Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 September 2020 | 04.19 WIB

Pesantren Tebuireng Jombang Larang Jenguk Santri Cegah Covid-19

Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar dialog dengan pasien warga Kota Kediri yang kini dinyatakan negatif korona lewat video conference di Command Center Balai Kota Kediri. Antara - Image

Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar dialog dengan pasien warga Kota Kediri yang kini dinyatakan negatif korona lewat video conference di Command Center Balai Kota Kediri. Antara

JawaPos.com–Pondok Pesantren Tebuireng, Jawa Timur, menerapkan aturan melarang sementara waktu bagi wali murid untuk menjenguk santri di pesantren demi mencegah penularan Covid-19.

”Kami memahami besarnya kerinduan wali santri terhadap anaknya, terutama santri baru yang mulai mondok 30 Agustus. Tapi demi keselamatan bersama, protokol kesehatan harus dipatuhi semua pihak,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Pesantren Tangguh Tebuireng Nur Hidayat seperti dilansir dari Antara di Jombang, Minggu (27/9).

Pesantren saat ini menerapkan protokol kesehatan yang cukup ketat. Hal itu dilakukan mengingat hingga kini masih pada masa pandemi Covid-19. Pesantren Tebuireng Jombang juga telah menggelar evaluasi terhadap kedisiplinan warga pesantren dalam pemenuhan protokol kesehatan.

Evaluasi tersebut dilakukan terhadap seluruh elemen yang terlibat dalam kegiatan operasional rutin pesantren. Evaluasi tersebut digelar dengan tiga langkah utama. Selain pengetatan terhadap larangan sambangan (menjenguk santri) oleh wali santri, juga peningkatan disiplin santri dan warga pesantren dalam pemenuhan protokol kesehatan.

Bahkan, terdapat sanksi membaca satu juz Kitab Suci Alquran bagi santri yang tidak memakai masker saat beraktivitas di luar kamar. Langkah ketiga, lanjut Hidayat, adalah deteksi dini terhadap setiap santri yang memiliki keluhan sakit.

”Ini dilakukan dengan melibatkan pembina kamar santri dan tim pusat kesehatan pesantren,” kata Nur Hidayat, mantan Wakil Sekretaris PWNU Jatim.

Dia mengungkapkan, deteksi dini penting dilakukan, mengingat potensi persebaran virus di lingkungan pesantren juga masih mungkin terjadi. ”Perkembangan global dan nasional selama enam bulan terakhir membuktikan, siapapun bisa terkena virus ini. Jadi deteksi dini terhadap gejala khusus yang mengarah merupakan langkah penting dalam memutus mata rantai persebaran Covid-19,” ujar Nur Hidayat.

Dia mengatakan, dalam satu pekan terakhir, Pesantren Tebuireng Jombang juga telah melakukan karantina ulang beberapa santri yang memiliki gejala khusus serta memberikan treatment untuk pemulihan mereka. ”Tapi, sejauh ini tidak satu pun santri yang terkonfirmasi positif,” terang Nur Hidayat.

Pesantren juga melakukan uji cepat antigen kepada seluruh warga pesantren untuk mendeteksi ada tidaknya warga pesantren yang terkena virus itu. Uji cepat antigen tersebut diyakini memiliki validitas sekitar 90 persen dalam mendeteksi keberadaan Covid-19.

Dalam uji cepat tersebut juga diikuti seluruh santri termasuk jajaran pengurus bahkan keluarga pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang. Dengan begitu, diharapkan bisa sedini mungkin mencegah persebaran virus itu.

”Dengan ikhtiar dan taqarrub maksimal, semoga seluruh warga pesantren dijauhkan dari wabah ini,” ucap Nur Hidayat.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=HHjHFnAwYxA

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore