
Ilustrasi anak-anak bermain media sosial. (Eyezy)
JawaPos.com – Di tengah maraknya penggunaan media sosial oleh anak-anak di bawah umur, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali mengingatkan masyarakat tentang pentingnya perlindungan terhadap generasi muda dari dampak negatif dunia digital.
Dalam khutbah yang disampaikannya baru-baru ini, Dedi menegaskan bahwa anak-anak yang belum memiliki identitas resmi seperti Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP), seharusnya tidak memiliki akun media sosial.
“Anak-anak yang di bawah umur belum layak punya akun. Jangan bikin akun, karena akun hanya diperbolehkan untuk orang yang sudah ber-NIK, ber-KTP,” ujarnya dengan tegas.
Pernyataan ini tidak hanya menyasar aspek administratif, tetapi lebih pada upaya preventif terhadap paparan konten yang belum layak dikonsumsi anak-anak.
Dedi menyoroti pentingnya identitas digital yang terverifikasi untuk memastikan setiap pengguna media sosial sesuai dengan batas usia dan kapasitas mentalnya.
“Kalau handphone, tidak boleh menggunakan nama orang lain. Harus menggunakan KTP sendiri. Artinya, setiap penduduk yang memiliki nomor handphone dan nomor akun harus sesuai dengan jumlah Mobile Identification Key (MIK), jumlah KTP-nya,” tambahnya.
Kekhawatiran Dedi Mulyadi bukan tanpa alasan. Di era digital saat ini, media sosial menjadi pintu gerbang berbagai informasi—baik yang bermanfaat maupun yang berpotensi merusak perkembangan psikologis anak.
Konten-konten kekerasan, pornografi, ujaran kebencian, hingga permainan daring dengan unsur adiktif, kini mudah diakses oleh siapa saja, termasuk anak-anak yang belum memiliki kedewasaan berpikir untuk memilah informasi.
Menurut data dari berbagai studi psikologi dan kesehatan digital, paparan media sosial yang berlebihan pada usia dini dapat memicu gangguan kecemasan, depresi, rendahnya rasa percaya diri, hingga masalah perilaku.
Selain itu, kurangnya pemahaman anak terhadap keamanan digital juga meningkatkan risiko eksploitasi dan perundungan daring (cyberbullying).
Dalam khutbahnya, Dedi Mulyadi juga menekankan bahwa peran orang tua sangat penting dalam membatasi dan mengawasi penggunaan gawai oleh anak-anak.
Ia mengajak seluruh keluarga di Jawa Barat untuk lebih melek teknologi dan tidak memberikan akses terhadap ponsel atau media sosial kepada anak sebelum waktunya.
“Batasan itu harus dilakukan. Untuk itu, Ibu dan Bapak harus mengerti teknologi. Lihat anak-anak kita pegang HP. Kalau belum waktunya, jangan diberi HP,” tegasnya.
Dia berharap muncul kesadaran kolektif di kalangan orang tua, pendidik, dan masyarakat untuk lebih aktif melindungi anak-anak dari bahaya laten dunia digital yang belum tentu ramah bagi usia mereka.
Pembatasan bukan berarti membatasi kreativitas anak, melainkan menciptakan ruang yang aman dan sehat agar mereka tumbuh sesuai dengan tahap perkembangan yang semestinya.

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
7 Weton Tulang Wangi Darah Manis yang Disukai Mahluk Halus Menurut Primbon Jawa, Weton Anda Termasuk?
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Surat Pernyataan Manajer Kopdes Merah Putih Bocor di Medsos, Undur Diri Kena Denda Rp 100 Juta?
Prediksi Skor Iran vs Selandia Baru di Piala Dunia 2026: Team Melli Diterpa Gejolak Geopolitik Tapi Punya Kans Menang
Prediksi Skor Arab Saudi vs Uruguay di Piala Dunia 2026: La Celeste Dijagokan Menang!
