020 yang tercatat sebesar Rp 148,16.
Arief mengatakan peningkatan penjualan tersebut ditopang dari penjualan segmen Ethical sebesar Rp 191,87 miliar dan Alat Kesehatan sebesar Rp 175,49 miliar.
Keberhasilan perusahaan meningkatkan penjualan tersebut berkontribusi positif pada pencapaian laba bersih Perseroan sebesar Rp 1,8 miliar, setelah mengalami kerugian bersih Rp 21,43 miliar pada periode yang sama tahun buku 2020.
Liabilitas Perseroan meningkat sebesar 8,29% dari yang semula Rp 1,28 triliun menjadi Rp 1,38 triliun pada kuartal pertama tahun 2021. Aset Perseroan mengalami peningkatan 6,32% dari yang semula Rp 1,71 triliun menjadi Rp 1,82 triliun pada kuartal pertama tahun 2021.
Terkait dengan investasi baru yang dikembangkan, Indofarma berencana mengembangkan 6 proyek pengembangan produk dan 1 proyek pendukung untuk memastikan proyek pengembangan produk tersebut dapat berjalan dengan baik dengan nilai pembiayaan investasi Rp 169,86 miliar dan modal kerja Rp 30 miliar.
Diantaranya untuk mengembangkan kemandirian produk alat kesehatan Indonesia, Perseroan akan melakukan pembangunan pabrik Melt Blown yang merupakan bahan baku masker dengan nilai pembiayaan investasi Rp 14,86 miliar dan modal kerja Rp 5 miliar, pabrik Hospital Furniture dengan nilai pembiayaan investasi Rp 15 miliar dan modal kerja Rp5 miliar, pabrik sarung tangan atau gloves dengan nilai pembiayaan investasi Rp 20 miliar dan pabrik Catheter dengan nilai pembiayaan investasi Rp 50 miliar dan modal kerja Rp 10 miliar.
Sementara untuk pengembangan produk Natural Extract perusahaan penyiapkan pembiyaan investasi sebesar Rp 30 miliar. Untuk pengembangan Central Processing Facility, nilai pembiayaan investasi yang digunakan Rp 30 miliar dan modal kerja Rp 10 miliar. Nilai pembiayaan investasi untuk Supporting Function sebesar Rp 10 miliar.
"Akhir tahun ini, semua fasilitas produksi dan pendukung yang baru tersebut ditargetkan sudah selesai dan siap beroperasi pada awal 2022," pungkas Arief.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
