
GEREBEK SUDIRO: Ribuan warga memadati Gerebek Sudiro, Solo, Jawa Tengah (Jateng), Minggu (3/2).
JawaPos.com - Memasuki bulan Februari, kawasan Sudiroprajan, Jebres, Solo, Jawa Tengah tampak berbeda. Beragam hiasan terpasang di kawasan tersebut. Mulai dari lampion dan juga hiasan ikonik Imlek lainnya.
Memang tidak aneh jika hiasan tersebut menghiasi kawasan Sudiroprajan. Mengingat, kawasan ini menjadi kawasan pecinan terbesar di Kota Solo. Perpaduan antara keturunan Tionghoa dan Jawa sudah lama berbaur di kawasan tersebut.
Dari perpaduan inilah kemudian menghadirkan akulturasi budaya baru. Keharmonisan kehidupan masyarakat Jawa dan Tionghoa sangat terasa di wilayah ini. Keduanya saling melengkapi satu sama lainnya. Bahkan ikatan di masyarakat sangatlah erat. Keduanya saling menjaga satu sama lain. Dan isu perbedaan etnis pun tidak mempan digempurkan di kawasan ini.
Ikatan yang terjalin sejak puluhan tahun silam itu masih terjaga. Bahkan semakin erat setiap waktunya. Hingga akhirnya lahirnya sebuah tradisi yang menjadi akulturasi budaya baru yakni Gerebek Sudiro. Gelaran budaya ini menjadi rangkaian perayaan Imlek di Solo.
Gerebek diadakan beberapa hari sebelum puncak perayaan Imlek. Selain menghadirkan budaya Jawa, dalam gerebek ini juga menghadirkan budaya Tionghoa. Seperti pertunjukan kesenian Barongsai dan juga Liong. Kesenian ini begitu tumbuh subur di wilayah ini. Bahkan semakin hari, peminatnya juga semakin banyak.
"Event ini untuk memperlihatkan adanya akulturasi dua budaya yang ada di Sudiroprajan. Selain itu juga untuk memperlihatkan potensi wilayah," ungkap Henry Susanto salah satu tokoh masyarakat Sudiroprajan.
Kedamaian pun begitu dirasakan oleh warga Tionghoa yang sudah puluhan tahun tinggal di Solo. Salah satunya seperti yang diungkapkan oleh tokoh Tionghoa, Sumartono Hadinoto. Pria yang akrab disapa Martono ini menyampaikan, bahwa sebelumnya memang sempat mendapatkan perlakuan yang berbeda. Hal ini karena adanya perbedaan etnis. Akan tetapi, perlahan semuanya pun telah berubah.
"Sekarang sudah sangat nyaman berada di Solo, kalau dulu memang sempat ada diskriminasi. Isu-isu yang menyangkut etnis menjadi yang paling ditakuti," ungkapnya kepada JawaPos.com, Senin (4/2).
Seiring berjalannya waktu, Martono menyampaikan, perlakuan yang berbeda itu pun akhirnya hilang. Dan sekarang semua mendapatkan perlakuan yang sama. "Bahkan sekarang ini generasi muda juga sudah tidak lagi memandang mengenai latar belakang etnisnya. Semuanya berpadu dengan harmonisnya," ucapnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
