Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 4 Desember 2023 | 18.54 WIB

SPSI Solo Sebut Upah Buruh Masih di Bawah KHL: Mereka Harus Gali Lubang Tutup Lubang Untuk Biaya Hidup

Ilustrasi UMK Solo yang jauh dari KHL (Sumber Pixabay) - Image

Ilustrasi UMK Solo yang jauh dari KHL (Sumber Pixabay)

JawaPos.com - Konferederasu Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Kota Solo bersama dengan sejumlah pekerja lainnya diketahui telah sempat melakukan riset mengenai kebutuhan hidup layak (KHL) pekerja yang lajang dalam periodisasi kebutuhan hidup selama kurun waktu sebulan.

Dilansir JawaPos.com dari Radar Solo (Jawa Pos Group) pada Senin (4/12) bahwa survei yang dilakukan SPSI kota Solo dilakukan di empat pasar tradisional pada September 2022 guna memberikan gambaran lebih pasti terhadap fenomena harga-harga di pasaran. Diketahui bahwa hal tersebut sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan UMK 2023.

Dari 60 koresponden dan jenis kebutuhan yang dimasukan pada waktu tersebut, hasilnya memunculkan KHL bagi pekerja lajang selama sebulan di Kota Solo setara RP.2.204.189.

"Itu perhitungan KHL bagi seorang lajang yang komponen dan harga-harganya disesuaikan dengan tahun itu (2022)," kata Ketua SPSI Kota Solo Wahyu Rahadi, dikutip JawaPos.com dari Radar Solo, Senin (4/12).


"Ini saja baru angka yang layak untuk seorang lajang, lalu bagaimana dengan buruh yang sudah berkeluarga?,” imbuhnya.


Wahyu menyebut jika buruh yang memiliki anak satu atau lebih tentu memiliki kebutuhan lebih banyak. Karena itu, survei tersebut bisa menjadi bekal pertimbangan bersama dalam menentukan UMK.

"Makanya waktu itu kami mengusulkan kenaikan UMK 15 persen. Survei ini rasanya juga masih realistis kalau masih mau dipakai. Tapi sayang pemerintah memilih mengacu PP 51/2023 dengan kenaikan upah 4,36 persen untuk UMK 2024," ungkap Wahyu Rahadi.

Wahyu kemudian memberikan alasan melakukan survei tersebut karena hal seperti itu sudah tidak dilakukan dalam kurun waktu lima tahun terakhir oleh pemerintah, di mana harga-harga sudah mengalami perubahan di lapangan.

Karena itu, Survei KHL tersebut diharapkan bisa dijadikan pembanding dari perhitungan yang sebelumnya dilakukan pemerintah.

Hal tersebut dirasa penting untuk diperhatikan, karena sampai saat ini masih banyak buruh yang hidup di batas garis kemiskinan.

Kata Wahyu, dalam kondisi tersebut membuat banyak buruh yang akhirnya terjebak dalam jeratan hutang yang kadang sampai tidak bisa mereka lunasi.

"Sampai hari ini saya masih bekerja di pabrik. Saya masih bekerja bareng kawan-kawan di bidang produksi. Saya mendengar sendiri bagaimana polah mereka untuk bisa menutup uang sekolah anak-anak, harus gali lubang tutup lubang agar bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari," ujarnya.

"Sampai hari ini kondisi buruh masih cukup memprihatinkan," tambahnya.

Konfederasi SPSI Kota Solo yang saat ini memiliki sekitar 2.400 – 2.700 anggota yang terdiri dari lima federasi tersebut tahu betul apa yang dirasakan para anggotanya dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

"Saya tahu betul keluh – kesah kawan-kawan di lapangan. Saya juga merasakan sendiri, istri saya saja upahnya masih UMK. Kalau tidak ada usaha lain ya selesai sudah. Ini dialami buruh di Indonesia. Akhirnya seperti lingkaran setan, anak buruh nantinya ya jadi buruh lagi," tutur ketua SPSI tersebut.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore