JawaPos Radar | Iklan Jitu

Tahun Babi Tanah, Alam Belum Bersahabat

03 Februari 2019, 19:32:51 WIB
Tahun Babi Tanah, Alam Belum Bersahabat
IMLEK: Kelenteng Tjen Ling Kiong Poncowinatan, Kota Jogjakarta, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) saat persiapan untuk sembahyang. (Ridho Hidayat/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Tahun Baru Imlek pada 2019 ini memasuki tahun Babi Tanah. Memiliki makna yang tidak terlalu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, hanya saja alam masih tak bersahabat dengan manusia.

"Kalau maknanya sama seperti tahun-tahun biasanya, sama saja. Hanya kalau untuk kesuburan masih belum, alam belum bersahabat," kata Margo Mulyo, pengurus dari Kelenteng Poncowinatan, kepada JawaPos.com, Minggu (3/2).

Pada tahun Babi Tanah ini, lanjutnya, masih akan ada peristiwa bencana. Untuk itu perlu menjadi kewaspadaan bagi masyarakat. "Bencana masih banyak," katanya.

Selain itu beberapa Shio juga harus lebih berhati-hati dalam menjalani langkah kehidupannya. Seperti pemilik Shio Babi, Ular, Kera, dan Macan. "Hanya untuk 4 Shio itu saja," ucapnya.

Dalam perayaan Imlek di Kelenteng Poncowinatan ini, sebatas digelar doa bersama pada Minggu (3/2). Selanjutnya warga keturunan Tionghoa yang merayakannya, lebih pada berkumpul dengan kerabatnya.

Terpisah, Humas dan Publikasi Panitia Pekan Budaya Tionghoa Jogjakarta 2019, Ng Liong Ho mengatakan, perayaan Imlek yang digelar oleh Jogja Chinese Art and Culture Centre (JCACC) atau Pusat Seni dan Budaya Tionghoa Jogjakarta tak berbeda jauh dengan tahun sebelumnya.

"Perayaan nanti akan dipusatkan di Kampoeng Ketandan dan untuk karnaval budaya di sepanjang Jalan Malioboro sampai dengan Alun-alun Utara," katanya.

Ia juga menjelaskan, Imlek berasal dari bahasa Hokkien yang merupakan salah satu bahasa daerah di Tiongkok bagian Tenggara. Im yang berarti bulan dan liek merupajan penanggalan.

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan dalam menyambut datangnya musim semi, waktu dimulainya bercocok tanam. Rakyat Tiongkok yang mayoritas berprofesi sebagai petani menyambut dengan gembira datangnya musim semi.

Itulah mengapa penanggalan bulan pada Imlek disebut juga Nong Li dalam bahasa Mandarin yang berarti penanggalan petani. Masyarakat Tiongkok, lanjutnya, merayakan tahun baru Imlek selama 15 hari dengan perayaan Cap Go Meh sebagai puncak atau akhir. Cap artinya sepuluh, sementara 'go' artinya 5, dan 'meh' berarti malam.

Dalam masyarakat Tiongkok juga dikenal adanya 'cap li shio' untuk melambangkan tahun. Terdapat 12 hewan untuk mewakili masing-masing 1 tahun dalam siklus 12 tahunan.

Selain itu, dikenal juga 5 elemen yaitu logam, air, kayu, api dan tanah. Setiap elemen muncul 2 tahun dalam siklus 12 tahunan shio. Sehingga dibutuhkan 60 tahun untuk kembali ke tahun dengan shio dan elemen yang sama. "Tahun 2019 jatuh pada tahun Babi tanah," ucapnya.

Editor           : Sari Hardiyanto
Reporter      : Ridho Hidayat

Alur Cerita Berita

1.000 Lilin Menyala di Wihara Dharmakirti 03 Februari 2019, 19:32:51 WIB
Imlek, 100 Burung Pipit Terjual Dalam Sehari 03 Februari 2019, 19:32:51 WIB
Warga Tionghoa Berharap Kerukunan Tetap Terjaga 03 Februari 2019, 19:32:51 WIB
Maha Vihara Duta Maitreya Sajikan Makanan Gratis 03 Februari 2019, 19:32:51 WIB
Barongsai Jadi Daya Tarik di Kelenteng Kong Miau 03 Februari 2019, 19:32:51 WIB
Meneropong Tahun Babi Tanah 2019 03 Februari 2019, 19:32:51 WIB
Eksistensi Suku Hokkian di Kota Malang 03 Februari 2019, 19:32:51 WIB
Wajib Ada, Ini Makna 5 Makanan Khas Imlek 03 Februari 2019, 19:32:51 WIB
Kue Keranjang, dan Rencana Bandara Baru 03 Februari 2019, 19:32:51 WIB
Selama Dikukus Tidak Dianjurkan Bicara 03 Februari 2019, 19:32:51 WIB
Selera Nusantara dalam Tionghoa 03 Februari 2019, 19:32:51 WIB
Tahun Babi Tanah, Alam Belum Bersahabat 03 Februari 2019, 19:32:51 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up