Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 23 Maret 2018 | 21.52 WIB

1.300 Siswa SMP se-Solo Raya Jalani Pemeriksaan Punggung

Deteksi Skoliosis: Sejumlah pelajar tengah mengikuti pemeriksaan dini skoliosis di RS Ortopedi, Prof, dr. R. Soeharso, Sukoharjo, Jumat (23/3). - Image

Deteksi Skoliosis: Sejumlah pelajar tengah mengikuti pemeriksaan dini skoliosis di RS Ortopedi, Prof, dr. R. Soeharso, Sukoharjo, Jumat (23/3).

JawaPos.com - Rumah Sakit (RS) Ortoedi Prof. dr. R. Soeharso, Sukoharjo mengadakan pemeriksaan dini skoliosis terhadap pelajar, Jumat (23/3). Total ada 1.300 siwa Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Solo Raya yang menjalani pemeriksaan. Banyaknya peserta agar kegiatan ini sekaligus masuk Museum Rekor Indonesia (Muri).


Pemeriksaan dini skoliosis atau pembengkokan tulang belakang terhadap pelajar sudah dimulai sejak pukul 07.00 WIB. Ribuan pelajar tampak sudah mengantre. Mereka mengisi daftar hadir terlebih dahulu sebelum masuk ruang pemeriksaan.


Berbagai ekspresi diperlihatkan dari para pelajar. Ada yang merasa penasaran, takut dan biasa saja. Beberapa di antara pelajar juga saling bertanya dengan temannya yang belum begitu paham dengan kelainan skoliosis.


Meski begitu, satu persatu pelajar pun akhirnya masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Kondisi ruangan memang agak redup. Kondisi ini juga membuat pelajar semakin deg-degan saat akan menjalani pemeriksaan.


Seperti yang diungkapkan Dien Sonia, 14. Pelajar dari SMP Negeri 2 Kartasura, Sukoharjo itu mengaku sempat takut saat akan diperiksa. Terlebih dia sebelumnya belum pernah menjalani pemeriksaan.


"Tadi di suruh membungkuk dan dilihat ada pembengkokan atau tidak. Takut jelas ada. Tapi setelah melihat teman-teman yang tidak takut, jadi saya tidak takut lagi," ujarnya kepada JawaPos.com. Dien pun mengaku lega setelah dirinya dinyatakan negatif skoliosis.


Pemeriksaan yang dilakukan tim dokter berlangsung antara tiga sampai lima menit. Dokter melakukan pengecekan dengan meraba tulang belakang siswa. Untuk pengecekan, para siswa diminta untuk membungkuk dalam posisi berdiri.


Kabid Pelayanan Medis Rumah Sakit Ortopedi dr Retno Setianing menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk mendeteksi dini skoliosis. Sehingga bila ditemukan ada kelainan, bisa dilakukan penanganan sejak dini.


"Skoliosis itu adalah gejala pembengkokan tulang punggung ke samping. Gejala ini banyak terjadi pada anak yang dalam usia pertumbuhan," ungkap spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi itu.


Jika ada anak yang positif mengalami skoliosis, akan dilakukan penanganan secara berkelanjutan. Dengan begitu, pembengkokan tidak akan semakin parah. "Tetapi jika pembengkokan sudah lebih dari empat puluh lima derajat, maka harus dilakukan operasi," ucapnya.

Editor: Sofyan Cahyono
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore