Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 Februari 2022 | 13.01 WIB

MDA Bali Larang Laksanakan Pawai Ogoh-Ogoh Rangkaian Nyepi

Bandesa Agung MDA Provinsi Bali Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet.  Ni Luh Rhismawati/Antara - Image

Bandesa Agung MDA Provinsi Bali Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet.  Ni Luh Rhismawati/Antara

JawaPos.com–Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali keluarkan surat penegasan agar pawai ogoh-ogoh saat Pangrupukan yang berkaitan dengan rangkaian Hari Suci Nyepi 2022 tidak dilaksanakan.

”Mengingat saat ini kondisi Covid-19 di Bali belum dalam kondisi melandai, melainkan justru meningkat kembali secara ekstrem,” kata Bandesa Agung MDA Provinsi Bali Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet seperti dilansir dari Antara di Denpasar.

Surat penegasan dengan Nomor 104/MDA-Prov Bali/II/2022 tertanggal 11 Februari 2022 itu merupakan penegasan terhadap Surat Edaran MDA Provinsi Bali, Nomor:009/SE/MDAPBali/XII/2021, tertanggal 22 Desember 2021.

Pada ketentuan pengaturan angka 1 pada SE MDA Bali 22 Desember 2021 itu tercantum bahwa pembuatan dan pawai ogoh-ogoh agar tetap mencermati kondisi dan situasi penularan gering tumpur agung Covid-19. Dan memastikan sudah dalam kondisi yang melandai. Selain itu, tidak ada kebijakan baru pemerintah pusat maupun pemerintah daerah terkait dengan pembatasan aktivitas.

Sukahet juga menyampaikan, selain kondisi Covid-19 yang belum melandai, juga telah ada kebijakan baru dari pemerintah seperti status Bali dinaikkan dari PPKM level 2 menjadi level 3, dan kembali diberlakukan pembatasan kerumunan.

”Maka dengan sendirinya berarti pawai ogoh-ogoh saat Pangrupukan yang berkaitan dengan rangkaian Hari Suci Nyepi, Tahun Baru Isaka 1944 tidak dilaksanakan,” ucap Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet.

Selain itu, rangkaian kegiatan Malasti, Tawur Kasanga serangkaian Nyepi yang jatuh pada 3 Maret dilaksanakan dengan memperhatikan sejumlah hal.

Bagi desa adat yang wilayahnya berdekatan dengan segara (laut), ritual melasti di pantai, kemudian malasti di danau untuk yang wilayahnya berdekatan dengan danau, dan yang wilayahnya berdekatan dengan campuhan (muara), Malasti di campuhan. Di samping itu, bagi desa adat yang memiliki Beji dan/atau Pura Beji, Malasti di Beji.

”Bagi desa dat yang tidak melaksanakan Malasti karena wilayahnya berjauhan dengan sumber-sumber air tersebut, dapat Malasti dengan cara Ngubeng atau Ngayat dari Pura setempat,” ucap Sukahet.

Selanjutnya membatasi jumlah peserta yang ikut dalam prosesi upacara Malasti paling banyak 50 orang, dilarang memakai/membunyikan petasan/mercon dan sejenisnya. Bagi krama (warga) desa adat yang sakit atau merasa kurang sehat, agar tidak mengikuti rangkaian upacara.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore