
Polisi berkalung serban mengawal aksi Bela Tauhid di Kota Medan
JawaPos.com- Ada penampakan berbeda pada Aksi Bela Tauhid di Kota Medan, Jumat (26/10). Polisi yang biasanya berpenampilan garang dengan menenteng senjata laras panjang plus atribut huru-hara, memilih untuk merubah penampilannya.
Mereka adalah pasukan Asmaul Husna. Personel Brimob Polda Sumut yang mengawal aksi.
Penampilannya begitu alim. Lobe (penutup kepala) putih, beserta kain serban yang dikalungkan di leher menjadi ciri khas tersendiri.
Polisi agaknya ingin merubah kesan bahwa pengawalan unjuk rasa itu tak harus sangar. Kesan yang ingin ditimbulkan adalah, polisi adalah sahabat masyarakat.
Pasukan polisi berkalung serban ini sudah bersiaga sejak pagi di Masjid Al Mashun, Jalan Sisingamangaraja, Kota Medan. Tempat dimana titik kumpul sekitar 5.000 massa aksi berkumpul.
Sesekali mereka tampak berbincang santai dengan pendemo. Bahkan tak sungkan jika diajak berfoto.
"Kami berharap ada semacam sentuhan kalbu (ikatan batin) antara pengunjuk rasa dan petugas keamanan. Jadi ada ikatan emosional dan keakraban antara mereka," terang Kapolrestabes Medan Kombespol Dadang Hartanto. Secara khusus Dadang mengimbau agar seluruh pengunjuk rasa menjaga ketertiban ketika menyampaikan aspirasi.
Dadang menambahkan, ada persyaratan khusus untuk masuk dalam Tim Asmaul Husna. Syaratnya, personel harus beragama Islam dan hafal 99 sifat-sifat Allah (Asmaul Husna).
"Mereka juga harus rutin melakukan kegiatan keagamaan secara bersama-sama untuk mempertebal iman," tambahnya.
Selain bertugas mengamankan aksi, Tim Asmaul Husna juga mempunyai tugas lain untuk memakmurkan masjid-masjid. "Kami berharap hal-hal yang tidak diinginkan, tidak terjadi," jelas perwira polisi dengan tiga melati di pundak itu.
Aksi Bela Tauhid mendapat pengawalan sekitar 1.200 personel. Mereka tersebar di beberapa titik. Mulai dari Masjid Al Mahsun, rute konvoy hingga ke Polda Sumut.
Sebelumnya, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Sumut mengecam keras pembakaran bendera berkalimat tauhid yang dilakukan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Garut, Jawa Barat, Senin (22/10).
“Kami ingin menyampaikan kepada semua umat Islam di negeri ini supaya menolak keberadaan Banser di tempat-tempat mereka tinggal. Sebab dalam pandangan kami, Banser ini seperti preman yang memakai bendera agama. Menurut kami seperti itu, tampak dari perilakunya," kata Ketua GNPF Ulama Sumut Heriansyah.
Menurut Heriansyah, bendera yang dibakar Banser bukanlah bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), melainkan Ar Raya, yang merupakan panji Rasulullah. Yakni bendera hitam yang bertuliskan kalimat tauhid.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
