Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 Mei 2018 | 19.19 WIB

Dispendik Kabupaten Malang Dukung UN Jadi Penentu Kelulusan

Suasana UN di salah satu SMP di Kabupaten Malang beberapa saat lalu. - Image

Suasana UN di salah satu SMP di Kabupaten Malang beberapa saat lalu.

JawaPos.com - Ada wacana teranyar di dunia pendidikan. Informasinya, Ujian Nasional (UN) akan dijadikan penentu kelulusan bagi pelajar. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof. Dr. Muhadjir Effendy MAP dalam pernyataan di berbagai media massa, memberi sinyal akan mempertimbangkan kemungkinan tersebut.


Alasannya, nilai rata-rata UN menurun dibandingkan tahun lalu. Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur (Jatim), tahun ini jumlah siswa SMA yang mendapat nilai di bawah 55 mencapai 85,30 persen. Angka itu meningkat dari tahun sebelumnya yang berkisar di angka 85,13 persen.


Hal serupa juga terpampang untuk jenjang SMK. 78,88 persen siswa diketahui mendapat nilai di bawah 55. Pelajar madrasah aliyah (MA) juga begitu. Tahun ini ada 96,34 persen yang mendapat nilai di bawah 55.


Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Kabupaten Malang M Hidayat lantas angkat bicara. Dia mendukung wacana UN dijadikan penentu kelulusan pelajar. "Setuju. Asalkan bukan hanya UN yang dijadikan patokan untuk kelulusan. Tapi ada variabel lain. Misalnya ujian semester dan ujian tengah semester," kata Dayat, Selasa (8/5).


Soal-soal yang sudah berstandar nasional tidak harus diujikan saat UN saja. Pemerintah juga bisa memonitor langsung pelaksanaan ujian semester dan ujian tengah semester dengan soal-soal berstandar nasional juga. "Jadi ujian nasional tidak menjadi satu-satunya indikator kelulusan," tegasnya.


Sebagai informasi, sejak 2015 lalu UN memang tidak lagi menjadi satu-satunya penentu kelulusan siswa. Hasil ujian sekolah yang menjadi penentunya.


Peraturan itu cukup menguntungkan para siswa. Mereka tak lagi was-was tidak lulus. Karena dari segi kualitas, soal-soal pada ujian sekolah berstandar nasional (USBN) relatif lebih mudah dibanding ujian nasional.


Namun ada dampak negatifnya. Yakni, para siswa cenderung meremehkan. Mereka tidak belajar dan terkesan asal-asalan. "Nilai yang didapat juga tidak maksimal," papar Dayat.


Sementara itu, Ketua MKKS SMA Kabupaten Malang Drs Supaat MSi menyangkal jika rata-rata hasil UN di wilayahnya kurang. "Dari pantauan saya di SMAN 1 Lawang, SMAN 1 Tumpang, SMAN 1 Turen, dan SMAN 1 Kepanjen, semua berada di atas rata-rata nasional," tandasnya.

Editor: Sofyan Cahyono
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore