
Photo
JawaPos.com - Gerakan G30 PKI di Jakarta pada tahun 1965 berdampak kepada beberapa daerah. Salah satunya di Pulau Kemaro, Palembang, Sumsel. Pulau Kemaro menjadi saksi bisu tempat pembuangan hingga pembantaian anggota organisasi terlarang tersebut.
Salah satu sejarahwan Kota Palembang, Kemas A.R. Panji mengatakan, memang banyak cerita bahwa Pulau Kemaro merupakan tempat pembuangan hingga pembantaian anggota PKI di Sumsel. Namun, belum ada pembuktian jika cerita itu benar atau tidaknya hingga kini.
Terlebih lagi, saat ini saksi hidup peristiwa bersejarah tersebut sudah sangat minim sehingga sulit untuk mencari kebenarannya.
"Walaupun ada saksi yang mengetahui peristiwa tersebut, mungkin sudah sangat tua karena peristiwa tersebut sudah sekitar 58 tahunan," katanya saat ditemui JawaPos.com, Minggu (30/9).
Meskipun begitu, ia mengaku bukan tidak mungkin cerita tersebut benar karena dari beberapa analisis menerangkan bahwa Pulau Kemaro jauh dari pusat kota. Bahkan, mencapai 6 kilometer. Selain itu, di Pulau tersebut sangat sepi sehingga dibuat kamp khusus untuk menahan para terduga PKI.
Ia menerangkan, pembuangan dan pembantaian ini bukan terjadi pada saat peristiwa G30S PKI melainkan pasca G30S PKI atau sejak dimulainya orde baru kepemimpinan Presiden Soeharto. Kemudian, yang berkaitan dengan PKI ditangkap sehingga beberapa daerah membuat kamp khusus untuk menahannya.
Kemudian, di kamp tersebut diselidiki lagi apakah memang benar ada kaitannya atau tidak. Jika tidak maka akan dilepas dan sebaliknya berkaitan maka akan dibunuh.
"Pembantaian ini ada yang cerita dimasukkan ke dalam karung dan ditenggelamkan di Sungai Musi ada juga yang ditembak. Jadi banyak versi pembunuhannya," ujarnya.
Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya Pulau Kemaro berkembang dan dibangun seperti Klenteng dan lain sebagainya, hingga saat ini menjadi salah satu tempat wisata di Kota Palembang. Meskipun begitu, masih ada menyisahkan bangunan yang sudah tua tepat di belakang pulau tersebut.
"Bangunan tua ini sudah rusak tak berbentuk lagi, mungkin disitulah lokasinya. Tapi hingga kini belum ada pembuktian," tutup Kemas.
Sementara itu, salah satu pemandu wisata Kota Palembang yang sudah berusia 60 tahun, Abi Sofian juga membenarkan cerita tersebut.
Ia mengaku memang dahulunya pulau tersebut terpencil dan jauh dari perkotaan. Ini kemudian, dijadikan tempat pembuangan dan pembantaian PKI di Sumsel.
"Ini zamannya Soeharto, dan beruntunglah PKI tersebut dihilangkan karena memang sangat merusak," ujarnya. Meskipun begitu dirinya enggan menerangkan lebih lanjut kejadian pembuangan dan pembantaian PKI.
Ia mengaku Pulau Kemaro ini terbentuk karena terjadinya erosi 9 sungai di Sumsel yang berpusat di pulau tersebut sehingga banyak tatanan di dalam sungai terendap hingga membentuk pulau. Pulau itu juga mengapung menyesuaikan kondisi air.
Namun, seiring dengan perkembangan zaman banyak cerita dongeng tercipta hingga kini tidak ada pembuktiannya. "Beberapa dongeng ini tersebar hingga menjadikannya sebuah tempat wisata khas di Palembang," tutupnya.

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
