
Ibunda Diah Anggraeni, Prapti Utami (kiri) dan adik Diah, Windi Asriati saat ditemui di rumahnya, Selasa (12/2).
JawaPos.com- Keluarga besar Diah Anggraeni (sebelumnya tertulis inisial DA), Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Kota Malang yang bekerja di Amman, Jordania, Timur Tengah mengaku tak tahu bahwa status Diah ilegal. Bahkan setelah 12 tahun tidak ada kabar, mereka baru mengetahui Diah menjadi pekerja rumah tangga (PRT) di sana.
Seperti diberitakan JawaPos.com sebelumnya, salah satu TKW asal Kota Malang yang bekerja di Amman, Jordania, Timur Tengah mendapat perlakuan tidak manusiawi dari majikannya. Selama 12 tahun Diah tidak mendapatkan gaji, bahkan dilarang untuk mandi. Majikannya hanya mengizinkan Diah mandi sebulan sekali. Setelah diselidiki, Diah berangkat ke Jordania sebagai TKW nonprosedural alias ilegal.
Ibunda Diah, Prapti Utami, 53, menceritakan, dirinya sama sekali tidak tahu putri sulungnya tersebut mengadu nasib ke luar negeri. Sepengetahuannya, Diah hanya berujar bahwa dirinya ingin bekerja.
"Pokoknya pamit kerja (mau) mengubah nasib. Nggak tau, moro-moro (tiba-tiba) berangkat," ujarnya saat ditemui JawaPos.com di kediamannya, Jalan R E Martadinata gg 6 RT 15 RW 02, Kelurahan Kota Lama, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Selasa (12/2).
Saat itu kondisi ekonomi keluarga Diah memang sulit. Apalagi saat itu Prapti bersama sembilan anaknya harus berjuang menjalani hidup tanpa kepala keluarga. 40 hari sebelum Diah berangkat ke Jordania, ayahnya meninggal dunia karena sakit. Selang beberapa hari, giliran suami Diah yang meninggal dunia juga karena sakit.
Lantaran latar belakang itu, sebagai anak pertama, Diah memutuskan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. "Dia ninggal (berangkat mencari kerja) karena keadaan ekonomi. Memikirkan adiknya. Setelah 40 hari bapaknya meninggal, dia berangkat," imbuh Prapti.
Diah yang hanya mengenyam bangku SD kemudian berangkat mencari kerja 2006 lalu. Diduga Diah langsung berangkat ke Jordania. Setelah berangkat, pihak keluarga tidak pernah berkomunikasi atau mendengar kabar dari Diah. Bahkan Prapti juga tidak mengetahui ke mana dan bersama siapa Diah pergi.
"Sejak berangkat tidak ada kontak," kenangnya.
Menurut penuturan Prapti, Diah juga meninggalkan seorang anak perempuan yang kini sudah berusia 15 tahun. Selama kepergian Diah, Prapti sendiri sering sakit-sakitan. Sebagai seorang ibu, dia tak henti-hentinya memikirkan di mana keberadaan Diah.
"Saya nggak ngerti (keberadaan Diah). Saya sering sakit," terang wanita berkerudung itu.
Sementara itu, salah satu adik Diah, Windi Asriati, 27 menyampaikan hal yang sama. Bahkan, dia tidak tahu sama sekali terkait prosedur keberangkatan Diah.
"Saya waktu itu masih kelas 2 SMP. Tidak tahu sama sekali. Nggak tahu prosedur, proses, sama siapa, nggak tahu," ujarnya.
Windi menambahkan, pihak keluarga baru mengetahui kabar Diah setelah mendapat kabar dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).
"Desember 2018 dikabari KBRI. Saya dapat kabar dari kelurahan," terang anak keenam dari sembilan bersaudara itu.
Secara prosedur, informasi tersebut disampaikan oleh KBRI kepada Pos Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (P4TKI) Regional Malang. Kemudian disampaikan ke Kelurahan, sebelum akhirnya diinformasikan ke pihak keluarga.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
