
Aksi Komunitas Peternak Unggas Nasional membagikan 500 ekor ayam. (Radar Jogja/ JPG)
JawaPos.com – Komunitas Peternak Unggas Nasional membagi-bagikan 500 ekor ayam sebagai bentuk protes atas kerugian yang dialaminya selama bertahun-tahun. Aksi membagikan 500 ekor ayam tersebut berlangsung pada (12/10) di kawasan Patung Kuda, Gambir, Jakarta Pusat.
Para peternak unggas kesal karena kerugian ini berlangsung selama terus-menerus dari tahun ke tahun. Total jumlah kerugiannya disebut mencapai triliunan rupiah. Kerugian tersebut disebabkan oleh tuntutan untuk menghasilkan ayam dengan kualitas baik namun pemerintah menetapkan harga yang murah.
Penekanan harga tersebut yang membuat para peternak unggas merugi yang jika diakumulasikan sejak 2018, totalnya mencapai Rp. 2,7 Triliun. Para peternak harus menjual ayam hidup dengan harga yang rendah, yang per kilogramnya berkisar Rp. 19.000 – Rp. 20.000.
Sementara untuk biaya produksi saja, dibutuhkan sekitar Rp. 21.000 – Rp. 22.000 per kilogram ayam. Selisih rugi Rp. 2.000 per kilo ayam ini menjadi angka yang besar karena berlangsung selama lima tahun.
Mereka mengatakan, jika hal ini terus berlanjut tanpa tindakan solutif dari pemerintah, usahanya bisa gulung tikar. Standar kualitas yang ditetapkan pemerintah adalah para peternak ayam wajib menggunakan bibit ayam (day old chicken/DOC) dan pakan ayam yang harganya mahal.
Namun di pasar, harga jual ayam hidup tetap murah dan jauh lebih rendah dari harga yang dihabiskan peternak untuk produksi. Selain itu pemerintah tampaknya tidak memiliki data yang valid mengenai kebutuhan dan konsumsi (suply demand) ayam broiler di Indonesia.
Akibatnya, ketersediaan ayam di pasaran selalu mengalami kelebihan (over supply) karena tidak ada proyeksi supply and demand yang tepat.
Ketua Komunitas Peternak Unggas Nasional, Alvino mengaku kecewa pada pihak pemerintah karena dianggap tidak mengambil tindakan untuk melindungi para peternak mandiri.
Pihaknya juga menduga bahwa situasi ini dipengaruhi oleh inflasi dan praktik predatory pricing dari integrator.
Melalui aksi demo tersebut, para peternak unggas meminta Pemerintah untuk segera mengeluarkan kebijakan agara integrator tidak menjual ayam hidup di pasar tradisional. Dengan begitu, diharapkan pada tahun yang akan datang usaha bisnis para peternak ayam menjadi lebih sejahtera dan tidak lagi mengalami kerugian.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
