
Ilustrasi UMK Solo yang jauh dari KHL (Sumber Pixabay)
JawaPos.com - Konferederasu Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Kota Solo bersama dengan sejumlah pekerja lainnya diketahui telah sempat melakukan riset mengenai kebutuhan hidup layak (KHL) pekerja yang lajang dalam periodisasi kebutuhan hidup selama kurun waktu sebulan.
Dilansir JawaPos.com dari Radar Solo (Jawa Pos Group) pada Senin (4/12) bahwa survei yang dilakukan SPSI kota Solo dilakukan di empat pasar tradisional pada September 2022 guna memberikan gambaran lebih pasti terhadap fenomena harga-harga di pasaran. Diketahui bahwa hal tersebut sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan UMK 2023.
Dari 60 koresponden dan jenis kebutuhan yang dimasukan pada waktu tersebut, hasilnya memunculkan KHL bagi pekerja lajang selama sebulan di Kota Solo setara RP.2.204.189.
"Itu perhitungan KHL bagi seorang lajang yang komponen dan harga-harganya disesuaikan dengan tahun itu (2022)," kata Ketua SPSI Kota Solo Wahyu Rahadi, dikutip JawaPos.com dari Radar Solo, Senin (4/12).
"Ini saja baru angka yang layak untuk seorang lajang, lalu bagaimana dengan buruh yang sudah berkeluarga?,” imbuhnya.
Wahyu menyebut jika buruh yang memiliki anak satu atau lebih tentu memiliki kebutuhan lebih banyak. Karena itu, survei tersebut bisa menjadi bekal pertimbangan bersama dalam menentukan UMK.
"Makanya waktu itu kami mengusulkan kenaikan UMK 15 persen. Survei ini rasanya juga masih realistis kalau masih mau dipakai. Tapi sayang pemerintah memilih mengacu PP 51/2023 dengan kenaikan upah 4,36 persen untuk UMK 2024," ungkap Wahyu Rahadi.
Wahyu kemudian memberikan alasan melakukan survei tersebut karena hal seperti itu sudah tidak dilakukan dalam kurun waktu lima tahun terakhir oleh pemerintah, di mana harga-harga sudah mengalami perubahan di lapangan.
Karena itu, Survei KHL tersebut diharapkan bisa dijadikan pembanding dari perhitungan yang sebelumnya dilakukan pemerintah.
Hal tersebut dirasa penting untuk diperhatikan, karena sampai saat ini masih banyak buruh yang hidup di batas garis kemiskinan.
Kata Wahyu, dalam kondisi tersebut membuat banyak buruh yang akhirnya terjebak dalam jeratan hutang yang kadang sampai tidak bisa mereka lunasi.
"Sampai hari ini saya masih bekerja di pabrik. Saya masih bekerja bareng kawan-kawan di bidang produksi. Saya mendengar sendiri bagaimana polah mereka untuk bisa menutup uang sekolah anak-anak, harus gali lubang tutup lubang agar bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari," ujarnya.
"Sampai hari ini kondisi buruh masih cukup memprihatinkan," tambahnya.
Konfederasi SPSI Kota Solo yang saat ini memiliki sekitar 2.400 – 2.700 anggota yang terdiri dari lima federasi tersebut tahu betul apa yang dirasakan para anggotanya dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
"Saya tahu betul keluh – kesah kawan-kawan di lapangan. Saya juga merasakan sendiri, istri saya saja upahnya masih UMK. Kalau tidak ada usaha lain ya selesai sudah. Ini dialami buruh di Indonesia. Akhirnya seperti lingkaran setan, anak buruh nantinya ya jadi buruh lagi," tutur ketua SPSI tersebut.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
