Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 14 Oktober 2023 | 04.10 WIB

Terus Alami Kerugian, Komunitas Peternak Unggas Nasional Gelar Aksi Protes Bagikan 500 Ekor Ayam

Aksi Komunitas Peternak Unggas Nasional membagikan 500 ekor ayam. (Radar Jogja/ JPG) - Image

Aksi Komunitas Peternak Unggas Nasional membagikan 500 ekor ayam. (Radar Jogja/ JPG)

JawaPos.com – Komunitas Peternak Unggas Nasional membagi-bagikan 500 ekor ayam sebagai bentuk protes atas kerugian yang dialaminya selama bertahun-tahun. Aksi membagikan 500 ekor ayam tersebut berlangsung pada (12/10) di kawasan Patung Kuda, Gambir, Jakarta Pusat.

Para peternak unggas kesal karena kerugian ini berlangsung selama terus-menerus dari tahun ke tahun. Total jumlah kerugiannya disebut mencapai triliunan rupiah. Kerugian tersebut disebabkan oleh tuntutan untuk menghasilkan ayam dengan kualitas baik namun pemerintah menetapkan harga yang murah.

Penekanan harga tersebut yang membuat para peternak unggas merugi yang jika diakumulasikan sejak 2018, totalnya mencapai Rp. 2,7 Triliun. Para peternak harus menjual ayam hidup dengan harga yang rendah, yang per kilogramnya berkisar Rp. 19.000 – Rp. 20.000.

Sementara untuk biaya produksi saja, dibutuhkan sekitar Rp. 21.000 – Rp. 22.000 per kilogram ayam. Selisih rugi Rp. 2.000 per kilo ayam ini menjadi angka yang besar karena berlangsung selama lima tahun.

Mereka mengatakan, jika hal ini terus berlanjut tanpa tindakan solutif dari pemerintah, usahanya bisa gulung tikar. Standar kualitas yang ditetapkan pemerintah adalah para peternak ayam wajib menggunakan bibit ayam (day old chicken/DOC) dan pakan ayam yang harganya mahal.

Namun di pasar, harga jual ayam hidup tetap murah dan jauh lebih rendah dari harga yang dihabiskan peternak untuk produksi. Selain itu pemerintah tampaknya tidak memiliki data yang valid mengenai kebutuhan dan konsumsi (suply demand) ayam broiler di Indonesia.

Akibatnya, ketersediaan ayam di pasaran selalu mengalami kelebihan (over supply) karena tidak ada proyeksi supply and demand yang tepat.

Ketua Komunitas Peternak Unggas Nasional, Alvino mengaku kecewa pada pihak pemerintah karena dianggap tidak mengambil tindakan untuk melindungi para peternak mandiri.

Pihaknya juga menduga bahwa situasi ini dipengaruhi oleh inflasi dan praktik predatory pricing dari integrator.

Melalui aksi demo tersebut, para peternak unggas meminta Pemerintah untuk segera mengeluarkan kebijakan agara integrator tidak menjual ayam hidup di pasar tradisional. Dengan begitu, diharapkan pada tahun yang akan datang usaha bisnis para peternak ayam menjadi lebih sejahtera dan tidak lagi mengalami kerugian.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore