
SMA Windu Wacana Kota Cirebon dianggap tidak favorit karena lokasinya dekat dengan TPU, Senin (16/7).
JawaPos.com - Sejak membuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada 10 Juni lalu, baru 15 calon siswa yang mendaftar di SMA Windu Wacana. Dari tahun ke tahun, sekolah di bawah naungan Yayasan Budi Arti itu dianggap bukan sekolah favorit sebagai sekolah pilihan utama calon siswa baru.
Salah satu pengurus Yayasan Budi Arti, Wida mengatakan, pandangan masyarakat yang menilai sekolah swasta bukan sekolah favorit itu sangat melekat. Setiap tahunnya, SMA yang berlokasi tepat di samping Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pangeran Drajat itu, memiliki tidak lebih dari 20 calon siswa baru yang mendaftar.
"Setiap PPDB, jumlah siswa sedikit. Tidak lebih dari 20 orang di SMAN Windu Wacana. Ini disebabkan karena sistem PPDB yang masih longgar," ujarnya di SMAN Windu Wacana, beralamat di Jalan Pangeran Drajat, Kelurahan Kesambi, Senin (16/7).
Wida menjelaskan, anggapan sekolah favorit dan tidak favorit itu, melekat di pikiran orangtua dan calon siswa memasuki tahun ajaran baru. Padahal, menurutnya masyarakat tidak adil menilai sekolah negeri lebih baik ketimbang sekolah swasta.
Penilaian masyarakat itu menurut Wida sangat tidak mendasar. Mengingat, dari segi kurikulum, sistem pendidikan, kegiatan ekstrakurikuler dan proses belajar mengajar, sama dengan yang diterapkan di sekolah negeri.
"Masalahnya ada di masyarakat yang menganggap sekolah negeri lebih unggul ketimbang swasta. Kalau sudah ada 15 orang siswa baru mendaftar saja, itu sudah bagus," keluhnya.
Rupanya, menurut Wida, dikotomi sekolah favorit dan sekolah tidak favorit itu pnyebabnya lokasi dari sekolah. Menurutnya, sekolah SMA Negeri yang dianggap favorit itu kebanyakan berada di pusat kota, seperti SMAN 1, SMAN 2, dan SMAN 6 Kota Cirebon.
Alasan itu membuat kebanyakan orang tua mendaftarkan anaknya di sekolah yang berada di tengah kota, dengan anggapan lebih favorit dekat dengan pusat kota. Karena lokasinya dekat dengan tempat pemakaman, membuat SMA Windu Wacana kalah saing saat PPDB.
"Bisa juga penyebabnya orang tua memaksakan agar anaknya masuk ke sekolah negeri dengan cara-cara tidak benar," katanya.
Wida juga mengaku, sistem PPDB di Kota Cirebon awalnya sudah baik. Karena sudah mau membatasi jumlah rombel. Akan tetapi, dalam pelaksanaan ada sejumlah sekolah negeri yang memaksakan kuota penerimaan siswa baru ditambah di luar kebijakan yang sudah ada.
"Kalau aturannya sudah baik. Tapi terkadang dilabrak, dengan cara buat aturan baru untuk nambah kuota. Apalagi, ada desakan orang tua ke pihak sekolah," paparnya.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
