Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 27 November 2023 | 02.25 WIB

Pakar UGM Jelaskan Faktor Kenaikan Harga Kedelai, Mulai Keterbatasan Pasokan hingga Perubahan Iklim

Ilustrasi kacang kedelai. - Image

Ilustrasi kacang kedelai.

JawaPos.com–Pakar agrometeorologi, ilmu lingkungan dan perubahan iklim, Universitas Gadjah Mada Bayu Dwi Apri Nugroho menjelaskan, mengenai kenaikan harga kedelai yang sedang terjadi di Indonesia. Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, termasuk ketergantungan pada kedelai impor akibat pasokan lokal yang terbatas.

Menurut informasi yang didapat dari sebagian masyarakat, harga kedelai impor mengalami peningkatan dari sekitar Rp 10 ribu menjadi Rp 11 ribu per kilogram. Bahkan, sempat mencapai harga tertinggi Rp 13 ribu per kilogram sebelum mengalami penurunan. Meskipun harga kemudian turun, kekhawatiran masyarakat tetap tinggi terhadap stabilitas harga komoditas tersebut.

Bayu menjelaskan, masalah itu terkait erat dengan keterbatasan pasokan kedelai lokal. Dalam setahun, Indonesia membutuhkan 2,7 juta kedelai, sedangkan produksi lokal hanya mencapai 355 ribu ton.

”Kondisi tersebut pada akhirnya memaksa Indonesia untuk mengimpor kedelai dari luar negeri,” papar Bayu Dwi Apri Nugroho.

Namun, menurut dia, situasi ekonomi global yang kurang menguntungkan turut memperparah kondisi. Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar dan kenaikan biaya pengangkutan dari negara asal ke Indonesia memberikan dampak signifikan pada harga kedelai impor yang beredar di pasaran domestik.

”Tentu saja semua berimbas pada harga kedelai impor yang beredar di pasaran,” ujar Bayu Dwi Apri Nugroho di Fakultas Teknologi Pertanian UGM sebagaimana dilansir dari laman UGM pada Minggu (26/11).

Pakar UGM itu menyoroti bahwa kenaikan harga kedelai bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan secara global. Beberapa negara produsen kedelai seperti Amerika Serikat dan Brasil belum memasuki masa panen, namun diperkirakan masa panen akan terjadi pada Desember 2023-Januari 2024.

”Belum lagi saat ini beberapa negara penghasil kedelai juga melakukan pembatasan ekspor. Artinya kedelai yang diekspor mengalami penurunan, dan tentunya berimbas pada kenaikan harga di negara-negara pengimpor,” papar Bayu Dwi Apri Nugroho.

Dampak perubahan iklim juga menjadi faktor yang turut menyulitkan produksi kedelai di beberapa negara produsen. Dia menjelaskan, perubahan iklim, khususnya fenomena El Nino, menjadi salah satu penyebab penurunan produksi kedelai di berbagai negara. Hal itu memberikan dampak langsung pada ketersediaan pasokan dan harga kedelai di pasar global.

Menghadapi kenaikan harga kedelai, Pakar UGM menyarankan beberapa langkah yang dapat diambil pemerintah. Pemberian subsidi menjadi solusi sementara untuk menjaga agar harga-harga kedelai tetap stabil.

Selain itu, dia menyebutkan, solusi jangka menengah dan panjang juga perlu dipertimbangkan. Sebagai contohnya yakni mengembangkan varietas-varietas kedelai unggul yang sesuai dengan kondisi lingkungan di Indonesia.

”Karena kita tahu kedelai ini sangat cocok ditanam di kondisi iklim sub tropis. Meski begitu untuk di Indonesia dengan iklim tropis bisa juga tumbuh walaupun hasilnya tidak maksimal,” ungkap Pakar UGM Bayu Dwi Apri Nugroho.

Langkah selanjutnya, menurut dia, dengan memanfaatkan atau mengoptimalkan lahan-lahan yang ada. Sebab, kedelai yang ditanam di Indonesia bukan merupakan tanaman utama, melainkan sebagai tanaman sela. Artinya, kedelai bisa ditanam setelah padi dan jagung memasuki musim tanam (MT3).

Dia berharap, ke depannya ada pembentukan lahan khusus untuk menanam kedelai, sehingga tidak lagi dijadikan sebagai tanaman komoditas sela. Sela itu, perlu dilakukan penguatan ekosistem kedelai nasional secara besar-besaran dan serius yang dikoordinir pemerintah maupun swasta, agar dapat meningkatkan produksi dan menjaga stabilitas harga di tingkat petani.

”Saya kira pelibatan stakeholder seperti petani, pemerintah daerah, lembaga penelitian atau perguruan tinggi, perbankan dan offtaker menjadi kunci keberhasilan dalam ekosistem kedelai nasional,” imbuh Bayu Dwi Apri Nugroho.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore