Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 17 Juli 2022 | 03.48 WIB

Jejak Prabu Brawijaya V, Sendang Drajat Jujukan untuk Naik Pangkat

LOKASI FAVORIT: Batu yang berada di kawasan Sendang Drajat menjadi jujukan pengunjung untuk lokasi meditasil. (Frizal/Jawa Pos) - Image

LOKASI FAVORIT: Batu yang berada di kawasan Sendang Drajat menjadi jujukan pengunjung untuk lokasi meditasil. (Frizal/Jawa Pos)

Prabu Brawijaya V tidak sendirian saat menuju Alas Ketonggo. Sang raja juga dikawal para pengikut setianya. Karena itulah, muncul banyak petilasan di Alas Ketonggo. Mulai tempat bermain para dayang hingga sumber air suci tempat minum Prabu Brawijaya V.

---

DI sebuah lahan dengan tanah padat, tampak belasan lubang yang berjejer rapi. Lubang tersebut, rupanya, dibuat dengan alat seadanya. Terbukti, diameter dan kedalamannya berbeda-beda. Lokasi itu kerap disebut masyarakat sekitar dan pengunjung sebagai watu dakon. Sebuah tempat bermain para dayang sebelum menuju Gunung Lawu. Sebagaimana tempat lainnya di Alas Ketonggo, watu dakon menjadi salah satu petilasan.

Tiga cangkir plastik berisi kopi diletakkan di sana. Begitu juga kembang hingga dupa. Semuanya ditempatkan di wadah khusus. Sesajen itu menjadi media untuk menghormati leluhur. Terutama para dayang yang konon sering menampakkan diri sampai sekarang.

Juru kunci Alas Ketonggo, Suyitno, menjelaskan bahwa watu dakon ini dibuat para dayang. Mereka bermain di situ sambil menunggu Prabu Brawijaya V yang sedang bertapa di Palenggahan Agung Srigati. Tepatnya sebelum pergi ke Gunung Lawu dan konon moksa di sana. Ada yang mendiami tempat bermain para dayang itu. Yakni, dua sosok perempuan cantik berbaju Jawa. Suyitno menyatakan, keduanya kembar. Namanya Lastri dan Lasmi. ”Kalau niatnya baik, ya tidak ganggu,” kata Suyitno.

Keduanya kerap menampakkan diri. Baik saat siang maupun malam. Lastri dan Lasmi juga sering terlihat di Sendang Drajat. Sebuah petilasan tempat minum dan mandi Prabu Brawijaya V. Jarak watu dakon dengan Sendang Drajat tidak jauh. Sekitar 100 meter.

Sendang Drajat berada di bawah. Berdekatan dengan sumber air yang mengarah ke Kali Tempur. Di sana juga terdapat wihara, tetapi tidak difungsikan lagi. Sebuah batu yang ditata membentuk lingkaran juga ada di sana. ”Ini juga sering dibuat bertapa oleh pengunjung. Makanya, ada taburan kembang,” ungkap Suyitno.

Meski berada dalam area Alas Ketonggo, juru kunci Sendang Drajat bukan Suyitno. Melainkan Slamet. Pria yang menjadi juru kunci sejak 1971 itu menuturkan, sosok Lastri dan Lasmi memang sering muncul di Sendang Drajat. Keduanya tidak mengganggu asalkan pengunjung tidak bercanda.

Dua perempuan cantik itu mengenakan kemben hijau. Mereka tidak segan merasuki tubuh siapa saja. Terutama yang membuat ulah. Slamet mengungkapkan, Prabu Brawijaya V minum dan mandi di Sendang Drajat. Meski bentuknya hanya kubangan kecil dan tidak dalam, air di sana tidak pernah habis. Termasuk saat musim kemarau.

Pengunjung yang datang punya berbagai tujuan. Paling banyak memang untuk naik jabatan. Biasanya, mereka menjalani ritual mandi. Tak sedikit yang semedi. Terutama pada malam hari. ”Tujuan pastinya saya tidak tahu, tapi ritual di sini untuk dapat pangkat,” jelas Slamet.

Dia menceritakan, Sendang Drajat digunakan Prabu Brawijaya V untuk bertahan hidup saat berada di Alas Ketonggo. Pati dan pengawalnya yang bertugas mengambil airnya. Bahkan, Sendang Drajat ini menjadi jujukan Sunan Kalijaga dan Raden Patah. Sebab, keduanya juga pergi ke Alas Ketonggo untuk mencari Bhre Kertabhumi atau Prabu Brawijaya V. Mengingat, Raden Patah adalah anak Prabu Brawijaya V.

Prabu Brawijaya V terdesak. Kerajaan Majapahit hampir runtuh karena masuknya agama Islam di Pulau Jawa. Kedatangan Raden Patah dan Sunan Kalijaga ini bertujuan menemui Prabu Brawijaya V. Sayangnya, di lokasi Prabu Brawijaya V dan rombongannya sudah tidak ada di sana. Mereka pergi ke Gunung Lawu untuk bertapa dan moksa.

Alas Ketonggo dan Gunung Lawu tidak bisa dipisahkan dari Prabu Brawijaya V. Terutama menjelang keruntuhan Majapahit. Bhre Kertabhumi memilih melepaskan jabatannya sebagai raja untuk menghindari pertumpahan darah dengan anaknya, Raden Patah.

Suyitno menyampaikan, kabar bahwa Prabu Brawijaya V memeluk Islam masih menjadi perdebatan. Yang jelas, Bhre Kertabhumi mengenal ajaran Islam. Sang raja juga dekat dengan Sunan Kalijaga. Sebab, berkat diplomasi ulung Sunan Kalijaga, peperangan Majapahit dengan kerajaan Islam untuk balas dendam berhasil dicegah.

Puluhan petilasan di Alas Ketonggo, terutama Palenggahan Agung Srigati, menjadi tanda kerendahan sang Prabu Brawijaya V. Beliau rela melepaskan jabatannya demi menjaga hubungan dengan sang anak. 

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore