Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 7 Mei 2018 | 17.38 WIB

16 Tim Ibu-ibu Berebut Tropi Gobak Sodor

Sejumlah tim peserta POP beradu dalam cabor gobak sodor. - Image

Sejumlah tim peserta POP beradu dalam cabor gobak sodor.

JawaPos.com - Pekan Olahraga Perempuan (POP) digeber di Semarang sejak Minggu (6/5) kemarin. 16 Kontingen bersaing dalam kompetisi tersebut. Mereka merupakan delegasi organisasi perempuan asal Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ).


Ada tiga cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan dalam POP 2018. Adalah bola voli, bulutangkis dan gobak sodor. Dari ketiga cabor, gobak sodor menjadi perhatian tersendiri.


Pasalnya, olahraga tradisional ini sangat jarang dipertandingkan pada kejuaraan mana pun. Untuk itu, Komunitas Olahraga Tradisional Indonesia (KOTI) menyambut baik ajang POP gagasan Fatayat NU tersebut.


Pengurus KOTI Pusat Choirul Umam menyebut, cabor gobak sodor adalah nilai plus. Karena permainan macam ini sudah hampir tak dikenali lagi. Terutama bagi mereka yang menggandrungi olahraga modern.


Choirul melanjutkan, gobak sodor sarat akan makna filosofi. Dalam permainan ini mengisyaratkan kekuatan daya tahan atas tanah air atau rumah milik kita. Pemain harus sekuat tenaga mempertahankan rumahnya. Sehingga tidak ada lawan yang mampu masuk dan memeperoleh poin karena merebutnya.


Permainan yang kerap disebut hadang itu mengajarkan nilai-nilai kerja sama, kekompakan, kebersamaan dan komitmen. "Permainan ini bukan hanya sehat fisik. Tetapi juga sehat batin. Karena di dalamnya sarat akan nilai yang jika kami paham sebenarnya itu adalah pondasi kokohnya suatu bangsa," ujar Choirul.


Melalui POP, Fatayat NU telah berhasil mengubah persepsi masyarakat. Dimana gobak sodor adalah olahraga yang kampungan dan tak berpeluang masuk even nasional. Nyatanya setelah resmi menjadi salah satu cabor, kini permainan ini mulai banyak dikenal dan dipertandingkan lagi.


"POP Fatayat ini juga lagi dapat momen banget. Pas kemarin Pak Jokowi (Presiden Joko Widodo) main hadang di Istana Bogor dan sekarang dipertandingkan di pekan olahraga perempuan ini," imbuhnya.


Melihat antusiasme peserta, Choirul merasa kagum. Lantaran mayoritas peserta gobak sodor kali ini adalah ibu rumah tangga. Mereka berusia di atas 35 tahun. Bahkan ada satu yang berusia hampir 60 tahun. Namun hal tersebut tidak menghalangi semangat juang mempertahankan rumahnya. Staminanya pun luar biasa.


"Ada satu tim yang cukup mencuri perhatian wasit dan penonton. Dari PAC Fatayat Gunungpati yang mencapai skor telak 58-0. Stamina dan pertahanannya luar biasa. Strateginya juga bagus" imbuhnya.


Pertandingan gobak sodor masih berlanjut esok di lapangan UIN Walisongo Semarang dengan pertandingan juara grup. KOTI berharap even olahraga seperti ini berlanjut secara konsisten. Tujuannya agar olahraga tradisional asli Indonesia dapat dilestarikan.


POP sendiri adalah ide dari Fatayat, yang biasanya bekerja pada isu advokasi perempuan dan anak. Kali ini, kelompok tersebut mengamati peran perempuan di bidang olahraga yang selama ini terbilang minim.


POP pertama kali digelar di Indonesia. Dengan peserta yang murni masyarakat biasa bukan atlet profesional. Semua pesertanya adalah pengurus aktif dari organisasi perempuan.


Gelaran POP di Semarang adalah region pertama. Akan disusul kemudian pada Juli di Jabodetabek dan di Jawa Timur (Jatim) pada Agustus. Terakhir, grand final nasional bertempat di Jakarta.

Editor: Sofyan Cahyono
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore