Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 29 Desember 2016 | 14.28 WIB

Lokalisasi Peleman Ditutup, PSK Pilih Pindah ke Bogor dan Batam

Salah seorang PSK Peleman hanya bisa duduk lesu di depan wisma saat menunggu pelanggan datang. - Image

Salah seorang PSK Peleman hanya bisa duduk lesu di depan wisma saat menunggu pelanggan datang.

JawaPos.com - Pemerintah Kabupaten Tegal menutup empat lokasi prostitusi di wilayah Pantura mulai 2017 nanti. Yakni Wandan, Gang Sempit, Peleman, dan Pengasinan. Pemkab menyiapkan Rp 1 miliar untuk menutup empat lokasi itu.



LAPORAN: WAWAN SETIAWAN



Waktu baru saja menunjukkan pukul 21.00 ketika Radar Tegal (Jawa Pos Group) menginjakan kaki di pelataran parkir lokasi prostitusi Peleman di Desa Sidaharja, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal.



Tak jauh dari lokasi parkir, wajah tirus Sri (bukan nama sebenarnya) terlihat kusut. Tidak seperti biasanya yang berdandan menor dengan lipstik tebal dan blush-on di pipi. Kini wajahnya hanya disapu bedak tipis. Pemerah bibirnya juga ala kadarnya.



Keceriaan yang biasanya ditunjukkan untuk menarik tamu pun hilang. Sebaliknya, pembawaannya jadi cemberut. Malam itu, hingga sekitar pukul 22.00, PSK asal Indramayu, itu belum mendapat seorang pun tamu. Padahal, biasanya jam segitu dia sudah menggaet minimal dua tamu.



"Mau dapat tamu bagaimana? Semua orang takut ke sini. Isunya kan sebelum ditutup mau ada razia," ujar perempuan 26 tahun itu. Padahal, malam itu Sri berharap bisa mendulang banyak uang. "Minimal buat makan sehari-hari," ucapnya.



Sri belum kapok menjalani hidup sebagai PSK. Karena itu, jika Peleman jadi ditutup, dia berencana pindah ke daerah lain yang kehidupan prostitusinya masih ramai. Kalau tidak ke Bogor ya Batam. "Mau kerja apa lagi selain begini? Ya, kalau kepepet, baru pulang ke rumah," kata perempuan yang telah empat tahun menjadi PSK di Peleman tersebut.



Dia mengaku bingung dengan perkembangan situasi saat ini, sehingga Peleman harus ditutup. Sri mengaku pernah diajak rapat terkait sosialisasi penutupan Peleman. Namun kapan pastinya penutupan dilakukan, dia tidak tahu. "Tidak tahu. Tapi kalau jadi ditutup, saya mau pergi dari sini," ujarnya.



Memang, saat ini suasana lokalisasi Peleman tidak terlihat ramai seperti biasanya. Suara dentuman musik dangdut masih tetap terdengar keras bersahut-sahutan dari wisma-wisma yang berjejer di gang sepanjang 300 meter tersebut. Di teras, warung dan tempat parkir juga masih banyak PSK yang mejeng dengan dandanan tidak senonoh.



Namun, situasinya sudah tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Peleman yang biasanya ramai dengan para hidung belang yang berseliweran keluar masuk wisma, malam itu relatif lengang. Tidak banyak calon konsumen yang » memanfaatkan»  malam-malam ke lokasi prostitusi yang diklaim sebagai tempat prostitusi terbesar di Jawa Tengah itu.



Menyikapi rencana penutupan lokalisasi Peleman, Pengurus Lokalisasi Peleman, Desa Sidaharjo, Kecamatan Suradadi Andi Ojin menyatakan, sudah mengetahuinya. Menurut dia, saat ini jumlah PSK di Peleman antara 150-175 orang. Mereka tersebar di 65 wisma. "Jumlahnya memang fluktuatif, kadang 200, kadang dibawah 150 orang," katanya.



Menurut dia, PSK di Peleman tidak pernah ada yang menetap. Mereka hanya bertahan sekitar 2 sampai 3 bulan. Jika jumlah pelanggannya turun, mereka akan eksodus ke tempat baru. Biasanya, itu dilakukan mucikari agar para lelaki hidung belang tidak bosan saat mampir ke tempatnya. (fat/yuz/JPG)

Editor: Yusuf Asyari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore