
Pantauan drone BPBD Tanah Datar atas banjir bandang di Simpang Manunggal, Kecamatan Lima Kaum, Kab Tanah Datar. Sungai itu berhulu di Gunung Marapi dengan nama Sungai Malana atau Lona
JawaPos.com - Peran dari takmir tidak hanya sekadar mengurus masjid atau musala. Mereka mesti memahami kesiapsiagaan dalam kondisi darurat, terutama terjadinya bencana alam.
Maka dari itu, Kementerian Agama (Kemenag) melatih takmir masjid, penyuluh agama, dan Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) di Sumatera Barat (Sumbar) agar siap siaga saat menghadapi bencana alam.
Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah mengatakan, wilayahnya memiliki potensi bencana yang tinggi. "Baik itu banjir, gunung meletus, galodo, gempa bumi, dan tsunami," ungkap Mahyeldi kepada JawaPos.com pada Kamis (1/8).
Sebelumnya Mahyeldi membuka Workshop Penguatan Literasi Kebencanaan Berbasis Pengetahuan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana di Bukittinggi, Sumbar pada Selasa (30/7). Workshop itu berlangsung dua hari, Selasa dan Rabu (30 – 31/7). Lokakarya itu diikuti oleh takmir masjid, penyuluh, dan 15 difabel.
Pelatihan itu merupakan hasil kerja sama antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Management of Social Transformation Programme (Most UNESCO), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar.
Mahyeldi berharap workshop itu dapat memberi wawasan tentang bencana dan kesiapsiagaan, terutama bagi kelompok difabel, yang paling rentan saat terjadi bencana. "Workshop ini dapat mendukung masyarakat Sumatra Barat untuk bisa menyikapi bencana dan mengurangi risikonya," tambahnya.
Kasubdit Kepustakaan Islam Kemenag Nur Rahmawati menyebut bahwa penguatan literasi kebencanaan berbasis pengetahuan lokal itu memiliki tiga tujuan. Pertama, mampu memaksimalkan pemanfaatan pengetahuan lokal dalam meningkatkan pengurangan risiko bencana di Sumbar. Kedua, meningkatkan kesadaran masyarakat dalam membangun kesiapsiagaan dan adaptasi, melalui pendidikan literasi bencana yang inklusif dan keberlanjutan.
"Terakhir, diharapkan mampu melahirkan rekomendasi berupa kebijakan yang efektif untuk pemanfaatan pengetahuan lokal dan teknologi informasi dalam mitigasi dan manajemen risiko bencana," jelasnya.
Nur mengungkapkan, workshop tersebut merupakan bentuk perhatian pada masyarakat Sumatera Barat agar peka terhadap bencana. "Mereka (takmir dan penyuluh agama) adalah tokoh di lingkungan mereka masing-masing. Dengan pelatihan ini, diharapkan mereka dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sekitar terhadap bencana," ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Most UNESCO Fakhriati mengatakan bahwa workshop itu merupakan respons terhadap kejadian bencana yang dahsyat beberapa bulan lalu di Sumatera Barat. "Banjir galodo di selingkar Gunung Marapi, Kabupaten Agam dan Tanah Datar, serta banjir di Pesisir Selatan dan kabupaten lainnya menjadi perhatian kita bersama," ujarnya.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
