
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mencoba membentuk keramik dari tanah liat di Kampung Wisata Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, pada Sabtu (4/1). (ILHAM SAFUTRA/JAWAPOS.COM)
JawaPos.com - Para pengrajin keramik di Kampung Wisata Keramik Dinoyo dihadapkan dengan ancaman kelestarian dan keberlanjutan para pengrajin yang mulai menurun terhadap keramik.
Betapa tidak, kini di kampung yang berada di Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang jumlah pengrajin dan pedagang keramik hanya bersisa 24 orang. 10 di antaranya adalah pengrajin dan sisanya pedagang.
"Sekarang cuma segitu yang tersisa pengrajinnya," ungkap Juwadi, salah satu pengrajin keramik di Dinoyo kepada JawaPos.com pada Sabtu (4/1).
Pengrajin keramik 58 tahun itu menyadari saat ini anak-anak atau generasi muda di Dinoyo tidak begitu tertarik menjadi pengrajin keramik. Mereka lebih memilih merantau atau menekuni bidang lain sebagai profesinya. Sehingga, kerajinan keramik hanya dilakoni oleh orang-orang sudah berusia cukup berumur. "Ada yang muda tapi sangat sedikit," ujar pria yang mulai menekuni kerajinan keramik sejak 1995 itu.
Dalam mengantisipasi terputusnya ilmu kerajinan keramik, Juwadi bersama pengrajin keramik lainnya berusaha menularkan ilmu keahlian keramik itu kepada siapa saja. Tidak mesti kepada anak-anaknya atau anak-anak di Dinoyo. "Kepada siapa saja yang datang ke sini untuk belajar membuat keramik kami para pengrajin sangat bersemangat sekali mengajarkan ini. Karena keramik Dinoyo ini sangat terkenal di berbagai daerah dan luar negeri," ujarnya.
Bagi dia tidak masalah keahlian keramik itu akan berkembang di daerah lain. Yang penting keramik-keramik asal Dinoyo atau Indonesia tetap berkembang, meskipun tidak di Dinoyo. "Kawasan ini selain tempat kerajinan juga jadi tempat wisata edukasi, terutama edukasi belajar proses membuat keramik," ungkapnya.
Sehingga demikian setiap pekan selalu ada wisatawan datang ke Dinoyo hanya sekadar ingin tahu bagaimana cara membuat keramik dengan bagus. Mulai dari tanah liat basah, dibentuk, dikeringkan, diwarnai, dibakar, dan diberi pengkilap.
Keramik Custom dan Cetakan
DENGARKAN PENJELASAN: Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid saat berkunjung Kampung Wisata Keramik Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, pada Sabtu (4/1). (ILHAM SAFUTRA/JAWAPOS.COM)
Saat ini pembuatan keramik di Dinoyo lebih banyak dengan teknologi, yakni menggunakan cetakan. Alasannya untuk memenuhi pesanan skala banyak dengan waktu pembuatan yang sangat singkat. Sebab, keramik-keramik yang dibuat di Dinoyo biasanya dipesan konsumen dalam jumlah besar dengan jenis hampir sama. Harganya tentu beragam. Mulai dari Rp 25 ribu hingga jutaan rupiah.
"Untuk keramik seharga Rp 25 ribu biasanya pesanan minimal 200 keramik. Untuk pembuat sebanyak itu bisa satu hingga dua minggu. Kalau tidak pakai cetakan tidak mungkin bisa selesai dibuat dalam waktu dua minggu," ujarnya.
Pasalnya, untuk pembuatan keramik manual berbentuk candy lebih berupa custom kerap dikerjakan satu hingga dua minggu untuk satu keramik. "Makanya yang custom itu harganya lebih tinggi karena membutuhkan nilai seni yang tinggi," tandasnya.
Pemasaran Keramik di Dinoyo Sudah Digital
TERUS AJARKAN SEMANGAT MEMBUAT KERAMIK: Juwadi, pengrajin keramik di Kampung Wisata Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, pada Sabtu (4/1). (ILHAM SAFUTRA/JAWAPOS.COM)
Eksistensi Kampung Wisata Keramik Dinoyo mendapat apresiasi dari Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid. Apresiasi itu sampaikan langsung saat dia berkunjung ke Dinoyo pada Sabtu (4/1).

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
